Tampilkan postingan dengan label Blogging & Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogging & Writing. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2020

MyTelkomsel Sahabat Pejuang Blog

Nge-blog itu buat saya bukan hanya hobi, tetapi juga bentuk aktualisasi diri dan media berkarya. Blog saya ini adalah saksi perjuangan saya dalam dunia tulis menulis. Sudah 5 tahun berjalan, blog telah mengalami metamorfosa dari tempat mencatat jurnal, kumpulan karya-karya saya di media cetak dan online, sekarang berkembang menjadi media untuk lomba-lomba menulis.

Gaya saya nge-blog berubah seiring gadget yang saya gunakan. Dulu saya menggunakan laptop, setahun terakhir ini saya menggunakan smartphone. Saya jadi bisa memanfaatkan waktu lebih efisien untuk nge-blog. Dengan smartphone produktivitas blog saya meningkat. Baik dari jumlah maupun kualitas konten, serta mendatangkan penghasilan baru.

Blog ku dalam layar smartphone
Prestasi dari nge-blog
Prestasi nge-blog bersama sahabat blogger

Saya terbiasa nge-blog dari Google chrome agar tampilan seperti mengunakan dekstop. Tapi resikonya, cara ini menyedot kuota lebih besar daripada aplikasi blogger atau Wordpress yang bisa diunduh di Android.

Untungnya, saya menggunakan Telkomsel. Jaringannya lancar di manapun lokasinya, urusan unggah foto dan video lancar, update blog lancar, sharing ke berbagai media sosial juga lancar. Namanya nge-blog, tidak jauh-jauh dari urusan mengunggah dan menyebarkan. Jadi memang butuh jaringan yang lancar.

Saya memilih paket Full Galaxy Plan, sesuai jenis smartphone saya. Saya sudah mencoba beberapa pilihan, dari harian, mingguan, bulanan dan 3 bulanan. Akhirnya saya paling nyaman berlangganan pada paket bulanan 2 Giga. Ini sesuai dengan kebutuhan saya untuk  nge-blog, browsing dan sosial media.

Saking asyiknya nge-blog, kadang-kadang saya tidak tahu kalau kuota mendadak habis. Maklum, saya agak malas kalau harus cek *363# untuk cek status. Dari perangkat smartphone juga bisa cek penggunaan data, namun tidak 100% akurat. Akhirnya saya mengunduh aplikasi MyTelkomsel.

Pengukur data oleh smartphone

MyTelkomsel adalah aplikasi yang diluncurkan Telkomsel untuk memberikan kemudahan akses layanan pelanggan yang menggunakan smartphone dan tablet. MyTelkomsel juga memberikan informasi profile pelanggan, memudahkan isi ulang pulsa,dan pembelian paket layanan Telkomsel lainnya.

My Telkomsel memberikan banyak kemudahan.  Misalnya  berbagi pulsa, mengirim paket data, cek tagihan kartu Halo, sampai mengisi paket internet di tablet yang tak punya fitur telepon.

Nah, apa saja fitur My Telkomsel bisa dilihat pada gambar berikut.

Yang paling penting buat saya adalah memberi informasi status paket internet. Tidak perlu pencet *363# dan mengikuti alurnya. Saya cukup membuka aplikasi My Telkomsel dan akan bisa melihat informasi ini. Saya juga bisa melihat informasi paket data yang ditawarkan Telkomsel. Informasi ini up to date loh, termasuk jika ada penawaran yang menarik.

Lebih banyak lagi tentang fitur My Telkomsel bisa untuk isi ulang pulsa, transfer pulsa, transfer quota,  flash gift, multi sim control, rekomendasi paket data, pengukur kecepatan jaringan hingga bayar tagihan kartu Halo.

Urusan transfer mentransfer ini sangat membantu. Misalnya, jika ada sahabat blogger yang mendadak kehabisan quota, padahal deadline tulisan harus posting segera, maka bisa saling kontak dan menggunakan fitur layanan transfer ini. Pilihan jumlah pulsa yang akan ditransfer sudah tersedia. Kurang dari satu menit, pulsa sudah berpindah ke nomor lain.

Buat saya pribadi, pantang smartphone kehabisan pulsa atau kuota. Karena itu saya harus sering-sering cek. Nggak mau kan, terlewat suatu lomba hanya karena kuota internet habis dan kita "mati gaya" nggak bisa membuat blog post apapun. Apalagi kalau persyaratan lomba cukup banyak, misalnya harus email, mention twitter atau share facebook. Sebagai pejuang blog, senjata utama saya adalah kecukupan kuota dan kelancaran internet provider.

Nah, kalau pulsa dan kuota habis, cara isi ulang dengan My Telkomsel ini sangat memudahkan. Tidak perlu kirim sms ke nomor *888#. Cukup buka aplikasi My Telkomsel, pilih isi pulsa dan isikan nomor kartu.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam video berikut tentang tutorial My Telkomsel pada link berikut http://www.youtube.com/watch?v=RAx_GIVwQwU

Dalam setiap perlombaan blog, di situlah saya mengerahkan segenap kemampuan nge-blog. Konsep yang matang, keunikan ide, orisinalitas konten dan foto, menjadi penentu kemenangan. Setelah semuanya siap, selanjutnya bagian My Telkomsel yang menentukan sebuah karya blog dapat diunggah tepat waktu.My Telkomsel adalah sahabat pejuang blog seperti saya. Kemudahan yang ditawarkan oleh fitur-fitur My Telkomsel membuat ngeblog semakin lancar. Harapannya adalah blog kian produktif menghasilkan karya-karya.

*Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Nge-Blog Asyik bersama My Telkomsel

Dan menjadi juara 1

Senin, 31 Agustus 2020

Pilih, Pikir, Publish !

[Catatan Contestmania]

Lomba-lomba weblog kian marak. Apalagi kuis di sosial media.

Hadiahnya menggiurkan, pesertanya bejibun, tantangannya beraneka.

Menang-kalah, senang-kecewa menjadi kalimat-kalimat yang berseliweran di facebook para pemburu lomba.

Anda suka mengikuti kuis dan lomba?

Saya sampaikan "SELAMAT ! "

Baru menjadi peserta saja, berarti anda sudah tergolong orang yang percaya diri dan mempunyai kreativitas. Keren kan? Apalagi kalau bisa menang, wuih...Bukan hanya dielu-elukan oleh pesaing maupun penggemar, anda juga akan mendapatkan hadiah. (Hm, masih jujur kan bahwa motivasi utama mengikuti lomba adalah mengharapkan hadiah? Kenapa tidak? Sah kok!)

Jadi, jangan surut oleh apapun komentar orang tentang pemburu lomba.

Orang mengira, saya nggak bakal membagi tips atau apapun terkait gaya berlomba karena takut saingan saya tambah banyak.  Tidak seperti itu.  Bagi saya lomba hanyalah hobi, bukan profesi.  Ketagihan iya, tapi sadar suatu saat akan tiba masa harus pensiun.  Jadi, buat apa menyimpan ilmu. Saya meyakini, berbagi ilmu itu seperti berbagi rejeki. Semakin dibagikan semakin banyak kita mendapatkan "kembalian" nya.

Setiap orang mempunyai style lomba yang belum tentu sama.  Sebagai pemula, saya dulu banyak belajar dari lingkungan dan sahabat.  Sekarang, setelah merasakan beberapa kali menang, saya sudah dianggap ratu kontes oleh teman-teman dekat. Alamaak...sebenarnya merasa belum pantas. Tapi ya sudahlah, daripada jadi Ratu sejagad, tambah nggak pantas kan?

Baiklah, berikut sedikit cerita tentang karakter saya dalam berlomba.  Bukan tips memenangkan lomba loh ya. Saya belum dapat merumuskan tips memenangkan lomba, kalau sudah dapat tentunya saya bakal menang terus. Nyatanya tidak. Saya pernah kalah, sering malah.

(1). PERHATIKAN TEMA

Pertama kali membaca informasi lomba, mata saya akan tertumpu pada 3 hal penting: Tema, Deadline dan Hadiahnya. Mengapa tema penting? Buat saya, tidak akan mengikuti lomba yang tema nya tidak sesuai dengan karakter saya.

Soal tema ini lebih saya pertimbangkan daripada besaran hadiah.  Hadiah kecilpun, asalkan visi misi sponsor masih bisa saya terima dan tema lomba saya sukai dan kuasai, ayo saja digarap.

Hadiah besar, kalau yang mengadakan produsen rokok, atau produsen minuman keras, jelas saya tidak akan mengikutinya.

Bagaimana dengan susu formula? Saya mau mengikuti lomba yang disponsori susu components asalkan tema tidak bertentangan dengan kampanye ASI, bahwa susu system untuk konsumsi anak setelah periode ASI ekslusif.

(2). PERHATIKAN SYARAT DAN KETENTUAN

Ada loh lomba yang hadiahnya tidak seberapa, tapi syaratnya banyak. Harus comply with twitter beberapa akun, registrasi berulang kali, beli produk ini itu, pakai struk pembelian dengan periode tertentu dan syarat lain yang aduhai.

Nah, kalau saya lebih memilih lomba yang syaratnya tidak ribet, syukur-syukur kalau hadiahnya besar :)

Intinya: dalam memilih lomba saya pikir ulang, ini lomba memberatkan tidak? Merugikan tidak? Peluang menang seberapa? Seberapa banyak tenaga harus dikeluarkan? Dan seberapa tebal muka harus disiapkan? Hihihi

(three). CARI IDE UNIK.

Dari tema,kemudian saya mencari ide yg unik. Cerita satu hal, cakupan sempit tapi dalam ulasannya. Tapi kadang-kadang saya tergoda menulis juga secara komperhensif, panjang dan lebar, saya tandai justru sering kalah.

(4) MATANGKAN KONSEP

Karena kesempatan menulis saya sangat terbatas, saya tidak menulis setiap hari atau terus-terusan. Proses menulisnya begini, sejak tahu soal tema dan merencanakan  mengikuti sebuah lomba, maka sepanjang ada kesempatan saya berpikir dan berpikir. Yaitu memikirkan konsep atau rancangan seperti apa tulisan nanti saya sajikan. Ide yang unik tertuang dalam pembukaan yang menarik, alur yang unik, sudut pandang yang unik,  dan penyajian yang menarik. Karena proses berpikir sudah lama, konsep semakin matang, pas ada kesempatan menulis biasanya hanya butuh waktu 1-2 jam mengetik. Bahkan bisa sambil bepergian saat weekend bersama keluarga, anak-anak bermain sementara saya nge-blog.  Jadi lebih panjang waktu yang dibutuhkan untuk memikirkan konsep daripada menulisnya.

(five). LENGKAPI INFO DAN FOTO

Oiya, sambil memikirkan konsep, saya juga menyiapkan foto-foto yang menunjang. Saya berusaha mengurangi pinjam foto dari internet.  Bagusnya, setiap ada kesempatan berfoto karena tidak mudah mendapatkan foto yang bagus secara mendadak. Misalnya, saat jalan-jalan secara tidak sengaja menemukan obyek bagus untuk difoto. Foto pun butuh konsep juga loh agar pesan yang disampaikan efektif.

Saat saya mngikuti lomba weblog jamu (lihat di sini) saya sengaja membuat listnya, yaitu foto jamu, foto mba jamu, foto toko cutting-edge, foto jamu di acara resmi, foto jamu di mal dll. Atau untuk lomba Acer, walaupun ingin tampil lucu, tapi foto-fotonya saya konsep juga. Blog Acer bisa dilihat di sini. Semua masuk dalam proses berpikir tadi.

(6) BACA ULANG DAN EDITING.

Begitu sudah selesai menulis, saya membaca ulang tulisan saya berkali-kali. Sambil mengedit EYD yang masih ada saja salahnya (maklum, ngetik dengan touchscreen sering salah pencet huruf).  Saya juga merasa-rasakan tulisan sendiri, kita-kira terkesan lebay nggak? Sok tau nggak? Sok idealis nggak? Masuk akal nggak? Dan sebagainya.

Editing EYD seperlunya dan sebisanya. Hehe.. Dan yg penting editing konten, artinya materi yang kita ragu bisa mempertanggungjawabkan sebaiknya dihilangkan saja.  Saya juga menghindari kalimat curhat berkepanjangan. Jadi to the point biar juri tidak capek bacanya.

Setiap juri beda selera.  Kadang keputusan juri belum mutlak, masih ada juri dari pihak sponsor yang sangat menentukan. Seleranya mungkin beda dengan selera kita-kita.  Nah, tentang tips memikat juri kompasiana pernah saya ulas di sini.

Demikian, sekian dulu. Saya mau menulis untuk lomba-lomba berikutnya.

[Srikandi Blogger 2014] Internet dalam Pendewasaanku

Menurut saya, net dan kaitannya dengan humanisme lebih tepat disebut sebagai dunia virtual, ketimbang dunia maya. Pasalnya, pemanfaatan, interaksi dan dampak dari internet nyata adanya bagi kehidupan manusia saat ini.

Saya intensif menggunakan internet dalam 5 tahun terakhir seiring kemudahan jaringan dan gadget yang mendukung. Mengenal net satu paket dengan dampak yang ditimbulkannya. Tidak semua hal bisa dipandang dalam kacamata hitam atau putih. Karena hidup ini penuh warna, tergantung kacamata mana yang kita gunakan. Saya memilih kacamata pelangi, berharap bisa memandang suatu hal dari sudut pandang yang indah.

Internet lebih dari sekedar alat bekerja, pencari tahu, penyebar informasi, bisnis, hiburan dan bersosial. Internet bagi saya sangat berperan dalam proses pendewasaan.

Kita bukan lagi individu-individu yang terpisah jarak. Interaksi semakin luas. Dari keluarga dekat, sahabat, hingga kenalan baru. Bahkan kita bisa berinteraksi dengan tokoh-tokoh masyarakat ataupun selebriti dengan media net. Sebut saja media interaksi yang sekarang ini banyak dipakai orang yang sifatnya terbuka: fb, twitter, google , media online, dan blog.

Internet bagaikan ruang terbuka dimana siapapun bisa berpendapat tentang apapun. Menghargai perbedaan dan bertolerasi tidak selalu mudah . Banyak kita lihat adanya perang status facebook, nyindir melalui twitter, nyinyir di blog atau surat terbuka di media online. Tak sedikit yang kemudian menimbulkan pro-kontra. Ada pro-kontra Jokowi, pro-kontra poligami, pro-kontra imunisasi, pro-kontra pemimpin perempuan, pro-kontra perempuan bekerja, dan banyak-banyak-banyak lagi.

Lantas terbentuk kelompok-kelompok. Padahal dalam dunia digital yang luas ini, interaksi kita dengan seseorang tidak terbatasi oleh satu kepentingan saja. Misalnya, kita bertentangan dengan seseorang dalam satu urusan, sementara dalam urusan lain kita justru perlu berkolaborasi dengannya. Demikianlah, sehingga saya belajar bagaimana tetap menghargai mereka yang memiliki sudut pandang berbeda.

Blog sebagai media terbuka yang kian dipercaya oleh pengguna internet, juga mengambil peran sangat besar dalam proses pendewasaan saya. Dalam wadah Kumpulan Emak Blogger saya banyak belajar dan berinteraksi dengan blogger lain.

Blog lebih dari sekedar rumah bagi blogger, blog tak lain adalah diri blogger itu sendiri.

- Menulis di blog berarti berbicara.

- Menulis untuk diri sendiri berarti berbicara pada diri sendiri.

- Menulis dan berbagi hyperlink berarti bicara untuk umum.

- Blogwalking berarti bertetangga.

- Dan berkomentar berarti bertegur sapa.

Seperti itulah saya menggambarkan arti sebuah blog.

Banyak pilihan, sifat dan kepentingan yang menentukan karakter blog. Saat ada pendapat berbeda, sebisa mungkin saya menahan emosi dan berpikir matang.

Apakah perlu menuliskan klarifikasi atau pendapat balasan? Efektifkah?

Ataukah hanya perlu diam dan melupakan, kemudian menjalankan pilihan masing-masing?

Di sinilah proses pendewasaan terjadi.

Apapun langkah yang akan saya ambil, sopan adalah identitas penting.

Pemilihan kata yang pedas, nyinyir, nyindir atau arogan, justru akan menjatuhkan harga diri sendiri. Saya harus ingat, bahwa pembaca weblog saya sangat luas, bukan hanya satu orang atau kelompok yang saya tuju.

Terus terang, saya bukan jago debat dan merasa kurang berilmu, sehingga saya enggan menulis sesuatu yang sifatnya kontroversial. Namun begitu saya malah mengagumi teman-teman yang berpendapat tentang sesuatu. Di sinilah perlunya kacamata pelangi. Mencoba menghargai perbedaan. Satu dalam karya, satu dalam cinta. Blog adalah karya, dan saling menghargai adalah wujud dari cinta.

Srikandi Blogger

Follow @Emak2Blogger yuuuk !

Like juga Fanpage Kumpulan Emak2 Blogger

Minggu, 30 Agustus 2020

My Blog : Membangun Budaya Berprestasi

Hobi menulis yang saya geluti hingga saat ini berkembang sejak 2006. Saat itu saya menulis untuk media, terutama tentang parenting. Kemudian 2007 saya mulai mengikuti lomba-lomba menulis, prioritasnya tentang perempuan dan keluarga. Masa itu, lomba-lomba masih menggunakan pos atau email. Saya ketagihan merasakan sensasi berkompetisi, tidak peduli menang ataupun kalah.

Jadi ketika saya mengenal blog tahun 2008, saya menemukan media untuk mendokumentasikan prestasi. Baik tulisan media maupun lomba. Beberapa tahun terakhir ini lomba mulai melirik media blog. Tren ini bersambut dengan kesukaan saya mengikuti lomba.Maka lomba-lomba blog satu persatu saya ikuti.

Awalnya blog juga saya isi dengan foto dan cerita seputar keluarga. Lalu saya menyadari kalau tidak semua cerita dan foto keluarga pantas untuk dipasang di blog. Sekarang saya memilih memisahkan antara tulisan umum dengan semi-pribadi.

Pada blog www.Asacinta.Blogspot.Com pembaca akan melihat deretan cerita, opini, artikel yang saya tulis untuk media cetak dan on line, serta untuk lomba. Tak heran jika kemudian weblog asacinta sebagian memuat kampanye dan pesan sponsor. Sejauh itu bermuatan positif mengapa tidak?

Blogger telah diperhitungkan sebagai jurnalis warga. Taraf kepercayaan pembaca terhadap blogger meningkat. Blogger menjadi perpanjangan kampanye dan promosi dalam bentuk assessment, reportase dan lomba blog. Bagi saya lomba blog juga menjadi media untuk menyampaikan opini dan harapan pada suatu instansi. Saya bangga telah berpartisipasi. Pada situasi biasa, tidak selalu mudah melakukan hal itu.

Melalui weblog saya membangun budaya berprestasi. Blog buat saya sebagai sarana menyimpan jejak karya dan berbagi inspirasi. Saya bangga nge-weblog untuk lomba. Bukan sekedar soal mengejar hadiah, lebih dari itu,lomba mampu menyebarkan semangat positif. Karena mereka yang berani berkompetisi artinya telah mengalahkan rasa minder. Lomba membangun percaya diri, semangat, sportivitas, dan kemauan belajar. Manfaat baik dalam sebuah lomba adalah pendewasaan diri, bagaimana kita mampu bersahabat dengan pesaing, belajar menerima kekalahan dan meredam kesombongan saat menang.

Hobi mengikuti lomba ini merupakan hobi unik yang mampu memberdayakan perempuan. Buktinya, dengan membawa bendera komunitas penggemar lomba, saya menjadi 15 finalis countrywide ladies network 2013 yang diadakan surat kabar Jawa Pos. Ini adalah bentuk pengakuan positif bagi kami para penggemar lomba.

Blog saya yang lain, namun jarang saya sebarkan adalah www.Rumahasacinta.Blogspot.Com. Pada weblog ini pembaca akan menemukan sisi saya sebagai ibu dua anak. Tulisan lebih simpel dan spontan. Sebagian besar tentang pengasuhan anak. Hanya sesekali ikut lomba yang bertema khusus tentang parenting.

Tahun ini adalah tahun kedua saya bergabung dengan Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Manfaatnya sangat baik, saya jadi mengenal indahnya persahabatan sesama blogger. Saling berbagi ilmu, berbagi information, menambah jaringan dan jadi tahu pentingnya blogwalking. Pengunjung weblog pun meningkat drastis, jika tahun lalu sekitar 60-a hundred in keeping with hari, tahun ini rata-rata adalah 150-2 hundred pengunjung in keeping with hari. Fokus running a blog saya masih pada konten tulisan, perlahan saya belajar design.

Sebagai pegawai negeri sipil di Institut Pertanian Bogor, saya otomatis memiliki weblog yang terkoneksi dengan situs IPB. Blog www.Murtiyarini.Team of workers.Ipb.Ac.Identity lebih bersifat formal. Blog tersebut saya isi dengan suggestions-pointers menulis, cerita seputar kampus dan hal-hal umum juga.

Ini adalah tahun kedua saya mengikuti Srikandi Blogger. Saya terpanggil mengikuti Srikandi Blogger 2014 karena ini juga sebuah bentuk kompetisi. Harapan lain, saya bisa berpartisipasi dalam niat baik ajang Srikandi blogger, yaitu mewadahi berbagai blogger dengan karakter, pekerjaan, hobi dan pandangan yang berbeda, namun tetap dalam semangat persahabatan dan saling menghargai.

(Tulisan ini dibuat sebagai resume seleksi tahap I Srikandi Blogger 2014, dan mengantarkan saya pada Finalis 50 Besar Srikandi Blogger 2014)

Suka ikut Lomba Blog??? Pede aja lagi.... :)

[Srikandi Blogger 2014] Dukungan Sahabat

Surprise..! Dapat kiriman video plus popularity panjang dari seorang teman nun jauh di ujung dunia, Jihan.

21 Februari 2014

Jihan Davincka

"Every Little (Good) Thing You Do is Magic"

Mungkin itu adalah salah satu pesan penting yang saya bawa sampai sekarang mengenai pertemanan di dunia maya dengan salah satu dari ?#?10finalisSrikandiBlogger2014?, Mak Arin- Murtiyarini.

Perhelatan akbar tahunan dari "Kumpulan Emak-emak Blogger" dgelar kembali di tahun 2014 . 10 Finalis telah terpilih.

***

Menerbitkan buku secara indie di 2012, "Bunda of Arabia", stresnya ternyata bukan hanya saat menyusun isinya. Bahkan, puncaknya justru pada saat penjualan. Nyut-nyutan abis, deh, hahaha .

Saat sukses menjual 800 eksemplar cetakan pertama, tetap nekat (meski lebih ke arah emosional) ketika kembali mencetak 800 eksemplar di cetakan ke-2 . Penjualan padat merayap. Hingga akhirnya bosan sendiri.

Suami bilang, "Posting dong di grup-grup ibu-ibu yang kamu ikuti." Saya ogah-ogahan. Setengah mati saya inbox satu persatu teman-teman di FB yang hanya kenal dari dunia maya saja yang merespons hanya seujung kuku hehehe. Apalagi kalau cuma tahu-tahu datang pasang iklan di grup .

Ya sudahlah. Sudah putus asa juga. Semangat sudah menguap. Saya berandai-andai pagi itu, kalau saya posting dan ada yang merespons, mungkin itu tanda bahwa "Masih ada harapan" . Saya posting di salah satu grup yang juga ada Mak Arin di dalamnya. Waktu itu Mak Arin masih menjadi salah satu 'guru' dan turut membagi pointers mengenai menembus media cetak .

Tips-tipsnya memang joss dan enggak pakai basa basi. Segala alamat media, tata cara sampai sedetil-detilnya selalu dibagi tiap minggu. Wajar, Mak Arin menjadi salah satu 'seleb' dan 'cikgu penting' di sana hehe.

Setelah saya posting, beneran lho, tak lama ada inbox masuk. Kaget sekali. Dari Mak Arin, enggak pakai basa basi, "Saya tertarik membeli bukunya. Transfer ke mana, ya?"

Waduh, jangan ditanya senangnya. Surprise banget. Kenal enggak kok tahu-tahu mau beli bukunya, ya. Padahal Mak Arin juga bukan tipe orang yang gampang kasihan dan sering berbasa basi . Itu menurut saya pribadi ya, Mak Arin. Jangan tersinggung hihihi.

Semangat langsung bangkit lagi. Seminggu penuh, padahal sudah inbox membabi buta , daftar pembeli masih kosong! Tentu menjadi geer tiada terkira saat sang "Ratu Media" (yang belakangan juga sukses menjadi "Ratu Kontes" :P) tiba-tiba tertarik dengan buku indie saya.

Padahal mungkin Mak Arin enggak ada niat sok-sok jadi pahlawan hehe. Buatnya, ya biasa-biasa saja. Kebetulan tertarik dan mau beli. Untuknya, hal ini seperti percikan api kecil yang mungkin tak terlalu bermakna. Sementara saya melihatnya bagai kembang api berhamburan di udara hahahahaha.

Like I've stated, "Every llittle (proper) aspect you do is magic" .

Ya namanya lagi putus asa . Langit mendadak kelam. Matahari sudah terbenam. Kita sering menangisi matahari yang menghilang dan tidak sadar jika airmata menghalangi pandangan kita untuk bersaksi akan indahnya bintang-bintang di angkasa malam .

Mungkin, terlalu susah bagi kita untuk bertingkah seperti Sang Surya. Seorang diri memancarkan begitu banyak kebaikan ke seluruh penjuru bumi. Hanya memberi tak harap kembali pula. Berat, bukan? Hihihi .

Namun, menurut orang bijak, "Mustahil menjadi orang yang sempurna. Tapi ada jutaan cara untuk menjadi orang yang baik" .

Tidak harus menjadi mentari . Cukup menjadi salah satu bintang-bintang kecil yang pastinya akan selalu mendapat tempat di seluruh penjuru langit .

Walau tak ada jaminan juga, sekerlip kecil bintang pasti akan mendapatkan penghargaan yang semestinya. But ... "The top you do nowadays, humans will frequently forget day after today; Do top besides!" .

People regularly forget. But I did no longer hehehe.

Good good fortune, Mak Arin .

Enjoy the video .

Kumpulan Emak2 Blogger adalah wadah persatuan dari perempuan-perempuan Indonesia yang doyan ngeblog . Entah anda adalah perempuan kantoran, perempuan yang bekerja dari rumah, perempuan yang dijuluki ibu rumah tangga, perempuan yang pakai ART maupun tidak hihihihi, semuanya ADA dan berbagi cerita .

Selamat juga kepada nine finalis yang lainnya. Teruslah menebarkan inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif. Sesuai tag kami, "Kami ada untuk berbagi" .

Https://www.Youtube.Com/watch?V=BTt0XhEpUxY


Sabtu, 29 Agustus 2020

[Srikandi Blogger 2014] Mewujudkan Satu dalam Karya, Satu dalam Cinta

Terhitung pada tahun 2011, jumlah blogger Indonesia sebanyak five.270.658 (i)

dan dari jumlah itu hanya sepertiganya blogger perempuan (ii).

Umumnya, perempuan merasa gagap teknologi, menganggap menulis konten harus sesuatu yang ?Berat?, dan kurangnya kesempatannya untuk menggunakan machine karena berbagai kesibukan.

Kabar baiknya, 33% dari overall blogger perempuan telah dikaruniai anak (iii).

Tuh kan, walaupun repot dengan urusan keluarga, ternyata emak-emak tetap gigih untuk bisa nge-weblog. Hebat kan?

Saya melihat sinergisme antara manfaat weblog dengan potensi perempuan. Blog bermanfaat sangat besar bagi peradaban manusia era sekarang dan mendatang. Di sisi lain, potensi perempuan sangat besar. Daya pikir, ide dan kreatifitasnya tidak kalah dari pria. Perempuan punya kekuatan dalam kelembutannya, manajemen waktu, ketekunan dan ekstra kesabaran, serta mempunyai kepekaan tinggi akan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Maka sudah sangat tepat apabila perempuan memilih weblog sebagai sarana juangnya di era digital ini.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyemangati para perempuan untuk lebih ?Percaya diri? Ngeblog.

“Malas ah berurusan dengan template, gadget/widget, link, banner, html dan perangkat blog lainnya.” Cukup sering saya mendengar keluhan yang intinya kira-kira seperti itu.

Sssst, jangan dikira weblog saya ini serumit yang dikira. Saya pake template easy dan heritage yang disediakan blogspot. Tinggal tambah foto header, pasang machine sesuai keinginan di aspect bar kanan, perbanyak posting. Dan taraaa! Jadilah weblog saya yang cukup cantik ini.

Terlepas dari kemampuan teknis dan desain weblog yang pas-pasan, saya beranikan diri untuk menyemangati teman-teman disekitar saya untuk membuat weblog.

Tenang saja, soal educational weblog sudah banyak beredar di google.Com . Tinggal ketik di kotak pencarian tentang kesulitan yang ditemui, hampir selalu ada jawabanya kok. Menurut saya kendala pertama adalah keengganan untuk memulai dan mencari tahu. Nah, ini biasanya menjadi virus pada semua kegiatan ya, malas memulai. Padahal, percaya deh, sekalinya kita mencoba membuat satu postingan, seterusnya akan ketagihan.

Nah, setelah bisa nge-weblog, jangan lupa percentage (berbagi) hyperlink.

“Ah, tapi kan kamu jago lomba dan sering dimuat di media, tulisanmu bagus, blognya bagus buat di-share. ” Banyak yang bilang begitu.

Hm, terimakasih pujiannya. :)

Soal lomba dan tulisan di media itu hanya soal keunikan weblog saja. Kebetulan memang saya membuat blog tujuannya untuk rekam jejak karya. Tetapi, bukan berarti semua weblog harus seperti weblog saya. Sejujurnya, di balik pujian, juga ada celaan. Semua berperan dalam proses pendewasaan. Tapi saya tetap melangkah dan berkarya seperti inilah jati diri saya.

Sekali lagi, hanya soal karakteristik weblog. Percaya diri adalah kuncinya. Tulisan kita, resep kita, foto kita, curhat kita, catatan academic kita, adalah rekam karya kita. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri, dan bonusnya, tanpa kita selalu tahu, blog kita bisa jadi sangat bermanfaat untuk orang lain.

Kenapa harus minder, kalau kita bisa saling menghargai.

Kenapa harus takut, kalau kita bisa saling membantu, belajar bersama-sama.

Dulu saya membuat weblog untuk dibaca-baca sendiri. Sampai saya kenal Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) pada tahun 2012. Dalam KEB saya merasa leluasa untuk berbagi weblog, karena semua anggotanya perempuan, sangat sesuai dengan ranah tulisan saya.

Dan di sinilah sekarang saya berada, menjadi satu dari 10 Finalis Srikandi Blogger 2014.

Seperti kita tahu, Srikandi adalah seorang perempuan tokoh pewayangan yang dikenal sebagai pejuang tangguh, cerdas, dan cermat membidikkan anak panah. Jadi, Srikandi Blogger menurut saya adalah seorang blogger perempuan yang mempunyai semangat juang, cerdas, berkarakter kuat, dan berpengetahuan luas. Srikandi blogger juga harus mampu menjadikan blognya sebagai anak panah yang dilepaskan dari kejauhan dan tepat mengenai sasaran. Itu adalah perumpamaan, bahwa keberhasilan pesan yang saya tulis terukur oleh seberapa luas menjangkau pembaca dan seberapa kuat bisa menularkan semangat nge-blog.

Saya mengikuti tahapan demi tahapan seleksi Srikandi Blogger 2014 DENGAN KESADARAN, tanpa paksaan, tanpa keraguan.

Seandainya saya terpilih menjadi Srikandi Blogger, beberapa hal yang akan saya lakukan terkait gelar ini adalah :

  1. Menjalankan peran sebagai Srikandi Blogger 2014 dengan mendukung aktif visi, misi dan kegiatan KEB baik on line maupun off line, dengan tetap menyelaraskan pada kegiatan saya dalam keluarga dan institusi tempat bekerja saat ini.
  2. Bersama KEB, menyebarkan semangat dan memotivasi lebih banyak orang (perempuan) agar aktif ngeblog karena “Nge-blog itu mudah, siapapun boleh nge-blog.”
  3. Mengkampanyekan tagline Srikandi Blogger: satu dalam karya, satu dalam cinta. Berkarya lewat blog sesuai kemampuan dan keinginan masing-masing, meningkatkan percaya diri dan menghargai satu sama lain dalam keragaman karya.
  4. Konsisten menulis konten positif, karena sadar sebagai Srikandi Blogger akan menjadi sorotan, inspirasi dan (mungkin) panutan bagi blogger lain. Saya tetap bisa aktif berpendapat dengan tetap menghargai pilihan orang. Kita tidak bisa memaksa orang lain melakukan seperti yang kita lakukan, cara terbaik adalah dengan melakukannya sendiri. Bukan maksud jaim (jaga image) loh, melainkan sebuah usaha menjadi diri yang lebih baik.
  5. Tetap aktif nge-blog dan berkarya sesuai minat saat ini (menulis untuk media dan lomba), dan mengembangkan potensi sesuai perkembangan minat saya berikutnya. Terbukti, dengan mengusung blog seperti apa adanya diri saya, menonjolkan keunikan dan kelebihan blog, akhirnya mengantarkan saya pada tahap ini sekarang.

Dalam pelaksanaannya, saya membutuhkan dukungan dari KEB. Karena saya juga tidak luput dari keterbatasan.

Saya menyadari kelebihan dan kekurangan blog saya. Kedepannya akan saya perbaiki. Kadang kala datang kritik, dan komentar yang tak urung membuat hati ini ciut. Di balik itu, saya mendapatkan banyak dukungan. Ketika ada yang menyampaikan “tulisanmu inspiratif”, “thanks for sharing”, “ijin share ya” atau “ijin dimuat untuk bulletin”, maka saya pun kembali bersemangat.

Ah, mungkin terkesan sedemikian semangat. Atau emosional?

Tetap dengan segala kerendahan hati, saya adalah emak blogger yang membaur bersama sekian ribu emak-emak blogger yang lain. Siapapun yang nantinya akan mendapatkan mahkota Srikandi Blogger, saya akan mendukung sepenuhnya. Saya terbiasa berkompetisi dengan semangat, dan tak perlu menunggu lama untuk bisa legowo menerima hasil akhirnya.

Spirit Srikandi Blogger akan tetap dihati.

Srikandi Blogger

Sumberdata :

*) salingsilang.Com Juli 2011 dalam http://giewahyudi.Com/media-sosial-indonesia-dalam-statistik/

**) http://asmarie.Blogdetik.Com/2011/eleven/07/3-1-perbandingan-blogger-wanita-dan-pria-di-bloggernusantara/***) okezone.Com dalam http://sumber-informasikita.Blogspot.Com/2009/09/jumlah-blogger-wanita.Html)

Jumat, 28 Agustus 2020

Menjadi Penulis Betulan, kapan ya?

Walaupun dalam deskripsi blog di atas saya tulis "writer", sebenarnya saya merasa belum menjadi penulis betulan.

Apa sih maksudnya penulis betulan?

Deskripsinya agak susah ya, hingga sekarang saya belum bisa menemukan arti penulis betulan.

Contoh penulis betulan banyak, Dewi Dee Lestari, Andrea Hirata, Sita Karina, Fira Basuki, Alberthine Endah, Clara Ng dan lain-lain, mereka bisa dipastikan penulis betulan.

Eh, penulis best seller tepatnya. Sudah pasti kan, penulis best seller adalah penulis betulan.

Kalau penulis buku fiksi- non fiksi, tapi nggak best seller gimana?  Dalam definisi saya, mereka juga penulis betulan. Mau bukunya hanya bertahan 3 bulan di rak buku depan, mau bukunya dicetak indie, mau bukunya banyak tapi namanya belum dikenal karena tidak pernah best seller, buat saya mereka adalah penulis betulan.  Lebih bagus daripada saya yang masih menjadi writer wannabe. Dengan catatan, kalau acuannya pada buku yang telah ditulis.

Penulis cerpen atau artikel untuk koran dan majalah, sudah tergolong penulis betulan belum ya?

Saya tergolong kategori ini. Tapi karena frekuensinya tidak rutin, jadi saya merasa belum jadi penulis betulan.

Tapi saking inginnya menyandang kata "penulis" sebagai identitas saya, bolehlah kalau disebut penulis lepas atau freelancer. Golongan ini juga mencakup penulis lepas untuk konten web atau resensi.

Penulis cerpen atau artikel lepas (artinya tidak terikat ke satu penerbitan media), banyak yang sangat produktif. Namanya dikenal sebagai penulis di berbagai majalah. Setiap bulan mejeng di beberapa media. Keren banget !!

Lantas, redaktur media apakah juga disebut penulis ? Buat saya mereka juga penulis, yaitu penulis artikel. Atau kalau yang ditulis berita atau liputan, bisa disebut jurnalis. Profesi redaktur atau jurnalis ini sebenarnya cita-cita saya nomor satu. Lebih dari keinginan menulis buku.

Penulis  blog , kenapa tidak?

Saya sih berharap penulis yang suka menulis di blog juga masuk kategori penulis betulan.  Soalnya tulisannya tidak kalah bagus dengan penulis buku atau penulis media.  Blogger menulis spontan.  Sebagian dari mereka enggan melalui proses seleksi di penerbit atau media, mendingan langsung ditulis di blog dan dibaca banyak orang. Nggak butuh royalti kali ya? hihihi. Padahal kalau dihitung dari jumlah pengunjung blog, nggak sedikit yang tergolong best seller.

Tidak semua blogger penulis, tapi sebagian blogger penulis. Maksudnya, ada sebagian blogger foto, craft atau artwork.

Nah, saya juga tergolong penulis blog.  Beberapa teman mengatakan, kalau tulisan saya di blog dibukukan, sudah lebih dari satu buku bisa lahirkan.  Tapi saya juga tahu diri, penerbit mana yang mau menerbitkan tulisan campur-campur di blog saya ini?

Dahlan Iskan itu penulis atau menteri?

Salah satu tokoh masyarakat, dan juga pejabat, yang banyak menulis buku adalah Dahlan Iskan.  Beliau tergolong penulis atau menteri ya? Yang pasti buku-bukunya laris manis, dan banyak.

Itu contoh satu orang saja tokoh masyarakat yang menulis.  Kita lihat ada dokter menulis, ahli gizi menulis, peneliti menulis, psikolog menulis, guru menulis, budayawan menulis, dan sebagainya.  Mereka menulis berdasarkan kepakaran.  Dugaan saya, tujuan menulis juga bukan untuk best seller, melainkan untuk menyampaikan materi kepakarannya dalam bentuk buku. Tujuan mulianya agar bisa dibaca dan mendidik banyak orang.

Dalam hal ini, saya suka malu sendiri.  Saya menulis soal parenting, bisa! Walaupun bukan pakar ilmu keluarga. Menulis soal global warming, bisa ! Walaupun bukan saintis. Menulis soal kesehatan, bisa ! Padahal bukan dokter. Boleh ya??? Namanya juga belajar menulis alias writer wannabe. Toh informasi di internet sudah banyak dan mudah diakses.

Dengan alasan itulah saya belum berani membukukan tulisan-tulisan di blog (selain juga belum ada yang mau menerbitkannya).  Karena saya ingin menjadi penulis yang bertanggung jawab, artinya materi yang saya tulis adalah yang benar-benar saya pahami. Bukan sekedar copy paste informasi.

Sampai kapan saya jadi writer wannabe?

Menulis untuk media sudah pernah. Tapi saya masih merasa jadi writer wannabe.  Menulis untuk blog juga sudah pernah, sering malah. Tapi saya masih merasa jadi writer wannabe.  Menulis untuk buku, sudah pernah menulis. Tapi belum terbit, jadi masih writer wannabe juga.

Beberapa draft buku tersimpan di komputer pribadi.  Kapan mau diterbitkan? Hm, belum tahu.  Menunggu diterima penerbit? Sebenarnya enggak, buat saya cetak indie pun tak masalah. Tapi merasa belum "jadi" saja bukunya. Masih ada kurang ini - itu. Takut mengecewakan.

Dan kalaupun nanti buku saya sudah terbit, belum tentu saya berhenti merasa menjadi writer wannabe.

Tulisan ini menjadi salah satu dari 17 tulisan yang akan di bukukan oleh mozaic publisher

Rabu, 26 Agustus 2020

Pengalaman Live Talkshow Indonesia Morning Show NET TV

Surprise ketika Senin siang, 7 April 2014, saya mendapatkan telepon dari Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger. Intinya saya diminta hadir esok hari dalam acara stay Indonesian Morning Show, sebuah acara talkshow di NET TV. Wow, mendadak sekali.

Tanpa bersiapan berarti, Selasa (eight April 2014) saya berangkat subuh-subuh ke NET TV di kawasan Lingkar Mega Kuningan Jakarta. Semula saya kira hanya akan menjadi "penggembira" menemani Mira Sahid. Ternyata, dari KEB hanya ada bertiga, Mira Sahid, Indah Juli dan saya selaku Srikandi Blogger. Waduh, serius nih ? Saya tampil dong...???

Bismillah, setelah briefing sesaat dengan kru NET TV, mas Cahyo, kemudian kami di- touch up rias wajah sedikit biar secantik dan sekeren presenternya, dan kami diminta menuju studio. Saat itu acara Indonesia Morning Show tengah berlangsung. Acara ini mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Sesi talkshow ada di pertengahan acara. Sekitar pukul 08.00

Mau tau rasanya? Grogiiiiii.

Saya pikir saya sendiri yang grogi karena memang minim pengalaman berbicara di depan umum. Mak Mira Sahid dan Indah Juli saya yakin sudah lebih pengalaman. Ternyata, mereka berdua mengaku juga deg-degan. Baru kali ini menghadapi kamera dan stay. Sekali lagi, stay !

Tibalah giliran kami. Kru NET TV menghitung mundur, 10, 9, 8 , .....1 !

Adrian Maulana dan Shahnaz menyapa kami. Lalu mengobrol seperti biasa. Tanya jawab spontan seputar weblog, KEB dan Srikandi Blogger. Saya pun pasrah, menyerahkan diri untuk berani. Meniatkan tampil apa adanya saya. Toh saya bukan artis, hehehe...

Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Obrolan hanya berlangsung selama 14 menit.

Di luar studio kami disambut kembali dengan mas Cahyo "Wah, bagus bu, nggak kelihatan groginya seperti waktu briefing tadi. Semua mengalir lancar dan obrolan seru. Menarik sekali. Terimakasih untuk tampilan yang menarik tadi" demikian kata mas Cahyo pada kami.

Hggh...Legaaa sekali. Serasa ringan kaki ini melangkah. Saya pulang sambil senyum-senyum sendiri.

Sesaat saya buka fb, twitter dan bbm, ramai ucapan selamat dan konfirmasi dari para sahabat dan keluarga.

Sampai sehari sesudahnya saya tidak berani melihat rekam ulang tayangan tersebut di Youtube. Sekarang sudah punya keberanian. Terlihat saya sedikit grogi, tapi no longer terrible, lah..Hahaha..Harap maklum, bukan artis.

Terimakasih KEB dan NET TV atas pengalaman seru luar biasa ini.

Foto koleksi Mira Sahid

Sekilas tentang NET TV.

Saya menonton NET TV belum ada setahun terakhir. Saya langsung jatuh cinta pada acara Indonesia Morning Show. Presenternya pinter membawakan acara, santai, segar, juga karena berita-beritanya dipilih yang optimis dan bagus-bagus. Ini penting, karena terusterang, saya bosan dengan berita buruk tentang korupsi, kriminalitas dan kemiskinan. Rasa-rasanya jiwa kita jadi pesimis dan apatis.

Nah, di NET ini, berita sengaja dipilih yang baik-baik. Tentang prestasi anak bangsa, tentang semangat hidup (si miskin), tentang dedikasi pendidik di pedalaman, tentang wisata lokal...Indonesia banget deh. Kemasannya cutting-edge , tapi Indonesia. Emang Indonesia nggak boleh moderen? Emang Indonesia harus tradisional dan primitif ? Enggak juga kaaaan....

Untuk acara entertain information, yang biasanya di TV lain isinya gosip artis cerai, narkoba, berantem dll yang aduhai...Di NET ini no gossip! Berita seputar artis lebih banyak tentang kegiatannya dan prestasinya. Tapi nggak ngebosenin loh. Misal gini, berita tentang pengacara artis, yang diliput bukan soal kasus artisnya, tapi soal pengalaman dan profesionalisme mereka sebagai pengacara. Jadi belajar nggak nyinyir-nyinyir. Melihat sesuatu dari kebaikannya.

Sayang, belum seluruh wilayah Indonesia menerima sinyal NET TV. Mudah-mudah segera meluas jaringannya, banyak orang yang memilih NET TV karena NET TV menyajikan tontonan yang aman untuk keluarga.

Srikandi, Darimana Datangnya Inspirasi ?

Euforia Srikandi Blogger sepanjang bulan Maret membuat saya 'berdiam' cukup lama. Menjelang satu bulan berlalu baru saya bisa menuliskan apa dan bagaimana kegiatan Srikandi Blogger 2014.

Anda sudah pernah melihat video saya untuk final Srikandi Blogger ? Di situ ada Cinta, anak saya, sebagai narator. Rupanya, narasi Cinta cukup menarik perhatian. Adanya anak-anak dalam video itu mewakili diri saya bahwa saya sangat 'family minded'.

" Murtiyarini itu mamaku, dia seorang srikandi blogger. Mama suka menulis untuk media dan menang lomba. Kata Mama, inspirasinya adalah aku. Sekarang Mama menjadi inspirasi banyak orang. Aku ingin seperti Mama, berkarya, berbagi, menginspirasi" demikian narasi Cinta. Tentunya saya yang memilihkan kata-katanya hehehe...

Ya, anak-anak adalah inspirasi terbesar bagi saya. Saya aktif menulis sejak anak lahir. Topiknya nggak jauh-jauh dari mereka. Lebih luas lagi topiknya adalah keluarga. Ke sininya, saya menulis untuk mereka. Keluarga senang kalau saya menulis lantas ada 'efek samping' yang bermanfaat bagi mereka. Misalnya, rekreasi dari menulis, diundang ke sebuah acara dari menulis, atau ke acara Srikandi Blogger ini dari menulis juga. Cinta terutama yang paling menikmati. Mulai dari persiapan kostum, bikin video, melihat saya didandani, jalan-jalan keliling museum, dan detik demi detik acara, Cinta menikmati itu. Saya melihat keinginannya untuk "capture the instant".

Inspirasi bisa datang darimana saja. Bahkan dari hal-hal yang tidak kita sukai. Inspirasi yang kita sukai membuat saya ingin mengikutinya. Sebaliknya, inspirasi dari hal yang tidak disukai membuat saya berpikir bagaimana menghindari hal tersebut.

Ada banyak sekali inspirasi dalam Kumpulan Emak Blogger. Berapa yang saya sebutkan disini hanya sebagian kecil diantaranya.

Saya terinspirasi dari kelembutan mak Ida Nur Laila. Senyumnya adem, suaranya enak, dan ngemong.  Beneran, suwer :)

Saya terinspirasi dari mak Fadlun Arifin, yang orang baiiik dan ramaaaah banget ke semua orang. Setiap orang diajakin foto berdua. Mak Fadlun ini selalu ceria dan membuat siapapun yang melihatnya jadi ikut ceria. Pengen bisa sepertimu mak, pengen bisa selalu tersenyum.

Saya terinspirasi dari mak Mira Sahid, yang aktif, tampilannya modis, luwes, dan supel. Aduh, malu ingat diri sendiri yang suka grogi kalau ketemu orang *jujur*

Saya terinspirasi dari mak Mia yang nama blognya Kacamata Mia. Blognya ditulis dalam bahasa Inggris, buat saya itu keren banget. Jadi terinspirasi, tahun ini pengen intensif kursus bahasa Inggris. Masa kalah sama anak saya yang masih SD.

Saya terinspirasi dari teman yang berani berpendapat dan bersilat jari di dunia maya. Status panjangnya cetar membahana dan dia telaten banget berbalas pantun (hihihi, balas komentar maksudnya). Jadi malu, saya nggak berani karena kurang isi. Harus banyak baca dan menimba ilmu lagi nih.

Satu yang saya catat,  "Beda pendapat di Indonesia seringkali berakhir dengan debat dan gontok-gontokan. Karakter kita masih belum terbiasa bertukar pendapat. Padahal di luar negeri (lupa negeri mana, Eropa/Amrik sepertinya) beda pendapat itu biasa dan tidak mudah terpancing emosi. I do learn about that (bener nggak nih englishku? Hihihi)

Soal beda pendapat ini ada kejadian "seru" yang saya lihat dibalik layar gladi resik Srikandi Blogger. Waktu itu mak Haya selaku ketua panitia menyodorkan angklung kepada mak board untuk latihan membuka acara. Rupanya mak Indah Sibarani nggak setuju, pengennya pakai gong seperti tahun sebelumnya. Sempat terjadi perdebatan. Saya yang kebetulan di sekitar situ melongo saja. Tak lama mak Mira meredakan suasana dengan latihan memegang angklung dengan gaya yang cantik. Entah apa yang terjadi kemudian, yang saya tahu esoknya kesemua makboard memegang angklung di depan. Perdebatan angklung -gong sudah terlupakan. Salut dengan cara para emak itu berdamai kembali. Itu baru soal alat musik, apalagi pas penentuan Srikandi ya mak? Pasti lebih seru lagi debatnya, hehehe...Tapi tetep bisa kembali berdamai. Salut mak!

Saya terinspirasi pada rasa kebersamaan dan partisipasi para emak version dalam acara Srikandi Blogger. Mereka bersedia datang dari berbagai kota menuju Jakarta, tanpa imbalan apapun, selain demi bisa kopi darat. Acara Srikandi Blogger benar-benar menjadi acara kita dengan kehadiran para emak model ini, dari emak, oleh emak dan untuk emak.

Saya terinspirasi dari para emak yang rajin mengikuti give away yang diadakan sesama blogger. Banyak nama, diantaranya mak Myra Annastasia, Mugniar, Lusi Trisnawati, Muna Sungkar, dll. Bukan soal hadiah, tapi soal solidaritas. Maafkan saya yang jarang ikut give away, bukan karena hadiah juga, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga. Semoga bisa lebih sering ikut Give Away di waktu mendatang.

Ketika saya turun panggung, seorang emak meminta foto bersama. Maaf, saya lupa namanya walaupun sudah berteman di facebook. Bukan sombong, melainkan faktor U. Sang emak mengaku suka dengan blog saya. Ya Allah, tersanjung bangeeeet. Terimakasih ya mak. Ini dia foto si emak itu, siapa ya namanya? Walau lupa nama, tapi wajahmu kuingat mak :)

Maaf, maaf, maaf, tak bisa saya sebutkan satu persatu. Keramahan dan kehangatan para emak blogger adalah inspirasi terindah yang bisa saya petik.

Terimakasih, terimakasih, terimakasih tak terhingga atas gelar yang tersemat pada saya sebagai Srikandi Blogger Inspiratif 2014. Jika ditanya, apa yang menginspirasi dari saya, tak satu kata pun bisa saya tahu jawabnya. Setiap sahabat mungkin memetik inspirasi yang berbeda.

Tapi jika di tanya siapa yang menginspirasi saya, jawabnya adalah anda-anda semua.

Foto dari koleksi pribadi, Maria Citinjak, Indah Nuria Savitri, Anita Handayani

Sabtu, 22 Agustus 2020

Me, My Editor and My Telkomsel

Suatu pagi, ponsel saya berbunyi, tanda sebuah e mail masuk. Isinya kurang lebih begini :

"Selamat pagi, Mbak Arin,

Terima kasih sekali lagi untuk kiriman naskah kepada penerbit XYZ. Setelah mempelajari, kami tertarik untuk menerbitkan naskah Anda yang unik. Saya bisa merasakan "nyawanya" saat membaca naskah Anda.  Saya ingin berdiskusi lebih lanjut tentang konsep buku.  Apakah kita bisa bertemu ? Saya tunggu kabar dari Anda."

Salam, Editor XYZ

*****

Byuuurrr!! Mendadak ingin nyebur ke kolam, untung tidak ada kolam di sekitar saya.  Akhirnya saya luapkan perasaan gembira luar biasa ini dengan berjingkrak-jingkrak di kamar.

Sudah sekian tahun menapaki dunia tulis menulis, inilah pertama kali saya berurusan dengan penerbitan buku. Menulis untuk media cetak sudah sering. Begitupun menulis untuk blog, pembaca bisa melihatnya dari blog saya ini.  Nah, kali ini menulis untuk sebuah buku. Hihihi, mungkin saya terlihat norak. Harap maklum, ini lonjakan karir saya menulis tahun ini.

Setelah tenang, saya menata langkah. Saya telah terbiasa berkomunikasi dengan editor media cetak dan terbiasa dengan revisi naskah.  Tapi saya sadar, kali ini urusannya akan lebih panjang dan lama dengan sang editor buku.  Dalam beberapa waktu kemudian, terjadi komunikasi intensif antara saya dan editor.

Saya mengobrol banyak dengan sang editor sejak pertemuan pertama.  Hm, tampaknya ada "chemistri" di antara kami. Obrolan langsung akrab seperti dua orang sahabat lama. Sang Editor banyak menggali informasi dari saya, tentang keseharian saya, tentang siapa saya.  Tampaknya dia ingin melihat karakter saya sehingga menemukan konsep yang pas untuk calon buku saya.

Kami pun bertukar nomor telepon, facebook, dan twitter. "Nanti kita lanjutkan obrolan via Whatsapp ya Mbak Arin. Oiya, kalau revisi bukunya sudah selesai bisa kirim ke email saya.  Sambil berjalan proses editing, sambil kita cari konsep terbaik.  Silakan tanya apa saja jika ada yang ingin ditanyakan," kata Sang Editor Cantik.

Siiip! My First Book Project akan berlangsung dengan WhatsApp, Email, Browsing, Social Media..itu artinya saya harus mempersiapkan ponsel saya dalam kondisi prima. Jangan sampai kuota habis dan internet putus.

"Mba Arin, tolong browsing apakah ada buku lain dengan judul seperti yang mba ajukan. Cek untuk buku dalam dan luar negeri. Cek juga di goodread.com dan amazon.com . " pesan Sang Editor.

Untuk mengetahui buku di dunia tidak jauh-jauh browsing, browsing dan browsing. Jadi memang butuh jaringan yang lancar. Saya mempercayakan pada provider Telkomsel untuk kecukupan data dan kelancaran internet. Saya memilih paket internet Full Galaxy Plan, sesuai jenis ponsel saya. Saya paling nyaman berlangganan pada paket bulanan 2 Giga. Ini sesuai dengan kebutuhan saya untuk browsing, chat, email dan sosial media.

Saya pun browsing dengan kata kunci "book" "buku" dan "judul buku". Lega bahwa ternyata belum ditemukan buku dengan judul serupa. Intensif browsing membuat paket internet habis lebih cepat. Bahkan kadang-kadang saya tidak tahu kalau kuota sudah habis, mendadak koneksi terputus. Jujur, saya agak malas kalau harus cek *363# untuk cek status internet.  Dari perangkat ponsel juga bisa cek penggunaan data, namun tidak 100% akurat. Akhirnya saya mengunduh aplikasi My Telkomsel.

My Telkomsel adalah aplikasi yang diluncurkan Telkomsel untuk memberikan kemudahan akses layanan pelanggan yang menggunakan smartphone dan tablet. My Telkomsel juga memberikan informasi profil pelanggan, memudahkan cek pulsa, isi ulang pulsa,dan pembelian paket layanan Telkomsel lainnya.  My Telkomsel memberikan banyak kemudahan.  Misalnya  berbagi pulsa, mengirim paket data, cek tagihan kartu Halo, sampai mengisi paket internet di tablet yang tak punya fitur telepon.

Yang paling penting buat saya adalah memberi informasi status paket internet. Saya cukup membuka aplikasi My Telkomsel dan akan bisa melihat informasi ini.

Urusan transfer mentransfer ini sangat membantu. Misalnya, jika saya mendadak kehabisan quota, padahal closing date tulisan harus kirim segera, saya minta pulsa pada suami yang juga menggunakan fitur layanan transfer dari My Telkomsel ini. Pilihan jumlah pulsa yang akan ditransfer sudah tersedia. Dalam hitungan detik, pulsa sudah berpindah ke nomor saya dan langsung bisa di cek nilai pulsanya.

Tapi kalau saya bisa beli sendiri kartu isi ulang, saya cukup buka My Telkomsel.  Tidak perlu kirim sms ke nomor *888#. Cukup buka aplikasi My Telkomsel, pilih isi pulsa dan isikan nomor kartu.

Hari-hari berlalu penuh semangat. Ada revisi, ada konsultasi, ada komentar dari editor untuk saya dan sebaliknya.  Kami bertukar informasi tentang buku-buku yang telah beredar di pasaran sebagai pembanding. Kami membicarakan konsep cover, layout dan desain ilustrasi. Sang Editor menanyakan kepada saya konsep cover yang saya inginkan. Wow, sebagai penulis saya tidak menyangka dilibatkan sebanyak ini.  Saya merasa sangat dihargai (Thanks to My  Editor ).  Semua komunikasi itu kami lakukan dari ponsel ke ponsel, dengan email, chatting, dan social media.

My Telkomsel membantu saya 'melahirkan' buku pertama. Pantang bagi saya ponsel kehabisan pulsa atau kuota. Karena itu saya harus sering-sering cek My Telkomsel. Nggak mau kan, editor menunggu-nunggu hasil revisian saya gara-gara internet habis. Bisa-bisa proses penerbitan mundur dan mengganggu hubungan baik dengan editor.

"Mbak Editor, saya baru saja kirim e-mail revisi buku. Tolong di cek ya," saya layangkan pesan ke inbox fb nya.

"Wow, cepat banget revisinya. Terimakasih ya. Segera saya lanjutkan desain dan layoutnya." Jawab Editor through fb juga.

Ahhh, lega. Proses panjang akan segara berujung manis. Tak sabar menunggu buku pertama terbit. Bantuan My Telkomsel akan tetap saya perlukan.  Karena masih akan ada proses marketing dan kegiatan promo buku yang harus saya pantau lewat social media , blog dan browsing.

Sebentar lagi, urusan dengan editor akan lebih santai.  Hmm, pengen ketemu sang editor lagi ah, di mana ya enaknya? Tempat makan? Tempat wisata? Bioskop? Atau memberinya sesuatu?

Oke, cek My Telkomsel saja. Kan ada info poin yang bisa ditukar dengan barang-barang tertentu, voucher makan, tiket bioskop atau tiket masuk tempat rekreasi. My Telkomsel top banget !

Disclaimer! Isi tulisan di luar tanggung jawab My Telkomsel  danBLOGdetik.

Cerita di atas ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dengan sedikit modifikasi, dan diikutkan dalam Lomba Blog My Telkomsel dan Blogdetik

Jumat, 21 Agustus 2020

Tantangan Juri Give Away dan Lomba

Walaupun istilahnya GA itu lomba atau hajatan yang dilaksanakan atas dasar persahabatan sesama blogger, tapi soal kualitas bukan foremost-fundamental. Semangat menulisnya tetap maksimal, peserta berusaha menyajikan yang terbaik. Buktinya, ada peran juri di dalam GA. Baik itu yang jadi juri adalah si empunya gawe, juri bayaran (sohib yg dibayar dg cinta untuk jadi juri) atau juri todongan (sohib yg ditodong jadi juri), apapun itu, ada juri dalam GA.

Jadi juri nggak mudah loh. Tantangan jadi juri GA adalah bagaimana menilai dengan obyektif. Banyaknya peserta dari kalangan teman sendiri bisa membuat penilaian subyektif.

Nah, gimana caranya kita bisa berlaku seadil mungkin dalam penilaian? Pengalaman saya menjadi juri GA di blog sendiri tahun lalu membuktikan kalau subyektifitas sulit dihindarkan.

Beberapa poin yang saya catat dari pengalaman menjadi juri GA adalah sbb:

  1. Tulisan peserta yang masuk pada awal-awal periode tampak lebih bagus dan siap. Subyektif? atau karena saya punya waktu lebih banyak dan tenang saat membacanya?
  2. Tulisan peserta yang datang keroyokan menjelang DL, walaupun bagus tapi karena dibaca dengan waktu yang terbatas jadinya yaaaa...gitu deh...kurang menanamkan kesan di hati juri. Kurang diingat :))
  3. Tulisan teman dekat yang sering kita baca blognya, yang sudah tahu gaya nulisnya, sedikit banyak menarik penilaian.
  4. Saya ikut-ikutan kriteria penilaian juri profesional, yaitu orisinil, tulisan enak dibaca, jumlah komentar, dan nilai informatif (kriteria tiao juri bisa beda) . Saya buat daftarnya tuh..biar rapi. Trus ditotal nilainya hingga dapat 20 besar. Nah, kadang walaupun sudah terpilih 20 besar secara numerik, tetap saja ada sedikit perubahan geser sana-sini karena tulisan favorit tersingkir. Tahap ini galauuuu banget deh!
  5. Sedikit mengurangi subyektifitas, akhirnya saya meminta juri tamu. Tapi saya tetap tidak rela 100 % penilaian padanya, akhirnya cuma saya bagi porsi 30% hihihi...takut beda selera.

Hmmm..Kesimpulan dari saya...Tantangan saya saat jadi juri adalah kecenderungan bersikap subyektif. Bagaimana pengalaman emak2 yang pernah atau sedang jadi juri GA ? Gimana ngatasinya? Yuk mariii ditunggu sharingnya hingga....Ada monday sharing berikutnya hehehe..

Pendapat Winny Widyawati :

Saya pernah menyelenggarakan GA kecil-kecilan dan sekaligus jadi jurinya juga. Betul mak Arin, bukan nggak bisa dihindarkan lagi, subyektivitas juri itu mutlak karena juri juga manusia, maksudnya juri jg punya "cita rasa" pribadi yang pasti mempengaruhi penilaiannya.

Karena itu, dulu saya mengajak teman lain bwt jadi juri tambahan, maksudnya spy menambah ruang pandang yang lebih luas dlm menilai karya peserta GA. Ini menurutku juga bentuk penghargaan kepada peserta GA yg sdh meluangkan waktu dan pikirannya buat ikutan GA kita ya.

Tapi, peserta GA-pun menurutku punya hak (sedikit atau banyak) buat tahu apa yang menjadi alasan (para) juri memenangkan seseorang dalam GAnya.

Makanya saya senang kalau ada penyelenggara GA yang diawal pemberitahuan GAnya menyebutkan point2 yg akan dinilai, dan saat pengumuman pemenang juga menegaskan lagi alasan/point apa saja yang dia nilai.

Rasanya itu truthful buat peserta GA, buat yg menang jadi tahu kelebihan apa yg perlu dia pertahankan dan kembangkan, buat yg belum menangpun jadi tahu kekurangan apa yg dia harus perbaiki ke depan.

Selebihnya, jadi juri juga perlu tetap mengedepankan kesantunan, sikap arogan juri atau penyelenggara GA bisa bikin peserta kapok ikutan GAnya lagi.

Pendapat Lusi Trisnawati :

Lebih enak jadi juri lomba weblog drpda GA, apalagi kalau panitia lomba blog kinerjanya keren, jadi bisa fokus membabat peserta tanpa perasaan wkwkkkk.... Tapi kalau juri GA itu adanya gak tega, secara niat GA adalah untuk silaturahim (kalau saya, krn ada juga yg utk nambah followers). Akhirnya, hadiah di tambah2 sendiri supaya yg menang agak banyak. Alhamdulillah selama ini belum sampai bangkrut. Doain banyak rejeki, ya.

Aku bedain antara GA (giveaway/free gift) dg lomba blog. Lomba weblog harus profesional krn ada pertanggungjawabannya dengan sponsor. Tapi GA harusnya lebih pleasant, tapi ya gitu deh, maksud hati nggak selalu hasilnya baik kalau ketemu peserta GA yg memperlakukan GA spt lomba weblog. Suasana silaturahimnya jadi ilang. Tapi mungkin akunya yang salah mengartikan GA juga kali ya? Mungkin GA sekarang dianggap sama aja dg lomba2 bersponsor logo lainnya. Kalau iya, berarti aku harus upgrade pengetahuan

Kalau GA, karena syaratku nggak macem2, paling utama sesuai tema dan asik dibaca aja

Giveaway: an event at which things are given away. A giveaway is a type of marketing promotion where something is given away for free. Giveaway: a thing that is very easy to achieve. Macem2 ya terjemahannya? Tapi garis besarnya, GA mestinya mudah & fun.

Pendapat Uniek Kaswargati :

kali ini versi serius Mak Arin- Murtiyarinihehehee... saya sih seneng aja dicolek2, gak pa2 koq, menambah tinggi rating pertemanan

Etapi sebelumnya saya minta maaf ya, ini bukan karena saya jago nulis loh terus berani nyap nyap urusan penjurian kayak gini. Kebetulan aja disambati oleh teman blogger yg seirama dan sesendal macam Muna Sungkardan Nurul Noe, yg sebenarnya bikin saya bingung, kenapa juga saya yg jadi jurinya, wong jalan2 aja sekarang gak pernah hehehe... Mana peserta GA mereka banyak pulak, tujuh puluh lebih *sisir bulu mata lagi aaahhh

Kedekatan pertemanan maupun sedikit ketidaksukaan pada peserta sama sekali tidak mempengaruhi penilaian saya. Yg penting tulisannya sesuai temanya, tidak 'nggladrah' alias dipanjanglebarin, nilai inspiratif maupun entertainingnya, dan ada keunikan kisah (unik tapi tidak dibuat-buat loh ya). Kembali lagi soal selera juri, masing2 peserta silakan kenali saja gaya bertutur jurinya. Caranya? Kepoin blog jurinya dooonkk *haaalaaahhh modus No no, itu cuma intermezzo. Meskipun saya sering mbayol dan enggak serius klo nulis postingan, tetapi saya suka koq membaca tulisan yg serius, runtut dan 'klik' di hati.

Di atas semua itu, seikhlasnya aja lah nulisnya. Meskipun ada juri di tiap GA, tujuan utama GA kan untuk silaturahmi. Jadi mari kita gunakan ajang silaturahmi ini dengan asyik mesra sembari update blog biar enggak berdebu (kalau itu saran utk diri sendiri abaikan ya). Lagian, di tiap GA, selalu ada peserta yang rajin bewe ke tulisan peserta lainnya. Mari kita sambut kunjungan sahabat2 blogger itu dengan berkunjung balik.

ini saya komen lagi mak Arin-, bukan dlm kapasitas sebagai juri, tp lbh pada sohibul hajat. sebagian peserta ada yg memang blm paham ttg tetek bengek pemasangan link. nah, di situ bedanya dg lomba blog yg ketat aturannya. klo sy yg empunya gawe, akan sy minta mereka utk lengkapi, seringnya malah ngajarin gimana itu cara pasang link. tak masalah buat saya. tp klo pun tetep tidak bisa ya wes piye meneh misalnya ada tulisan yg bagus tp syarat nge-link tdk dilakukan meskipun udah dikasih tau, yaaahh... apes deh klo pas ketemu juri yg bukan si empunya gawe sendiri, yg memegang teguh aturan sesuai syarat GA

Secara keseluruhan niatan ikut GA kan memang buat asyik2an meskipun bukan berarti nulisnya boleh serampangan. Subjektivitas memang sulit dihindari, baik dari si pemilik gawe maupun jurinya (bila jurinya bukan penyelenggara). Semoga yg ikutan GA tdk semata2 mengejar hadiah, nilai silaturahimnya yg diambil, jadi tdk kecewa saat tulisannya tdk terpilih. *ngomong sama diri sendiri yg suka mewek klo gak dpt hadiah

Oya, ada satu lagi tipe juri yg pernah saya tau, saya tak bisa menyebutkan itu siapa di sini. Dia minta shohibul GA untuk copy paste tulisan ke dalam word tanpa nama si penulis. Katanya sih utk menghindari subjektivitas. Bener2 yg dinilai tulisan krn foto2 pun tak masuk ke dalam naskah yg dicopas itu.

Tadinya aq pengin gitu, tapi koq kecian sama penyelenggara GAnya, apalagi klo dia lagi kesulitan sinyal utk mampir ke semua tulisan blog utk mengcopynya, belum lagi klo yg diprotect, kan harus kontek sama pemilik tulisan dulu hihihiii...

Pendapat Nurul Noe :

Pengalaman jd juri waktu GA nya mak Indah Nuria Savitri, sumpah awalnya nggak pede. Lha ngeblog aja moody, tulisan gaje kebanyakan curcol kok diminta jd juri. Hehehe.

Pengalaman jd juri memang banyak rasa yaa.. betul apa yg dibilang mak arin, kedekatan atau ketidak dekatan dlm pertemanan kadang bikin penilaian jd subyektif. Tp tetep berusaha objektif dg ttp berpatokan pada tema, sesuai ngga tulisan dg temanya, ya seperti apa kata mak uniek... setiap org pasti punya gaya dan ciri khas dlm menulis. Dan meskipun aku punya ciri sendiri yaitu kebanyakan curcol dan sok puitis. Hehehe.. tp bkn berarti yg dimenangin adlh mereka yg gaya tulisannya sama. Yg terpenting itu enak dibaca dr awal sampe akhir. Mau gayanya penuh humor & ngocol, agak resmi2 dikit, naratif, puitis, atau apapun.

Menilai biasanya pakai tabel. Tentuin dulu apa yg akan dinilai. Kesesuaian tema, foto, dll. Nanti di rank nilainya ambil 10 atau 20 besar.

Nah hasilnya kasih deh ke pemilik hajat. Lalu diskusi2.. mana juara satu dua tiga dst.

Pendapat Myra Anastasia :

berusaha seobjektif mungkin *pasang kacamata kuda

Lihat persyaratannya juga. Sebagus apapun tulisan kalau gak sesuai persyaratan langsung saya coret

Kalau ada 2 tulisa dengan kualitas yang sama biasanya saya pilih yang duluan kirim

Yuni Andriyani

Gunankan Hati Nurani dan semangat profesionalisme saja mak untuk meminilaisir subjektifitas.

Walaupun Juri mempunyai hak subjektifitas dan memutuskan 100%, akan tetapi dengan semangat profesionalisme memberikan kesadaran dan pemahaman bahwa mereka yang ikut lomba (kontestan) telah mencurahkan sekian waktu untuk menulis, merangkai kata dan mencurahkan energi.

Dalam setiap lomba itu pasti ada parameter-parameter penilaian yang telah ditentukan. Itulah yang menjadi pijakan dewan juri.

Sayang sekali kalau ada peserta yang tulisannya harusnya bagus harus tersingkir gara-gara hal yang sepele.

Riski Fitriasari

Saya sama seperti mak Arin- Murtiyarini, ada juri tamu di kuis yang saya adakan, biasanya mereka bukan blogger tapi yang sudah pakar di bidangnya, sebisa mungkin sih tantangan dalam kuis saya itu bisa dinilai dg obyektif, makanya untuk memikirkan tantangan kuis yg saya bikin saja saya butuh waktu satu bulan itu sudah termasuk persyaratan, apa saja yang dinilai dan mencari juri tamu yang capable tentunya..

Zuhana Anibuddin Zuhro

Mak Arin- Murtiyarini, saya ikutan nimbrung disini ya. Alhamdulillah sudah 6 kali diamanahi menjadi juri. 4 kalinya giveaway (yang diadakan blogger), 2 kalinya bentuk kontes menulis (bukan kalangan blogger). Kalau saya pribadi penerapan penjurian yang paling utama, tulisan harus mengandung 3 unsur : rekreatif, informatif dan edukatif. Itu berlaku untuk semua tema. Tapi khusus untuk giveaway. Karena kalau GA di blog pake bahasa skripsi, gak asyik kayaknya. Kehilangan kesan bloggernya, hihihi. Namun untuk lomba-lomba yang sifatnya ilmiah dan non blogger sih tetap pada aturannya.

Selain 3 penilaian tersebut, saya biasanya juga memberi nilai lebih pada pengambilan ide. Dikala 30 peserta menuliskan sesuatu yang umum dan dengan cara yg umum pula, trus ada 1 peserta yang pengambilan idenya unik serta penyampaiannya kreatif, tentu saya akan memberikan nilai lebih pada 1 peserta itu. Tentu saja, setelah memenuhi 3 syarat penilaian utama, dan tidak meleset jauh dari tema yg telah ditetapkan. Dan satu lagi, saya lebih menyukai tulisan yg detail, mengalir dan pernah dialami oleh si penulis (untuk GA non fiksi). Sebagai catatan, detail disini tak harus panjang.

Kalau untuk yang poin 2, saya pribadi tidak pernah memasukannya dalam penilaian. Mau daftar di awal atau di akhir, bagi saya tidak masalah. Meskipun daftarnya akhir kalau tulisannya memang masuk di penilaian dan layak menjadi pemenang, yang menang. Hehe... Hal ini juga berlaku untuk poin 3. Teman atau nggak teman kalau memang layak menang ya menang, hehe.

Seperti contoh, sebuah giveaway tentang perjalanan. Ketika semua orang memiliki satu frame yg sama, bahwa sebuah perjalanan harus dengan destinasi yang jauh. Sebuah petualangan haruslah selalu berhubungan dengan kegiatan alam bebas. Dari 30 peserta menulis dengan frame yang sama. Namun ketika ada satu saja yg berani tampil beda dengan penceritaan sudut pandang yg berbeda, tentu saja saya akan memberikan penilaian tersendiri untuk satu peserta itu. Ini sebagai contoh saja ya Mak

Terlepas dari semua yg saya tuliskan di atas, semua juri punya kriteria penilaian masing2. Semua punya sudut pandang sendiri-sendiri. Jadi ya tergantung jurinya

Giveaway: an event at which things are given away. A giveaway is a type of marketing promotion where something is given away for free. Giveaway: a thing that is very easy to achieve. Macem2 ya terjemahannya? Tapi garis besarnya, GA mestinya mudah & fun.

Mak Arin- Murtiyarini, aku biasanya baca semua setelah DL Mak. Sesuai kesepakatan biasanya, sohibul hajat dulu yang ngasih komentar, baru setelah melewati DL, jurinya bergerilya. Makanya biasanya aku minta waktu ke sohibul hajat. Waktunya disesuaikan sama tema dan banyaknya peserta. Biasanya ambil waktu maksimal. Saya biasanya kalau pesertanya banyak, minta waktu maksimal 2 minggu. Kalau sebelum itu sudah selesai ya gpp

Ade Anita

Maaf baru hadirrrr mak Arin- Murtiyarini... aku lagi cuti efbe sebenernya krn lagi nyelesein sesuatu. Setuju dengan apa yang dikatakan oleh mak Uniek Kaswarganti dan zuhanna priit apikecil...bahwa tiap2 juri punya sudut pandang sendiri alias selera pribadi dan ini yang membuat juri pada akhirnya punya subjektifitas tersendiri..tapiii.. itu tetap subjektif positif sih selama penilaian tidak didasarkan pada pertemanan tapi karena karya yang dihasilkan.

Aku sendiri, lagi jadi juri ceritanya saat ini utk 2 lomba..yg satu lomba resensi yg satu GA pertamaku sendiri.

Untuk keduanya, lagi2 aku setuju dengan zuhanna .. yaitu bahwa tulisan yg jadi peserta adalah tulisan dari para blogger. Jujur saja, aku tuh sebenernya dah wara wiri kenal dunia website Dah lebih dari 10 tahun. Nah keluhan utama dari pembaca website dan sekarang blog adalah: tulisan gak boleh terlalu berat dan gak boleh menghabiskan waktu baca lebih dari 5 menit. Karena gak semua pembaca blog itu punya komputer sendiri dan modem pribadi. Seringnya itu komputernya berbagi dengan anggota keluarga lain atauuuu dia sengaja datang ke warnet. Nahhhh... ngapain bayar sewa warnet cuma buat baca tulisan yang menghabiskan waktu baca lebih dari 5 menit? Itu protes dari pembaca website dan blog yg aku temui.

Jadi... kriteriaku dalam menilai tulisan yang tersaji di blog adalah: dia ringan, informatif, dan bisa menghibur.

Informatif disini artinya secara singkat dia bisa menyajikan informasi dari tema yang dilombakan. Aku kurang suka tulisan yg kelewat panjang. Biasanya suka aku skip (*ini masalah perhitungan pulsa sih. Kalo emang butuh info yg detail dan banyak dengan jumlah pulsa yg aku miliki mending aku buka wikipedia kan?).. tapi aku suka tulisan yang punya kekhasan tersendiri (*karena yakin aja bhw dengan gaya khas itu dia punya penggemar tetap.. nah.. tujuan lomba kan agar "hajatan" kita dibaca banyak orang dan semua kalangan. Tujuan ini akan tercapai jika si tulisan tidak meninggalkan kekhasannya (*krn penggemarnya pasti akan melahap apapun tema yg ditulis oleh blogger itu. Tapi begitu blogger itu mulai sama dgn orang lain gayanya maka pembaca akan pergi meninggalkannya. Jadi tujuan tidak tercapai dong. Hmm.. komenku mulai belibet..hahahaha... intinya.. aku suka kalo ada peserta lomba yang konsisten dengan gayanya menulis. Tidak ikut2an gaya tulisan blogger lain.

Damai Wardanimeski masih kelas nol kecil, perkenankan saya ikut nimbrung mak. terlepas dari semua pendapat emak2 yang kece badai di atas, saya ambil kata kunci "penilaian" sbg bahasan utama. Namanya "nilai" pasti punya tolak ukur, dan tolak ukur memang ada dua: subjektif (individual/relatif) dan objektif (teruji, bersifat pasti). Sayangnya manusia hakikatnya makhluk individu, jadi dalam "menilai" pun bisa jadi ada unsur subjektivitas; sekalipun tolak ukur sudah diterapkan. Terlebih untuk penilaian terhadap hal yang berkaitan dengan manusia, jangan-jangan objektivitas itu justru subjektivitas berjamaah (misal: penilaian tulisan terfavorit, survey capres terpopuler, atau pemenang peserta putri terfavorit). Barangkali itulah kenapa Rosul bilang, perbedaan adalah berkah. Wallohu'alam. -CMIIW-

Nurul Wachdiyyah

suka sama kalimat mak Lusiana Trisnasari, GA kudu fun dan mudah saya baru sekali bikin GA, kayaknya bakal dibuat sebulan sekali dalam rangka 'tertentu' dan berpegang teguh dengan konsep fun & easy itu Yang pertama syaratnya cuma komen aja di postingan blog. Hadiahnya buku. Ada 25 blogger yg komen dan kayaknya semuanya dari Emak-emak Blogger deh *tepuktangan*. Karena baru pertama kali bikin GA, banyak yg harus dievaluasi. Kalo dalam milih pemenang, intuitif sih, saya suka yang mana komennya. Tadinya mau diundi aja tapi kok rasanya gak adil ya. Saya minta suami milih juga, nyortir juga. Terus kami milih tiga orang yang ternyata sama, ya udah mereka yang jadi pemenang seru ya jadi juri ternyata, walo sekelas kecil-kecilan gini juga menyenangkan. kapok enggak, nagih iya. mhuahahaha :))

suka sama kalimat mak Lusiana Trisnasari, GA kudu fun dan mudah saya baru sekali bikin GA, kayaknya bakal dibuat sebulan sekali dalam rangka 'tertentu' dan berpegang teguh dengan konsep fun & easy itu Yang pertama syaratnya cuma komen aja di postingan blog. Hadiahnya buku. Ada 25 blogger yg komen dan kayaknya semuanya dari Emak-emak Blogger deh *tepuktangan*. Karena baru pertama kali bikin GA, banyak yg harus dievaluasi. Kalo dalam milih pemenang, intuitif sih, saya suka yang mana komennya. Tadinya mau diundi aja tapi kok rasanya gak adil ya. Saya minta suami milih juga, nyortir juga. Terus kami milih tiga orang yang ternyata sama, ya udah mereka yang jadi pemenang seru ya jadi juri ternyata, walo sekelas kecil-kecilan gini juga menyenangkan. kapok enggak, nagih iya. mhuahahaha :))

Rabu, 12 Agustus 2020

Kompetisi Blog Staff IPB

Selain weblog ini, saya punya blog lain di www.Murtiyarini.Staff.Ipb.Ac.Identity sejak tahun 2011.

Blog ini awalnya tidak saya rawat dengan baik. Saya jarang posting di sana, alasannya karena malu ketahuan rekan kerja dan atasan. Tapi kemudian saya terpacu untuk lebih aktif membangun blog inner IPB ini. Saya mulai berani posting ini itu, sekedar berbagi tentang diri saya baik dalam lingkup kampus, maupun di luar kampus.

IPB menyadari pentingnya membangkitkan kemauan staff nya untuk ngeblog. Karena itu diadakan lomba web dan blog IPB.

Saya kutip dari situs lomba web IPB.

"Salah satu tolak ukur yang digunakan dalam perangkingan suatu perguruan tinggi adalah penilaian terhadap situs webnya (Isidro Aguillo, 2003). Seberapa lengkap sebuah situs web perguruan tinggi dapat memberikan informasi mengenai profil, kegiatan, publikasi dan aspek lainnya, dan yang paling penting adalah apakah informasi situs tersebut mudah ditemukan oleh pencari informasi. Situs internet IPB dan unit-unit di dalamnya telah ada namun masih perlu ditingkatkan dan disesuaikan dengan standar internasional yang ada. Upaya ini dilakukan untuk mendukung tujuan IPB agar termasuk dalam World Class University. Selain itu, situs net merupakan sarana publikasi dan promosi keunggulan IPB yang efektif kepada masyarakat luas.

Perangkingan yang sampai saat ini sangat mempengaruhi pencitraan suatu perguruan tinggi di dunia adalah Webometrics, yaitu merupakan metodologi yang digunakan untuk melakukan perangkingan seluruh universitas di dunia. Perangkingan tersebut menitikberatkan pada kriteria Visibility dan Activity melalui kinerja website setiap universitas di dunia. (Isidro Aguillo. [online] ada di http://www.Webometrics.Information [Diakses 2013]).

Berdasarkan teori WebQual, terdapat tiga dimensi yang mewakili kualitas suatu website, yaitu kualitas desain situs/kegunaan (Site Design Quality/Usability), kualitas informasi (information fine) dan interaksi layanan (Interaction Quality), maka hal ini tidak sejalan dengan tujuan perangkingan webometrics yang mengesampingkan faktor kegunaan, aksesibilitas, konten, maupun popularitas dalam melakukan perangkingan terhadap kinerja website universitas di dunia. Sedangkan menurut Rektor IPB dan ITB untuk menuju World Class University perlu ditunjang oleh penggunaan ICT dalam hal ini optimalisasi kinerja website sebagai media informasi yang paling relevan.

Dalam Lomba Situs Web IPB 2014 ini akan ada penggabungan aspek kriteria webometrics, usability, accessibility, layanan interaksi dan optimasi mesin pencari (Search Engine Optimization) sebagai kriteria dalam melakukan perangkingan terhadap kinerja website di Lingkungan Institut Pertanian Bogor. Selanjutnya perangkingan akan menerapkan metode Fuzzy yaitu Simple Additive Weighting (FSAW) sehingga didapatkan hasil akhir internet site unit kerja di lingkungan IPB yang paling berpotensi dan memberikan kontribusi terhadap perangkingan universitas di dunia.

Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi serta keberlanjutan pembaharuan situs net unit-unit kerja di IPB. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi standar World Class University dan menjadikan net sebagai media untuk publikasi dan promosi keunggulan IPB.

Lingkup kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi serta keberlanjutan pembaharuan situs web unit-unit kerja di IPB. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi standar World Class University dan menjadikan net sebagai media untuk publikasi dan promosi keunggulan IPB."

Nah !!

Silakan dibaca dan diresapi. Saya sendiri rada bingung memahaminya. Hehehe. Jadi saya langsung saja praktek dengan cara sendiri, yaitu banyak posting, banyak share, banyak blogwalking dengan menggunakan blog IPB sebagai identitas, yaa...Seperti kebanyakan blogger lakukan untuk menaikkan popularitas.

Secara langsung setiap team of workers yang mengaktifkan blognya akan masuk dalam penjurian lomba weblog IPB. Artinya saya sudah ikut sejak tahun 2011 tanpa saya sadari. Baru mengikuti lomba ini dengan sadar pada tahun 2013 lalu dan berhasil meraih juara 3 kategori body of workers.

Tahun ini juga saya masih menduduki posisi yang sama. Berbeda dengan lomba weblog yang sering saya ikuti, lomba weblog IPB tidak dinilai berdasar konten tulisan, bukan juga pada bagusnya desain, bukan pada banyaknya posting serta tidak ada juri khusus. Pemenang ditentukan secara webometrik seperti yang dijabarkan di atas dan tidak perlu kehadiran juri di sini. Yang paling saya pahami dari penghitungan itu adalah banyaknya jumlah pengunjung dan banyaknya one way link di weblog kita. Selebihnya saya masih meraba-raba maksudnya.

Jadi saya harus berjuang menaklukkan rangking yang menjadi kriteria-kriteria penghitungan. Cukup berat. Sangat berat malah. Nyatanya, posisi saya tetap di rangking ke 3.

Tetap semangat untuk 2015.