Tampilkan postingan dengan label Bangkok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangkok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Pengalaman Lahir Batin 7 Hari di Bangkok

Kadangkala, sesuatu keinginan spontan, justru menjadi kenyataan.  September 2018, tiba-tiba saja Mas Ari bilang, "Aku ada meeting di Bangkok bulan November. Ikut yuk, semuanya"

Dan jawaban saya "Ayoooo".

Padahal kami dan anak-anak baru cuti agak lama bulan sebelumnya.  Belum pula mengintip skedul akademik anak-anak. Dan jelang tutup tahun biasanya saya super sibuk jaga lilin demi sebuah kata keramat "tutup buku".

Ada euforia yang menggebu-gebu dari kami bertiga (saya, Cinta dan Asa). Buat Asa ini adalah perjalanan ke luar negeri yang pertama. Dan buat saya, ini seperti membayar hutang pada Asa membawa ke luar negeri, karena paspornya belum pernah basah sejak dibuat four tahun silam. Buat Cinta, walau ini pengalaman kedua ke LN, tapi juga pengalaman pertama ke Bangkok.

Semua seperti digerakkan. Saya mengatur itinerary sedetil mungkin. 7 hari di Bangkok lumayan panjang untuk eksplorasi kota. Saya googling dan menemukan banyak rekomendasi tempat jalan-jalan di Bangkok. Yang saya cari terutama : Tempat belanja murah, tempat wisata populer, moda transportasi, dan tempat makanan halal. Dengan memperhatikan kemampuan fisik kami, saya menargetkan hanya 2 destinasi setiap harinya.

Google Map sangat membantu.

Semua destinasi itu saya simpan di Google Map bahkan sebelum saya membeli tiket pesawat, hihihi. Luar biasa membantu, karena dari Maps kita bisa melihat foto, video, overview sehingga bisa membayangkan situasinya nanti seperti apa.

Hal-hal berikut yang saya perhitungkan sebelum berangkat :

  • Tempat makanan halal, mengingat Asa banyak makannya (kami pun juga) maka perjalanan 7 hari harus tahu dimana mencari makanan halal. Agar kami cukup nutrisi dan tidak sakit.
  • Hotel halal. Dari pencarian tempat makanan halal, informasi merembet ke hotel halal. Sebenarnya ini tidak sengaja mencari. Kebetulan saja di salah satu resto halal dekat dengan hotel halal. Akhirnya pencarianpun meluas. Ada beberapa hotel halal dan saya memutuskan memilih Nouvo City Hotel.
  • Jarak, waktu tempuh dan moda transportasi dari satu tempat ke tempat lain.  Saya pikir perjalanan kami harus efektif bisa menjangkau sebanyak mungkin destinasi dengan meminimalisir kesasar atau buang waktu muter-muter di jalan.
  • Jam buka sebuah destinasi. Ini penting banget diperhatikan karena sayang kalau kita sudah jauh-jauh ke situ ternyata tempatnya tutup.

Ujian-ujian.

"Ojo dingini kerso." Ujaran Bapak (Almarhum) yang selalu saya ingat. Artinya, jangan mendahului kehendak Allah. Jangan terlalu percaya diri sesuatu berjalan sesuai keinginanmu, karena Allah lah yang menentukan akhirnya. Euforia membuat saya lupa. Dan Allah menegur saya. Intinya, jangan heboh pamer mau jalan-jalan, karena belum tentu berangkat. Nah lho!

Rencana sudah licin. Tapi ternyata Mas Ari belum repair ijin kantornya untuk berangkat. Eaaaa... Siapa yang enggak deg-degan. Ijin kantor Mas Ari keluar 2 minggu sebelum Day D. Dan saya pun mengajukan cuti untuk saya sendiri dan anak-anak. Untung pimpinan saya menyetujui. Akhirnya kami membeli tiket AirAsia. Mas Ari dibelikan kantor, dan selebihnya beli dengan biaya sendiri.

Ujian berikutnya, Passpor Mas Ari hampir kadaluwarsa. Ya Allah, gimana ini. Tiket sudah ditangan tapi lupa intip tanggal masa berlaku paspor. Mas Ari pun segera mengurus perpanjangan paspor. Biasanya layanan paspor beres dalam 3 hari, lha kok ndilalah lagi ada perbaikan sistem secara nasional sehingga kapan beresnya paspor tidak bisa ditentukan.

Hingga H-5 paspor belum selesai.  Saya nangis duluan, membayangkan tiket pesawat PP berempat yang hangus karena gagal berangkat. Saya pun 'bertransaksi' dengan Allah dalam bentuk nadzar jika paspor selesai hari itu akan memberi uang makan 1x untuk tukang becak di kampus. Ternyata paspor belum selesai. Lantas saya berpikir, apakah nadzar yang saya lakukan terlalu ringan, sementara saya mampu? Saya pun menaikkan niat nadzar menjadi 3xlipat. Dan pada H-3 sebelum berangkat paspor selesai. Alhamdulillah... Ya Allah.

Ini saya anggap teguran. Terimakasih Allah telah menegur kami untuk tidak sombong mendahului takdir. Terimakasih Allah untuk menegur kami bahwa bernadzar itu untuk tidak terlalu ringan, jika kita memang masih mampu. Berikan penawaran terbaik yang kita bisa.

Bangkok, here we come.

Sabtu, 10 November 2018, kami berangkat dengan Airasia jam 7.15, tiba di Don Mueang Airport jam 10.30. Kami langsung menuju Nouvo City Hotel dengan taksi. Kena mahal bo, ya dimana-mana sama aja kalau yang namanya harga bandara pasti mahal. Untuk perjalanan hanya 30 menit kami kena 900 THB alias sekitar 420 ribu rupiah (Kurs 1 THB = 465 Rupiah).

Terlalu panjang kalau harus saya ceritakan dalam satu postingan. Untuk postingan kali ini hanya ringakasannya saja ya. Saya akan menulisnya daily.

Day 1 :

  • Menuju Nouvo City Hotel di Samsen Road. Suasana  jalan kecil yang terkesan klasik, vintage, perkampungan penduduk yang rapi, banyak cafe dan penginapan untuk backpacker. Kampung sederhana ini banyak berisi wisatawan bule. Mungkin suasananya mirip-mirip Yogya atau Bali kali ya.  Kami pun jatuh cinta pada Samsen Road.
  • Jalan kaki ke Kareem Mataba untuk makan siang, berseberangan dengan benteng Phra Sumen Fort. Sepanjang jalan banyak spa pijat dan taylor (tukang jahit). Berhubung waktu cek in masih sekitar satu jam lagi, kami jalan-jalan dulu. Untung saya sudah tau tempat makan halal di kawasan itu, yaitu Kareem Mataba! Modal mengikuti direksi dari Google Map, kami akhirnya menemukan warung sempit (tapi 3 lantai lho) yang menjual martabak, roti dan kari. Untuk pertama kalinya makan di Bangkok, cieee..
  • Dinner di Asiatique, naik taxi 300 THB.  Di Asiatique sedianya kami ingin cari makan, tapi ternyata susah juga ya pilih-pilih. Kami tidak menemukan makanan yang dipastikan halal. Malah yang terlihat ada buaya guling dan kalajengking goreng. Biar aman, walau tidak 100% aman, kami memilih nasi dan kerang rebus. Bismillah saja, Insya Allah halal.  Di Asiatique ini saya berburu tas BKK Original sebanyak 15 buah dan aneka souvenir dompet murah untuk teman-teman Asa Cinta. Jumlahnya banyaaak.. hahaha. Berhubung ke sini malam, jadi tingkat kekalapan bebelanja berkurang.

Menikmati Thai Tea asli di Kareem Mataba

Day 2

  • Minggu pagi usai sarapan di hotel, kami naik taxi ke Pasar Chatuchak. Harus hari ini karena pasar ini hanya buka Sabtu dan Minggu. Benar seperti review orang-orang, pasarnya luas, terdiri 15.000 lapak. Ini katanya, saya tidak menghitung sendiri hihi. Saya langsung ke lapak  sasaran yang telah saya kepoin instagramnya dan telah saya tandai posisinya di google map. Efektif banget, ikuti google map langsung ketemu. Di sini belanja baju dan sabun lucu aneka bentuk. Kami enggak lama-lama di sini karena tidak terlalu banyak yang ingin dibeli.
  • Siangnya kami balik ke hotel, mampir dulu di 7 eleven untuk membeli cemilan buat ganjal perut. Ternyata sorenya sudah kelaparan, akhirnya room service hotel, kami memesan Pad Thai (mie goreng) dan Khao Pad (nasi goreng). Enaknya gini nih kalau menginap di hotel halal.
  • Habis magrib kami jalan ke Khaosan Road, hanya 500 meter dari hotel. Kami mengikuti arus bule-bule yang juga berjalan ke arah sana. Khaosan road adalah sebuah jalan yang di kanan kirinya banyak resto dan kafe, juga tempat pijat berjajar di pinggir jalan. Banyak juga kios tempat pembuatan tatto dan henna di sini.
  • Tidak menemukan makanan yang cocok, akhirnya kami beli ikan bakar bumbu asem-asem yang dijual pedagang kaki lima. Ikan gurame bakar 70 THB dan ikan tongkol bakar 50 THB. Cukup murah.

Day three.

  • Hari terakhir di Samsen Road, pagi hari usai subuhan saya mengajak Cinta keliling kampung jalan kaki. Sekali lagi, saya benar-benar suka suasananya.
  • Ke Grand Palace dan Wat Pho adalah agenda wajib hari ini. Besok suami sudah mulai meeting kerja. Kami ke sana naik tuk-tuk. Jarak hotel ke grand palace hanya 1 km. Biaya masuk Grand Palace 500 THB per orang dan biaya Wat Pho 50 THB.
  • Di sini kami hampir kena tipu calo. Dia bilang kalau istana tutup sampai jam 13.00 jadi sebaiknya kami keliling ke destinasi lain dulu selama 1 jam, dan biayanya 2000 THB per orang. Kami menolak dan memilih tetap ke Istana dan Wat Pho. Ternyata modusnya begitu, bilang enggak boleh masuk, atau belum jamnya dan wisatawan diarahkan ke dermaga perahu kecil untuk diajak keliling.  Hati-hati ya teman-teman, sebelum ke sini kudu tahu destinasinya dan punya pendirian. Hehehe.
  • Sore harinya kami pindah hotel ke Swissotel Le Concorde di kawasan Ratchada, karena di situlah tempat suami meeting.

Day 4.

  • Petualangan sesungguhnya dimulai. Saya, Asa, Cinta keluyuran. Agenda hari ini adalah ke MBK Plaza. Kami berangkat naik MRT. Kebetulan hotel Swissotel bersebelahan dengan stasiun Huai Kwang. Biaya MRT jauh lebih murah, sekitar 16 THB tergantung jarak. Kami turun di Stasiun Sam Yan. Asa seneng banget dengan pengalaman MRT ini. "Setani Topai..Setani Topai.. Samyan" Artinya "Stasiun berikutnya, Samyan". Dari stasiun kami masih jalan kaki dan ternyata agak jauh, yaitu 1 km menyusuri kampus Universitas Chulalongkron. Gempor sih, tapi seru. Toh trotoarnya nyaman dan suasana baru yang menyenangkan.
  • Di MBK kami tidak banyak belanja. Hanya beli cemilan dan beberapa kaos Bangkok. Di sini kami makan di Yana Restaurant, restoran halal, pemiliknya dari Melayu. Pertama kalinya sejak 4 hari Asa baru menemukan ayam goreng. Bahagianyaaa...
  • Menjelang sore kami pulang naik bis. Ternyata kami harus menunggu di halte yang tulisannya sesuai dengan nomor bis yang ditunggu. Setelah dapat bis yang menuju hotel, kondekturnya memberi tahu dengan bahasa Thai kalau bis ini hanya sampai Victory monument, dan kami harus menyambung bis lainnya. Saya sih nebak-nebak aja dari bahasa tubuhnya bahwa kita disuruh turun. Saya baca google maps lagi untuk tahu nomor bis alternatif. Tapi kita harus menyeberang jalan dulu untuk mendapatkan semacam terminal.   Setelah dapat naiklah kita.  Eh, bis berikutnya ini juga ternyata tidak lanjut sampai depan hotel, kami masih harus jalan 500 meter lagi. Tapi tetap seru, banyak yang dilihat. City tour dengan bis ini membuat saya bisa melihat-lihat pasar basah yang jarang diulas oleh traveler blogger.

Day five.

  • Ke Lumphini Park naik MRT.  Tidak ada tiket masuk alias free. Taman ini sejuk, tenang, cocok untuk olahraga lari. Beberapa bule terlihat masuk sini juga. Kami asyik berfoto di depan danau, namun ternyata...jeng..jeng..ini adalah taman biawak !!! Pergerakan di danau yang semula kami kira ikan ternyata adalah biawak. Oh no.. langsung  kami berusaha mencari jalan keluar yang cukup jauh. Seru..kalau saja saya tahu sebelumnya kalau Lumphini adalah taman biawak, mungkin saya tidak akan pernah kesini. Untung belum tahu.
  • Selanjutnya kami naik bis ke SIAM Paragon. Turunnya persis di depan MBK lalu jalan kaki 500 meter ke SIAM Paragon. Buat saya mall ini kurang menarik karena yang dijual barang-barang branded. Jujur mau masuk counternya aja enggan gitu. Di Siam Paragon kami ke Sealife Aquarium yang mirip dengan Seaworld Ancol (lebih luas Ancol).  Di sini kami tidak berani makan berat karena tidak jelas kehalalannya. Saya dan anak-anak cuma beli Coconut Ice Cream dan Thai Tea (lagi) hehehe. Cinta di sini menemukan apa yang dicarinya yaitu DVD KPOP di Power Mall. Jangan kalap ya Cin.. harganya lebih mahal dari beli pre order langsung via Indonesia.
  • Malam hari, berempat kami makan malam di Usman Muslim Thai Restaurant. Kami naik MRT lanjut jalan kaki di kawasan Sukumvit. Alhamdulillah, bisa makan enak lagi.

Day 6.

  • Merasa tinggal hari ini leluasa jalan-jalan, usai berenang kami jalan-jalan di Big C yang tak jauh dari hotel. Hanya 700 meter. Jadi kami jalan kaki saja berangkatnya. Tapi ternyata gempor juga. Mungkin efek akumulasi jalan-jalan 5 hari sebelumnya hehehe. Pulangnya kami naik MRT yang hanya menempuh 1 stasiun saja. BIG C ini mirip banget dengan Giant kalau di Indonesia.  Susunan raknya pun mirip. Apa sodaraan ya? Di sini saya beli sepatu murah dan cemilan lagi.
  • Siangnya istirahat di hotel dan memesan delivery food dari Usman Muslim Thai Restaurant lagi. Asa memesan ayam goreng, Cinta pesan calamary dan saya pesan Manggo Sticky Rice alias ketan mangga.
  • Malamnya, suami dan Asa sudah nyerah untuk jalan-jalan lagi. Sementara saya masih nafsu. "Kan belum ke pasar malam Rot Fai Market Ratchada" rengek saya. Dekat kok, satu stasiun aja. Akhirnya hanya Cinta yang mau menemani. Kami ke situ sebentar saja, saya cukup melihat suasananya dan pulang membeli kerang dan udang.

Day 7

  • Jumat 16 November 2018, jam 8 kami cek out, lalu naik taksi ke Bandara Don Mueang. Selama di taksi semua sudah ngantuk (padahal masih pagi). Kayaknya efek anti klimaks, mau pulang sudah tak punya target hehehe.
  • Penerbangan Air Asia jam 11.25 tepat waktu dan tiba di Jakarta 15.00 dengan selamat. Alhamdulillah.

Ujian lainnya, Cincin yang Hilang.

Sebelum berangkat ke Bangkok, saya mengenakan cincin warisan Ibu yang biasanya hanya saya simpan. Cinta bertanya, "Tumben Mama pakai cincin itu?"

"Buat jaga-jaga kali di Bangkok kurang duit," seloroh saya. "Lagian kalau emas di simpan saja kena zakat, Cin, kalau digunakan enggak kena zakat. Intinya Islam mengajurkan tidak menimbun harta tanpa digunakan.

Apa yang terjadi kemudian? Saat melewati toko-toko perhiasan di Kawasan Samsen, terbersit keinginan saya membeli perhiasan lokal, tapi apalah daya rupiah kita terlalu jauh mengejar nominal baht. Saya hanya bisa mengagumi perhiasan itu lewat etalase. Sambil jalan, saat itu pula saya lirik cincin pemberian Ibu di jari tangan, dan.... Sudah tidak ada lagi cincinnya. Entah kapan hilang dari jari saya.

Astaghfirullah, langsung saya teringat niat saya memakai cincin tersebut, "biar tidak kena zakat".

Menerima keberagaman.

Untuk ke sekian kalinya saya menjadi minoritas (muslim) di sebuah wilayah. Jadi minoritas itu enggak gampang. Jadi tau kan susahnya memahami adat istiadat masyarakat yang berbeda.

Bangkok, selain penduduk asli yang mayoritas Budha, hampir setengahnya adalah wisatawan. Sudah jadi kota Internasional. Beragam bahasa dan warna kulit.

Di sini walaupun babi panggang bertebaran, saya wanti-wanti anak-anak untuk tidak mengernyit atau menunjukkan ekpresi jijik. Biarin aja, yang penting bukan kita yang makan.

Di sini, walaupun banyak orang pakai tank pinnacle berjalan-jalan, tetaplah berekpresi biasa. Jangan melirik apalagi menunjuk-nunjuk. Gitu saya bilang ke anak-anak, terutama Asa yang suka heboh.

***

Perjalanan 7 hari di Bangkok usai. Banyak biaya-biaya dikeluarkan. Banyak ujian-ujian. Suami saya bilang "Aku tidak merasa rugi dengan biaya yang dikeluarkan, karena apa yang kita dapatkan dari perjalanan ini luar biasa berharga."

***

Tulisan lainnya lebih detil akan dibuat terpisah. Nantikan ya.

Suasana 'Old City' di Samsen Road

Tiga hari pertama dari tujuh hari perjalanan ke Bangkok kami harus mencari penginapan sendiri. Pasalnya, suami baru akan mengikuti meeting kantor mulai hari ke empat, di lodge yang telah ditentukan kantor.

Dari hasil googling, saya memilih Nouvo City Hotel. Saya memilihnya karena Nouvo City Hotel merupakan resort halal, jika seapes-apesnya enggak dapat makanan halal saat jalan-jalan, kami bisa memesan makanan di resort.

Nouvo City Hotel ini terletak di kawasan Samsen Road, dekat dengan Khaosan Road, yang notabene adalah kota-tuanya Bangkok dan merupakan kawasan turis backpaker-an.  Foto di atas adalah suasana Samsen Road difoto dari kamar hotel kami.

Di Samsen road banyak taylor atau penjahit jas, dan tukang pijat. Hm...sayang saya tidak mencoba keduanya hehehe. Banyak juga cafe-cafe sederhana yang ramai di malam hari. Siang hari, cafe-cafe ini tutup, kursinya dilipat dan bergantian jemuran-jemuran  dari pemilik laundry kiloan yang banyak ditemukan di gang-gang itu.

Di Samsen Road ini, enaknya kita bisa menjangkau makanan murah, laundry kiloan murah, dan memento murah tak jauh dari resort. Sebelah lodge ada 7 eleven. Cinta paling suka ke 7 11. Banyak jajanan-jajanan lokal yang menarik untuk dibeli. Dekat pula dengan ATM, sehingga mudah untuk mencari sumber bath terdekat.

Kelemahannya, di sini jauh dari stasiun MRT. Kalau mau menjangkau tempat wisata atau ke kota, bisa naik perahu di tier terdekat, naik bis atau tuk-tuk. Taxi juga sudah pasti ada banyak, tapi cukup menguras kocek.

Penginapan Backpacker, ramai turis multinational

Pijat, mau?
Taylor. Kapan-kapan mau jahit baju ah dimari

Kios Majalah dekat Nouvo City Hotel
Ada satu kios majalah di dekat hotel. Penjualnya seorang Nenek, hanya bisa berbahasa Thai. Tetiba Cinta ingin membeli sebuah majalah yang covernya bintang KPOP kesukaannya. Komunikasi pembayaranpun dilakukan dengan bahasa isyarat. Seusai memberikan kembalian, sang Nenek menasehati Cinta dengan bahasa Thai. Panjang pula nasehatnya. Sambil menepuk-nepuk pundak Cinta. Entah apa yang disampaikan, sepertinya sebuah harapan yang tulis. Cintapun membungkuk hormat. Terimakasih Nenek, semoga Nenek sehat-sehat terus ya.

Gang-gang laundry kiloan

Agar bagasi tidak berat, kami hanya membawa baju 4 stel per orang, cukup untuk 2 hari saja. Dengan asumsi kami harus segera mencuci dan mengeringkannya apapun caranya. Biasanya kami mengirimkan laundrian ke petugas hotel. Tapi berhubung terlihat banyak tempat laundry kiloan di Samsen ini, maka kami pun ke laundry kiloan. Harganya sangat murah, sekitar 30 baht per kilo atau 15 ribu rupiah per kilo. Murah kan dibanding laundry hotel.

Deretan Cafe
Deretan cafe
Kursi-kursi yang menanti sore
Salah satu cafe depan hotel
Serasa di Yogya
Pilihan minuman
Deretan cafe
Kalau malam kursi itu penuh

Seperti orang yang jatuh cinta pada pandagan pertama.

Samsen road, kawasan sederhana yang bikin kangen.

Yang kami nikmati bukan wisata kemegahan, melainkan suasana kota tua yang unik. Pagi hari, saat membuka jendela kamar, terlihat pedagang daging babi bakar mulai berjualan. Anak-anak berangkat sekolah. Sampai siang, suasana masih sepi. Turis-turis masih lelap. Anak-anak bermain sepak bola di jalan. Jika ada taksi melintas , anak-anak itu menepi sejenak. Taksipun tak berani main kebut.  Menjelang sore, kursi-kursi di cafe mulai ramai.

Jika anda mau ke Bangkok dan bosan dengan kawasan kota, cobalah ke kawasan Samsen Road ini.

Sebagai gambaran, ini jarak lokasi-lokasi jika dijaungkau dari Nouvo City Hotel :

  • Grand Palace 1,7 km (naik bis atau tuk-tuk)
  • Wat Pho 1,8 km (bisa naik bis atau tuk-tuk)
  • Khaosan Road 700 m (jalan kaki)
  • Phra Arthit (Tier Express Boad terdekat) 400 m (jalan kaki)
  • Siam Paragon 5,2 km (naik bis atau taxi)
  • Asiatique 12 km (20 menit dengan taxi)
  • Don Mueang Airport 22 km (40 menit dengan taxi)

Untuk kebutuhan perut, selama di Samsen ini alternatif tempat makan halal

  • Sarapan di Nouvo City Hotel, pilihan menu nasi, bihun, buah, roti, dan aneka tumisan.
  • Sara Restaurat, menunya enak-enak. Masakan melayu. Harga kisaran 500 ribu rupiah untuk 4 orang.
  • Room Service, kisaran harga 140 baht atau 70 ribu rupiah sepiring nasi goreng (kao pad) dan mie goreng (pad thai) . Setara dengan harga room service di hotel di Indonesia
  • Kareem Mataba (Martabak), jalan kaki sekitar 200 meter (cek di peta). Warungnya kecil, terdiri dari 2 lantai, bersih, nyaman enak. Selain martabak ada aneka minuman, kari ayam dan martabak manis. Harga sekitar 600 baht (300 ribu rupiah) untuk 4 orang.
  • Ikan bakar bumbu garam yang ada di pedangang kaki lima tak jauh dari Khaosan Road. Harga 34 bath (70 ribuan per ekor)
  • Udang dan cumi di pedagang kaki lima (sekotak 200 baht alias 100 ribu rupiah)
  • Ketan mangga (Mango Sticky Rice) dijual pedagang kaki lima.
  • Coconut Ice Cream dijual pedagang kaki lima, seharga 50 baht atau 25 ribu rupiah.
  • Aneka buah-buahan.

Separo hati ini tertinggal di Samsen Road, bukan hanya saya sendiri yang merasakannya, ternyata suami dan anak-anak juga merasakan hal yang sama. Malah, seandainya nanti ada meeting-assembly di Bangkok, suami berencana akan menginap di sini lagi. Toh untuk menjangkau kota dengan perjalanan kurang lebih 1 jam, sudah biasa dilakukannya selama di Indonesia.

Tulisan lainnya tentang jalan-jalan kami ke Bangkok bisa dibaca di

https://asacinta.Blogspot.Com/search/label/Bangkok