Tampilkan postingan dengan label We Care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label We Care. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2020

STOP MELAJU DALAM MALL !!

Seiring perkembangan jumlah mal yang meningkat pesat di kota-kota besar, gaya hidup masyarakat pun berubah. Mal tak hanya menjadi kebutuhan belanja, melainkan juga untuk hiburan dan bermain.

Sayangnya, beberapa permainan di mal saya rasa tidak aman dan tidak selayaknya dilakukan di dalam gedung mal.

Lihat saja saat kita jalan-jalan di mal, tiba-tiba melintas anak-anak main mobil-mobilan, sepatu roda, atau otoped. Sering kali tanpa pengawasan orangtua. Bahkan anak di bawah umur (1-2 tahun) juga terlihat naik mobil-mobilan yang dikendalikan dari jauh oleh petugas atau orangtuanya. Saya meragukan, naik mobil-mobilan ini apakah keinginan si anak itu sendiri atau keinginan orangtuanya?

Anak-anak itu cenderung ingin melaju tanpa memikirkan keramaian di mal. Akibatnya terjadilah serempet sana sini, atau menabrak orang dan benda di sekitarnya. Saya sudah pernah mengalaminya. Sedang mengantre membeli donat di salah satu outlet, tiba-tiba diseruduk mobil-mobilan dari belakang. Rupanya si anak yang mengemudi ini tengah melihat ke kanan kiri karena ada couter mainan. Kaget pastinya, kesal juga, tapi mau marah tapi menahan diri, masa iya marah sama anak kecil? Mana mengerti dimarahi? Tak lama orangtua si anak datang, bukan untuk meminta maaf pada saya, tapi untuk memarahi anaknya. Hmmm… hanya bisa mengelus dada. Dalam hati saya bilang “Pilihkan permainan yang aman buat anaknya dong Pak!”

Jika sudah demikian, permainan bukan hanya membahayakan keselamatan pengguna, tapi juga keselamatan orang-orang di sekitarnya. Seringkali saya paranoid sendiri membayangkan seandainya itu mobil-mobilan atau otoped menabrak kaca etalase ponsel atau kompor milik outlet makanan ya?  Siapa yang bertanggung jawab?

Anak-anak butuh permainan, pemilik persewaan butuh penghasilan, pihak mal butuh pemasukan. Jika semua mengutamakan egonya, kebiasaan membahayakan ini akan berlanjut. Orangtua harusnya bijak memilih permainan untuk anak. Jika konsumen berkurang, otomatis bisnis sewa ini akan mencari bentuk lain.

Pihak mal juga harusnya tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri. Keselamatan dan kenyamanan pengunjung mal menjadi tanggung jawab Pengelola Mall. Solusinya, sediakan lokasi yang cukup luas untuk arena permainan anak ini. Jika langkah ini dirasa kurang menguntungkan, lebih baik ditiadakan sekalian, daripada lebih banyak lagi korban senggolan otoped dan mobil-mobilan. Walaupun tidak fatal, tapi juga tidak nyaman. Tidak ada kan, yang mau tertabrak mainan saat sedang enak-enaknya jalan di mal?

http://theurbanmama.com/articles/memilih-permainan-aman-di-mal.html

Rabu, 26 Agustus 2020

Curhat Blogger Peduli Lingkungan

Halo semua,

Mau nanya, kira-kira kalau saya bilang saya ini blogger peduli lingkungan pada percaya nggaaaak?

Baiklah, kali ini saya curhat sebagai blogger yang (merasa) peduli lingkungan.

Ketika kita search Google dengan kata kunci: kebakaran hutan, banjir, sampah, limbah, plastik, binatang langka, dampak pestisida, resurgensi serangga, gagal panen, pemanasan global dan banyak problema lingkungan lainnya, apa yang kita temukan? --- Ya, kurang lebih setengah informasi tentang lingkungan merujuk pada blog pribadi. Ini pertanda kepedulian blogger pada isu-isu lingkungan sangat baik. Saya termasuk salah satu penyumbang tulisan-tulisan tentang lingkungan. Walaupun tidak banyak dan tenggelam pada laman-laman akhir pencarian Google.

Seringkali saya ragu untuk menulis tentang lingkungan. Soalnya, banyak banget persoalan lingkungan di Indonesia ini, apalagi di Dunia. Sementara ilmu yang saya punya sedikit-sedikit, banyak tahu sana-sini tapi tidak mendalam. Jadi apakah saya punya kapasitas menulis tentang lingkungan?

No, no, no ! Jangan jadi ragu-ragu seperti saya. Itu keraguan saya duluuuu, sekarang saya tidak ragu lagi. Menulis sedikit saja sudah sangat berarti. Tulisan kita-kita dalam blog akan menjadi kepingan-kepingan puzzle informasi tentang lingkungan. Mari kita susun dan saling melengkapi.

Jadi, kalau anda tahu tentang sebab musabab kebakaran hutan dan asap di Riau, ya silakan ditulis dalam blog. Sedikit ataupun banyak, dangkal ataupun dalam, tulis saja! Jangan ragu berbagi ilmu dan menyuarakan opini.

Atau, anda tahu tentang dampak penggunaan pestisida pada serangga dan ekosistem, segera tulis dalam blog. Tak perlu harus menjadi ahli, praktisi atau peneliti untuk menuliskannya.

Blogger tahu dari membaca. Saya pikir sah-sah saja merangkum, mengolah dan menuliskannya ulang apa yang diketahuinya. Asalkan tidak replica paste, dan jangan lupa mencantumkan sumber referensinya.

Menurut saya, menulis tentang lingkungan tidak harus sesuatu yang kompleks sehingga mengurungkan gerak kita untuk ngeblog. Kalau kita punya kebiasaan baik membawa kantong pakai ulang untuk berbelanja, pengalaman menemukan burung kutilang pada pohon di halaman dan membiarkannya tetap bebas, pengalaman menggunakan tanaman anti-nyamuk sebagai pengganti obat semprot serangga, dan pengalaman-pengalaman sederhana lainnya tentang perilaku ramah lingkungan, segera tulis dalam blog dan berbagilah.

Perubahan besar diawali dari yang kecil. Inspirasi peduli lingkungan  itu bisa berawal dari kita para blogger.

Peran kita sebagai blogger bisa menyerupai peran peneliti dan surveyor di lapangan, lho. Tahu kan, blogger itu pewarta warga ? Biasanya blogger suka mengamati sebuah obyek atau fenomena di sekitarnya, lalu memotretnya, mencari literatur penyertanya, kalau perlu konsultasi ke temannya yang ahli dalam tersebut, lantas beropini dan menuliskannya di blog. Sehari-seminggu-sebulan.....siapa sangka tulisannya tentang fenomena itu bisa menjadi headline. Kemudian dilirik oleh media cetak dan televisi, dibahas di institusi penelitian, menjadi bahan diskusi pada LSM peduli lingkungan, menjadi wacana pemerintah daerah dan... Alhamdulillah ya, kalau menjadi perhatian pemerintah pusat. :)

See? Betapa peran blogger sangat penting untuk lingkungan. Lihat, rasakan, bidik, rekam, dan suarakan melalui blog berbagai problema lingkungan.

Aktif di lapang atau aktif di blog ?

*Tutup muka sendiri*

Terusterang, saya merasa malu karena hanya berkoar-koar di blog, tapi jarang ikut kegiatan-kegiatan peduli lingkungan. Harap maklum, saya sehari-hari kerja kantoran, dan masih punya balita yang sulit ditinggal-tinggal bepergian. Sumbangsih saya untuk lingkungan hanya bisa melalui tulisan di blog.

Sebagian orang berpendapat, untuk mengatasi persoalan lingkungan di tanah air butuh aksi nyata. Dalam hal ini, blogger harus bergerak lebih dari sekedar menulis.  Nggak mau kan disebut omdo alias omong doang?

Soal seberapa bisa bergerak menjadi hal yang sangat relatif. Blogger bermunculan dari berbagai latar belakang, aktifitasnya di luar blog, kemampuan, ruang gerak dan faktor-faktor lainnya. Karena itu, menurut saya kurang bijak jika satu golongan blogger aktif menafikkan peran blogger dibalik laptop (blogger yang hanya menulis saja). Sekecil apapun tindakan peduli lingkungan, perlu dihargai. Paling dekat (tapi bukan berarti paling mudah) adalah menggerakkan diri sendiri untuk menerapkan teori-teori yang tertulis di blog.

Menjalankan kegiatan ramah lingkungan oleh diri sendiri dan keluarga buat saya lebih mudah. Hemat air, hemat listrik, tidak memelihara burung dalam sangkar, menggunakan raket nyamuk, menanam beberapa pohon, menanam rumput, memisahkan sampah organik dan non organik, mengurangi penggunaan plastik (jujur belum 100%), mengurangi penggunaan kertas dengan mencatat pada notebook, dan lain sebagainya.

Curhat lagi ya,

Sebagai blogger saya harusnya bisa jadi penyampai pesan.

Ada banyak informasi di dunia maya yang tidak diketahui oleh masyarakat akar rumput. Sedangkan blogger sangat kenyang dengan informasi lingkungan terbaru. Apa dan bagaimana harus menyayangi lingkungan. Banyak lapisan masyarakat yang tidak terjamah informasi lantas secara tidak sengaja melakukan kerusakan.

Tidak semua orang berkesempatan mengakses internet. Anak-anak, orangtua, pekerja rumah tangga, tukang sayur, mbak jamu dan banyak golongan lain yang sebagian besar belum leluasa mengakses internet. Alangkah baiknya diberi edukasi soal lingkungan. Tidak usah jauh-jauh, cukup orang-orang di sekitar kita. Dan dengan bahasa yang mudah tentunya.

"Mbak, kalau bisa pelanggan jamu yang biasa beli jamu plastikan diminta bawa botol isi ulang, biar nggak boros plastik. Plastik itu susah bercampur di tanah sampai one hundred tahun lho. Bisa menumpuk nanti sampahnya".

Atau

"Abang, kalau bungkus sayur pake koran bekas aja. Selain irit, plastiknya nggak numpuk jadi sampah"

Kadang situasi tidak mudah. Kadang sulit untuk memulai bicara. Dan sering saya tidak mau dianggap menggurui.

Butuh Kolaborasi.

Pada akhirnya saya merasa butuh teman. Butuh penyemangat agar kepedulian ini tetap bertahan. Karena yang kita hadapi sesungguhnya bukan satu atau dua orang, dan tidak selalu mudah membuat orang mengerti apalagi menurut apa yang kita sampaikan.

Bergerak sendiri tidak sia-sia. Bergerak bersama lebih bermakna.Berkumpul dan bersinergi dalam komunitas-komunitas blogger akan menghasilkan dampak yang lebih dahsyat. Saling menginformasi, berdiskusi, berbagi, menyebarluaskan dan bergerak bersama.

Selain kolaborasi dengan sesama blogger, perlu juga kolaborasi dengan pejuang-pejuang lingkungan di lapang. Di Indonesia ada banyak lembaga yang bergerak dalam penyelamatan lingkungan. Salah satunya yang telah lama berkecimpung bidang ini adalah WWF (World Wildlife Fund).WWF-Indonesia adalah yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. WWF-Indonesia bergerak dalam pelestarian global yang bekerja di 100 negara di dunia untuk mewujudkan dunia dimana manusia dapat hidup selaras dengan alam .

WWF-Indonesia memiliki sejumlah kantor lapangan (Field Office). Kantor lapangan ini melakukan koordinasi untuk kegiatan dan program di lokasi konservasi tingkat lokal. WWF bekerja sama dengan pemerintah lokal, melalui kegiatan proyek praktis di lapangan, penelitian ilmiah, memberi masukan untuk kebijakan lingkungan, mempromosikan pendidikan lingkungan, memperkuat komunitas, dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan.

Kolaborasi antara WWF dan blogger peduli lingkungan adalah bentuk upaya saling melengkapi satu sama lain. WWF menyadari kekuatan blogger.  Sinergi ini diharapkan akan membawa dampak yang lebih baik.

*********



Senin, 24 Agustus 2020

Membahagiakan Anak-anak Yang Sibuk

Betapa sibuknya anak-anak yang tergambar dalam video di atas. Seperti itulah kesibukan anak-anak masa kini, terutama di perkotaan.  Mereka terlihat tergopoh-gopoh, makan terburu-buru, kurangnya waktu bermain, sibuk dengan PR, mengantuk dan kelelahan.

Apakah sibuk itu keinginan mereka?

Anak-anak paling disibukkan oleh urusan sekolah dan mengerjakan PR. Persaingan akademik mengharuskan mereka lebih giat belajar sehingga diperlukan les.  Sebagian lagi anak-anak mendalami bakat dengan kegiatan ekstrakurikuler. Jika mereka menjadi juara maka orangtua akan bangga.

Ada juga orangtua yang ingin anaknya les tambahan agar orangtua lebih punya banyak waktu untuk produktif. Ini dikarenakan bersama anak bisa mengganggu konsentrasi bekerja. Sebuah alasan yang masuk akal bagi orangtua. Tapi bagaimana bagi anak?

Anak saya, Cinta (kelas 3 SD) pun mempunyai kesibukan rutin. Bedanya, Cinta tidak mengikuti les sore hari. Sepulang sekolah dia bersepeda atau bermain di halaman dengan adiknya. Cinta mengerjakan PR hanya akhir pekan dan saya tidak memintanya belajar lagi di malam hari. Saya rasa cukup waktunya belajar 5 jam di sekolah. Malam adalah waktu bebas. Biasanya Cinta membuat prakarya, melukis atau menulis diary.

Memahami Perspektif Anak.

Saya menyadari bahwa antara anak dan orangtua mempunyai pandangan berbeda terhadap waktu, kebutuhan, dan cara untuk berbahagia.

Dalam perspektif waktu, menurut saya adalah wajar jika anak bergerak lebih lambat dalam menyelesaikan tugasnya dan tentunya butuh waktu lebih lama. Hal yang dikerjakan anak bisa jadi adalah pengalaman pertama baginya. Selain itu, anak butuh waktu untuk mempelajari dan eksplorasi. Jadi, sebaiknya tidak meminta anak terburu-buru. Solusinya, dengan keterbatasan waktu harian, lebih baik mengurangi jumlah kegiatan anak.

Dalam hal kebutuhan, apakah memang kesibukan harian anak adalah hal yang benar-benar dibutuhkannya? Apakah anak yang inisiatif meminta les ini-itu? Ataukah les merupakan tawaran dari orangtua yang kemudian di-iya-kan oleh anak? Pernahkah kita bertanya, kegiatan apa yang paling diinginkan anak? Jika sekolah adalah kebutuhan anak yang kita wajibkan untuknya, tak ada salahnya sore hari menyerahkan pilihan pada anak hal apa yang disukainya. Jawabnya bisa ditebak, anak suka bermain !

Cara anak berbahagia mungkin berbeda dengan orangtua. Orangtua bahagia jika anak berprestasi di sekolah. Sedangkan anak berbahagia dengan danau dan perahu yang dibuatnya dalam kubangan lumpur.

Membahagiakan anak-anak yang sibuk.

Pada dasarnya anak-anak memang sudah sibuk bertumbuh, mengenali lingkungan, belajar dan eksplorasi. Di tengah sibuknya anak, perlu ada waktu luang agar mereka bisa menata kegiatannya, caranya adalah :

  1. Kurangi 1-2 kegiatan les. Pilih prioritas kegiatan yang disepakati antara orangtua dan anak sehingga ada tambahan waktu untuk bermain.
  2. Ajarkan anak menggunakan waktu lebih efisien sehingga bisa menyisihkan waktu untuk bermain.
  3. Manfaatkan setiap waktu luang untuk bermain. Kurangi penggunaan ponsel dan televisi, saatnya beralih untuk aktivitas fisik di dalam maupun di luar ruangan.
  4. Mengingat waktu siang hari anak lebih banyak di sekolah bersama teman-temannya, maka himbauan untuk sekolah adalah memperpanjang waktu istirahat. Sekolah juga diharapkan bisa mendorong agar anak-anak lebih banyak beraktivitas fisik di halaman sekolah.
Saatnya kita merenungkan hal-hal yang menyibukkan anak-anak dan menjadikan mereka lebih bahagia dengan memperbanyak waktu bermain. Mari bahagiakan anak-anak kita.

Ruang Bermain untuk Anak-anak Perkotaan

Diprediksi pada tahun 2020 separuh dari anak-anak di dunia akan dilahirkan di kota besar.

Keluarga saya tinggal di Bogor, sebuah kota besar, berdekatan dengan ibu kota Jakarta. Anak-anak saya, Cinta dan Asa tak asing lagi berada pada lingkungan perumahan yang padat, lalu lintas ramai dan macet, asap kendaraan, dan gedung-gedung pencakar langit.  Inilah realita anak-anak perkotaan. Serba sempit, serba cepat dan terbiasa waspada.

Adaptasi Bermain Anak Perkotaan.

Satu-persatu ruang bermain terbuka terenggut dari anak-anak perkotaan. Sebagai bentuk adaptasi mereka bermain di gang-gang sempit, tanah kosong milik orang, tempat parkir, trotoar bahkan di tepi jalan raya sekalipun.  Berbahaya memang, namun seiring waktu anak-anak beradaptasi dan mengantisipasi bahaya di sekitarnya. Tentu saja hanya sebatas kemampuan anak-anak.

Sebagai bentuk adaptasi lainnya, sebagian anak lebih suka bermain di dalam rumah. Orangtua juga melarang mereka ke luar rumah mengingat bahaya yang mungkin ditemui apabila mereka pergi tanpa pendampingan. Kemudian muncul kebiasaan yang merebak akhir-akhir ini yaitu menjadikan mal sebagai tujuan bermain keluarga yang adem. Bahkan di dalam kepadatan mal, anak-anak pun bermain.

Tapi saya sama sekali tidak mengijinkan Cinta dan Asa memilih permainan bergerak di dalam mal seperti ini, karena membahayakan diri sendiri san orang-orang di sekitarnya.

Mencari dan Memberi Ruang.

Anak-anak butuh ruang untuk bermain. Karena dalam kegiatan bermain terdapat aktivitas fisik seperti berlari, melompat, bergerak, atau menjelajah. Bermain penting untuk pertumbuhan fisik dan intellectual anak. Tampak sekali bahwa Cinta dan Asa menikmati suasana bermain di luar daripada di dalam ruangan. Alhamdulillah kami masih memiliki halaman yang cukup untuk berlari-lari atau bermain tenda. Lihat juga betapa bahagianya saat mereka bermain pasir di halaman rumah kakeknya.

Realitanya, orangtua perkotaan kesulitan menyediakan ruang bermain karena keterbatasan lahan. Sebagai solusi orangtua bisa mencarikan ruang bermain dengan membawa anak-anak ke ruang terbuka yang merupakan fasilitas umum. Di Bogor ada Kebun Raya Bogor, Taman Matahari, Taman Buah Mekarsari dan banyak lagi. Sayangnya, tidak bisa berkunjung ke sana setiap hari karena lokasi cukup jauh dan berbayar. Kalau mau yang gratis, pilihannya adalah di halaman kampus IPB,  halaman masjid atau lapangan.

Harapan-harapan.

Seandainya Pemerintah Kota bisa memberi ruang untuk anak-anak bermain dengan membangun taman-taman bermain gratis yang di setiap kelurahan. Anak-anak tentu akan senang sekali mendapatkan ruang untuk bermain bebas bersama teman-temannya. Taman dibuat rindang dan herbal sehingga udara sejuk.

Seandainya setiap sekolah mempunyai ruang terbuka untuk siswanya bermain. Pembangunan gedung sekolah diarahkan bertingkat agar tidak mengurangi luasan lapangan sekolah.

Seandainya para pengusaha merelakan sebagian kecil luasan usahanya untuk dirombak dijadikan taman kota. Tentu kami sangat berterimakasih.

Seadainya pemerintah daerah tidak menambah ijin pembuatan mal baru dan menggantinya dengan taman kota.

Seandainya setiap masyarakat sadar menjaga kebersihan pemukimannya sehingga anak-anak bermain dengan nyaman.

Seandainya perindustrian diletakkan jauh dari pemukiman sehingga asap pabrik tidak mengganggu pernapasan.

Seandainya saya dan keluarga bisa libur lebih panjang, saya akan membawa anak-anak ke pantai atau persawahan.

Anak-anak perkotaan memerlukan ruang yang aman dan nyaman untuk bermain. Hanya saja, tidak semuanya bisa mengungkapkan. Mari kita suarakan bersama.

Memahami Sudut Pandang Anak Kecil

Video diatas sangat menggelitik. Kepolosan anak-anak itu mengajak kita, orang dewasa, untuk melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.

Anak-anak mendeskripsikan dirinya sebagai sosok yang manis, disayang, penting dan sibuk. Ego anak-anak menempatkan kebutuhan mereka menjadi hal utama.  Menurut anak-anak, bermain adalah hal yang paling penting dalam usia anak-anak. Bermain dapat mengembangkan kemampuan sosial, emosional, intelektual dan fisik.

Seringkali timbul perbedaan sudut pandang antara orangtua dan anak-anak soal bermain. Menurut orangtua ada "bahaya" mengintai dibalik bermain seperti cedera fisik dan kotor.  Sedangkan menurut anak, kotor itu berarti beraktivitas, mencoba hal baru, kebebasan, berani gagal, belajat dan bukan merupakan masalah yang mengkhawatirkan. Berani kotor itu baik.

Bagi anak, bermain adalah hal yang mereka lakukan dengan menuruti ide-ide, kepentingan dan dengan cara mereka sendiri tanpa didikte oleh orang dewasa bagaimana harus melakukannya.

Bermain adalah cara anak belajar sendiri selain hal-hal yang dipelajari di sekolah. Bedanya, cara belajar dengan bermain jauh lebih menyenangkan, seru dan menantang.

Baiklah, mari kita menggunakan sudut pandang anak dan mencoba memahami kebutuhannya.

Tampaknya saya harus rela ketika mendapati rumah berantakan, mainan  dan potongan kertas berserakan. Itulah ulah anak-anak saya Cinta dan Asa di rumah.  Tak ada kesempatan rumah bisa rapi. Menurut mereka itulah cara mereka bermain dan berbahagia.

Tak heran juga mengapa anak-anak suka bermain kotor-kotoran dan basah di halaman. Buat orang dewasa itu kotor, tapi bagi anak itulah cara mereka mencoba sesuatu.

Atau ketika saya berteriak histeris melihat Cinta memanjat palang besi di playground, "Awas jatuh, Nak!" sambil membayangkan diri sendiri gemetaran saat berada di ketinggian. Padahal itu cara anak melatih ketangkasannya dan mereka tidak takut ketinggian!

Tak jarang saya mengomel mendapati Asa dan Cinta berkeringat hingga bajunya basah dan bau. Padahal mereka baru selesai mandi sore. Tapi saya tidak jadi melarang mereka berlari-larian. Siapa yang sanggup menghentikan derai tawa ceria mereka?

Biarkan Anak Berani Kotor.

Ya, ya, ya... Saya harus menahan diri lebih kuat agar tidak melarang ini itu pada anak-anak. Rasa khawatir ini harus dikelola. Daripada paranoid sendiri, lebih baik menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif agar anak bisa bermain.

Saya memilih bersikap sebagai pendamping daripada pengawas. Pendampingan pun hanya saat anak sangat kecil. Di atas three tahun sebaiknya menjauh dalam radius minimal five meter dan berpura-pura tidak melihatnya. Saat anak bermain petak umpet di halaman, saya pun asyik sendiri menyiram bunga. Padahal maksud saya sambil sesekali melihat anak-anak.

Dalam bermain harus siap berkotor-kotor. Menyadari bahwa berani kotor itu berdampak baik, saya mengubah cara pandang saya terhadap kotor.  Daripada saya melarang anak-anak membuat proyek "waduk" untuk kura-kura peliharaannya di halaman, lebih baik saya siapkan ditergen Rinso Antinoda untuk mencuci baju kotor mereka. Beres kan?

Sebagai orangtua tak diragukan lagi kita sangat mencintai mereka.  Bagaimanapun mereka bertumbuh dan suatu saat melepaskan diri dari pelukan kita. Tak ada cara lain selain membiarkan mereka memiliki kemampuan menjelajah dan menaklukkan lingkungan. Dan cara yang mereka tempuh adalah bermain.

Rinso Kids Today Project adalah kampanye yang bertujuan mengajak orangtua memahami cara pandang anak terhadap sesuatu. Dengan memahami cara pandang anak, diharapkan orangtua memenuhi kebutuhan anak akan bermain.

Minggu, 23 Agustus 2020

Ciptakan Lebih Sering Wajah Bermain

Anak-anak adalah sosok dengan ekspresi spontan dan jujur. Ketika mereka gembira mereka tertawa, sebaliknya ketika bersedih mereka diam.

Kembali membahas kebutuhan penting anak-anak adalah bermain. Ternyata bermain mendatangkan berbagai perasaan dalam diri anak dan keluar melalui ekpresi wajahnya. Dengan bermain anak-anak mengenal kreativitas, kegigihan, organisasi, kontrol diri, keterampilan sosial, ketekunan jiwa, mandiri, dan percaya diri. Seperti saat mereka mencoba sesuatu yang baru, mengambil resiko, bergerak untuk maju dan saat mereka menikmati dunianya.

Saya suka meng-capture ekspresi Cinta dan Asa saat bermain. Ternyata tidak selalu tertawa.  Tergantung aktivitas apa yang mereka lakukan.  Aktivitas fisik di luar rumah lebih banyak menunjukkan wajah bermain.

Sejak kayuhan pertama pada pedal sepedanya, terlihat wajah Cinta mengerahkan tenaga. Begitu sepeda berjalan, terlihat Cinta menikmati kecepatan yang membuat angin menerpa pipi dan rambutnya. Saat bergerak lurus, berbelok, atau menghindari lubang di jalan menimbulkan ekspresi yang berbeda-beda.

Berbeda lagi dengan Asa. Dia lebih ekspresif lagi, ditambah dengan suara jeritan dan tawa yang lepas.  Saat mengaduk-aduk lumpur, ekspresi Asa cukup serius dan fokus. Setelah puas dan dia memporak-porandakan danau buatannya dengan menyemprot air, ekspresi wajahnya berganti tertawa dan ceria.

Jika kita cermat mengamati, saat bermain ada wajah siap menjalani tantangan, ada wajah tengah berusaha, wajah tegang mencoba hal baru, wajah kaget, wajah penuh keingintahuan dan wajah bangga karena berhasil.

Menyenangkan sekali melihat ekspresi wajah bermain Cinta dan Asa. Wajah mereka tampak bersinar. Kelihatan sekali bahwa bermain adalah hal yang sangat disukainya.

Seberapa sering?

Video diatas adalah bagian dari Rinso Kids Today Project yang bertujuan mengajak kita merenung.  Sekarang yang menjadi pertanyaan buat saya selaku orangtua, seberapa sering anak-anak memiliki wajah bermain?  Dan pertanyaan kedua, seberapa sering saya menyaksikannya langsung?

Wajah bermain tentu saja sesering anak-anak melakukan aktivitas bermain. Terkait dengan kesibukan rutinitas sekolah anak, semakin sedikit tercipta wajah bermain, dan dipenuhi dengam wajah berpikir. Anak yang jarang bermain cenderung kurang bahagia, sedih, muram, pesimis, mudah marah, dan anti-sosial.  Betapa seriusnya dunia tanpa wajah-wajah bermain.

Dari keseluruhan aktivitas bermain anak baik di sekolah maupun di rumah, tidak bisa one hundred% saya saksikan. Walaupun hampir bisa dijadwalkan sehari hanya pada sore hari, saya tetap ingin melihatnya. Barang satu atau setengah jam saya melihatnya dari kejauhan.

Dan ternyata, sesekali anak-anak melirik ke arah saya saat bermain. Ooo, mereka juga ingin dilihat. Dengan bangga mereka ingin Mama-nya tahu hasil karya "ajaibnya" dan ketangkasan barunya.  Mereka berharap ekspresi balasan saya sama gembiranya seperti mereka. Mau belepotan terkena lumpur, atau baju terkena cat, atau badan basa keringatan, rasa kaget dan marah saya pun terurungkan.  Mengapa marah kalau saya melihat wajah mereka bergembira ?

Melihat betapa bahagianya mereka bermain, semakin besar tekat saya menciptakan waktu luang bagi anak-anak terutama, dan bagi kami orangtuanya, agar mereka bisa bermain lebih sering.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Koleksi Museum Sebagai Perantara Sejarah

"Mama, tadi aku melihat Nandi di Museum Nasional. " Demikian kata putri saya, Cinta, usai kunjungannya ke Museum Nasional pada 9 Maret 2014 lalu.

"Apa itu Nandi ?" tanya saya.

"Nandi itu adalah patung berbentuk sapi jantan. Nandi ditemukan dekat Candi Singasari Jawa Timur. Anehnya, Nandi itu memakai kalung mutiara, bunga, dan lonceng. Juga memakai pelana dan ikat pinggang," jelas Cinta.

"Di Museum Nasional banyak sekali benda-benda dari jaman kerajaan kuno, Ma. Untuk apa sih Ma benda-benda kuno itu disimpan di museum?" lanjut Cinta.

/pic/nandi.jpg
Nandi, foto dari www.Museumnasional.Or.Identity

Satu hal yang saya petik dari kunjungan anak ke museum adalah mereka mengetahui penggalan cerita di masa lampau dengan melihat koleksi museum. Sebuah pengetahuan yang tidak didapatkan dari orangtuanya, atau kakek-neneknya. Yang museum ceritakan jauh melompati waktu sekian generasi. Tak hanya menghubungkan kisah lampau pada pengunjung museum, koleksi museum juga menghubungkan sejarah lintas wilayah pulau, negara bahkan benua. Seperti yang terlihat di museum Nasional, pengunjung tak hanya dari dalam negeri, banyak juga dari luar negeri.

Koleksi museum berupa benda-benda bisu. Ditemukan satu per satu, pada waktu yang acak. dan dari lokasi berbeda-beda. Ketika ditemukan sebagian besar benda tersebut tanpa cerita pengantar. Di sini peran para  arkeolog sangat besar untuk dapat menghubungkan kepingan-kepingan puzle sejarah. Benda-benda yang ditemukan dicari keterkaitan satu sama lain berdasar kesamaan tempat, fungsi dan perkiraan waktu pembuatannya. Arkeolog meneliti hingga kemudian mereka-reka sejarah yang paling masuk akal. Semakin kuno benda yang ditemukan, semakin sulit menguak sejarah yang menyertainya.

Sesuai dengan fungsi museum sebagai tempat menyimpan, memelihara dan mengelola koleksi benda-benda bernilai sejarah, maka pengembangan museum dititik beratkan pada  bagaimana koleksi-koleksi tersebut bisa lestari dan bermanfaat optimal lintas generasi.

Melestarikan Koleksi Museum Nasional

Museum Nasional berdiri sejak jaman pemerintahan Belanda di Indonesia, tepatnya 24 April 1978.  Museum ini didirikan untuk tujuan penelitian dalam  bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Museum Nasional dikenal oleh masyarakat Jakarta sebagai Museum Gajah, karena ada patung gajah di halaman depan. Dikenal juga sebagai "Gedung Arca" karena di  koleksinya banyak berupa arca.

Museum Nasional kini dibawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Museum Nasional  terkait visi "Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa".

Di Museum Nasional, terdapat koleksi prasejarah, numismatik-keramik, etnografi dan arkaeologi. Pemeliharaan koleksi dilakukan sehari-hari pada untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari warisan budaya. Caranya dengan menyimpan pada kondisi ruang yang memadai, pemantauan, pencatatan secara berkala, termasuk juga dokumentasi dalam bentuk digital.

Museum dan perkembangan jaman.

Seiring perkembangan jaman, museum perlu penyesuaian-penyesuaian. Perubahan yang dimaksud tentunya dengan tetap menjaga nilai-nilai histori. Koleksi museum sewajarnya bertambah dari waktu ke waktu (bukan berkurang karena pencurian). Penambahan jumlah koleksi memerlukan ruang lebih banyak.

Koleksi museum pun merentang waktu lebih panjang.  Perlahan namun pasti, peradaban demi peradaban terekam dalam koleksi.  Masa kita saat ini pun kelak akan menjadi sejarah. Dan meninggalkan koleksi-koleksi baru.

Koleksi arkeologi adalah aset ilmiah Indonesia.  Karena itu harus benar-benar dijaga keamanannya dari pembalakan dan pencurian. Dalam era kompetisi, Indonesia harus banyak belajar pada negara-negara yang mengembangkan ilmu arkeologi dengan penuh kesadaran dan taat pada prinsip-prinsip ilmia. Arkeologi Indonesia harus mengejar ketinggalan, terutama dalam kegiatan analisis dan interpretasi melalui penelitian arkeologis.

Para arkeolog yang memahami prinsip pelestarian satu persatu akan pensiun. Artinya harus ada regenerasi. Tugas untuk melahirkan generasi-generasi baru ini diamanahkan kepada bangsa, khususnya pendidikan tinggi dalam bidang arkeolog.

Seiring waktu pula, masyarakat membutuhkan informasi yang lebih terbuka seputar koleksi-koleksi museum semakin. Di technology digital ini, koleksi museum sudah saatnya dikemas dalam bentuk virtual juga, yang bisa diakses melalui internet site atau multi media. Terkait hal ini perlu kerja keras pihak museum untuk menyusun statistics base dan mengemasnya dalam bentuk populer yang bisa diakses siapapun, dari manapun. Keterbukaan informasi dibalik koleksi tersebut akan menghubungkan lebih banyak kepingan puzle sejarah bumi.

Peran masyarakat untuk museum.

Apa yang bisa kita lakukan untuk museum? Dimulai dari hal-hal mudah yang, antara lain:

  • Membantu dalam menginventaris koleksi. Maksudnya, apabila ada yang menemukan sesuatu benda diduga bernilai sejarah, sebaiknya dilaporkan kepada pihak museum. Peran masyarakat sangat penting dalam hal ini agar temuan-temuan benda bersejarah tidak jatuh kepada oknum-oknum yang berniat memperjual-belikannya hingga ke negara-negara lain.
  • Turut merawat koleksi. Caranya adalah dengan bersikap tertib saat berkunjung. Perhatikan anjuran dan larangan yang berlaku di museum. Misalnya dilarang menyentuh kaca penyimpanan artefak, tidak menyentuh pada koleksi yang rapuh, tidak bersandar pada arca dan sebagainya. Jika ragu-ragu jangan segan untuk bertanya pada petugas museum.
  • Menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui museum. Caranya dengan sering mengunjungi museum, mencari tahu website dan berita terkait museum, dan menceritakan pada generasi muda terutama anak-anak tentang manfaat museum dan bagaimana dasar pengelolaan koleksi museum.
  • Membangkitkan popularitas arkeologi di kalangan generasi muda. Caranya dengan lebih banyak memperkenalkan hal-hal tentang sejarah nusantara, kepurbakalaan, dan profesi arkeolog yang menantang dan menarik. Saat ini peminat jurusan arkeologi di perguruan tinggi masih sedikit. Hal ini terkait dengan kurangnya minat generasi mudah mempelajari sejarah dan kurangnya serapan lapangan pekerjaan dalam bidang arkeologi di Indonesia.

*****

"Mama, apa artinya monumen di depan Museum Nasional, bentuknya melingkar seperti lorong pusaran air yang didalamnya ada bentuk orang-orang?" Tanya Cinta.

"Itu adalah gambaran pusaran waktu. Bukan benar-benar pusaran. Waktu digambarkan panjang seperti lorong atau pusaran dan kita manusia melewati di dalamnya. Dengan berbagai kegiatan dan peristiwa," jelas saya.

"Apa hubungannya dengan museum?" Tanya Cinta lagi.

"Iya, karena museum menyimpan koleksi-koleksi yang bisa membawa kita pada kisah-kisah di waktu lampau," jawab saya.

Museum collection make connection. Koleksi museum menjadi perantara sejarah. Biarlah anak-cucu kelak mengetahui peradaban nenek moyangnya dahulu dan kini.

 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id
 foto dari www.museumnasional.or.id

Sumber :

http://www.Museumnasional.Or.Identification

http://asosiasimuseumindonesia.Or

Sabtu, 15 Agustus 2020

Stripes For Love, Ulurkan Cinta dan Harapan untuk Pasien Cilik

Bermula dari suatu hari yang kurang menyenangkan. Mobil yang dikendarai suami terpaksa masuk bengkel dan saya membayangkan kerepotan seminggu ke depan tanpa mobil. Sembari menunggu proses klaim, saya ke ke restoran Mc Donald di jalan Pajajaran Bogor, bersama Asa dan Cinta. Tujuannya untuk mengilangkan kekesalan.

Saya memesan paket Happy Meal langganan anak-anak dan teh panas untuk saya sendiri. Di meja Kasir terlihat dua sampel kaos yang menarik mata. Selain desainnya yang unik, ada tulisan yang langsung mengena di hati saya, Hope dan Love.

Hope and Love.

Asa dan Cinta, nama anak-anakku.

Asacinta.Blogspot.Com, nama blogku.

Hope and Love for destiny, tagline blogku.

Sebuah daya yang menggerakkan saya membeli dua kaos itu. Dan saya berhasil melupakan kejadian naas hari itu.

***

Sebenarnya ada four jenis kaos, bertuliskan Hope, Love, Joy dan Smile, yang tersedia dalam dua warna putih dan merah. Di dalam kemasan kaos saya mendapati sebuah brosur. Barulah saya tahu apa maksud Mc Donald menjual kaos tersebut.

Kaos yang saya beli itu adalah bagian kecil dari program besar yang dilakukan Ronald Mc Donald House Charities (RMHC), organisasi nirlaba yang bergerak untuk membuat anak-anak dunia lebih sehat, bahagia dan sejahtera. RMHC ini sudah ada sejak 2011 di Indonesia, dan telah tersebar di 58 negara di Dunia. Motif garis-garis itu digambar oleh pasien anak dan menyimbolkan garis kehidupan mereka.

Fokus RMHC adalah membantu anak-anak yang sedang sakit melalui pendekatan beberapa aspek yang mereka butuhkan. Bantuan medis sudah pasti, begitupun bantuan materi. Lebih dari itu, RMHC ingin melengkapi bagian hidup anak-anak yang hilang karena sakit. Apa itu? Yaitu cinta dan harapan yang akan membuat mereka tersenyum dan bahagia.

Karena dengan cinta, anak-anak yang sakit itu mendapatkan perawatan dan sentuhan yang menyembuhkan. Dan dengan harapan, jiwa mereka akan lebih kuat lebih kuat melawan penyakitnya.

Realisasi software RMHC di Indonesia antara lain adalah Care Mobile, Family Room dan Rumah Singgah. Saya ulas sedikit ya satu persatu :

Care mobile, atau mobil klinik dibuat untuk menolong anak-anak di daerah, terutama yang jauh dari Puskesmas ataupun Rumah Sakit. Sampai September 2014 ini, RMHC care mobile telah memeriksa lebih dari 9.000 dan mengimunisasi lebih dari 55.000 bayi dan anak.

Foto dari www.rmhc.or.id

Family room, adalah ruang tunggu keluarga untuk pasien anak dan keluarganya selama menjalani pengobatan di rumah sakit. Suasana rumah sakit umumnya "seram" dengan aroma obat-obatan yang menyengat. Nah, dengan adanya family room yang nyaman, pasien anak-anak akan lebih cepat sembuh karena merasa di rumah sendiri dikelilingi orang-orang tercinta. Saat ini RMHC family room telah ada di Departemen Radioterapi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Semoga segera menyusul pembuatan family room di rumah sakit - rumah sakit lainnya.

Foto dari www.rmhc.or.id

Rumah Singgah (Ronald Mc Donald House) yang saat ini sedang dibangun rencananya diperuntukkan bagi pasien anak dan keluarganya yang akan berobat di RS Fatmawati Jakarta. Lokasi rumah singgah ini di Jl. Kana Lestari, Lebak Bulus, Jakarta.  Di rumah singgah ini anak-anak akan merasa lebih nyaman didampingi keluarga mereka.

Kita bisa berpartisipasi lho!

Caranya bisa dengan berdonasi langsung  di dropbox RMHC di outlet Mc Donalds. Bisa juga dengan membeli kaos seperti yang saya lakukan. Terus terang, saya tadinya tidak niat menyumbang, niatnya beli kaos keren itu. Eh, ternyata dari hasil penjualan kaos akan didonasikan ke yayasan RMHC. Alhamdulillah, jadi bisa berdonasi untuk anak-anak sakit melalui RMHC.

Merasa kurang banyak donasinya? Boleh banget kok menyumbangkan lebih. Bisa melalui switch uang ke Rekening Yayasan RMHC di BCA (no rek. 0353.163.300) atau OCBC NISP (no rek. 0548.0000.9445).

Bagi yang punya waktu dan tenaga lebih banyak, bisa juga lho menjadi relawan. Caranya dengan mendaftar melalui e mail bunga.Sari@identity.Mcd.Com atau rini.Wardhani@identification.Mcd.Com

Selain bentuk partisipasi di atas, masih ada cara partisipasi yang paling mudah dan hemat. Tulis kata-kata motivasi melalui www.stripesforlove.com atau melalui facebook RMHC Indonesia dan Twitter @rmhc_id dengan hastag #stripesforlove .

Mudah kan? Kita bisa berkreasi kata-kata yang positif yang nantinya akan disampaikan kepada pasien anak-anak.

Saya dan anak-anak sudah membuat pesan motivasi. Kita mungkin tidak tahu, dari tulisan sederhana ini bisa membawa manfaat bagi para pasien cilik. Mereka merasa diperhatikan. Mereka akan tahu, bahwa banyak yang ingin berteman dan menyayangi mereka.

Mengunjungi situs www.rmhc.or.id membuat saya seolah menjenguk para pasien cilik. Kembali teringat kejadian naas tentang mobil penyok yang menimpa saya. Apa yang kami alami tidak seberapa dibandingkan derita para pasien cilik tersebut. Kecil-kecil mereka berjuang melawan penyakit berat, diantaranya kanker. Dan muncul malu pada diri sendiri saat membandingkan  diri ini dengam kesabaran dan ketegaran mereka. Saya bisa apa?

Wah, apa yang dilakukan RMHC ini menularkan semangat dan menggugah rasa sosial kita. Program ini tak hanya menyentuh para dewasa, tapi juga menyentuh empati anak-anak. Mereka adalah benih dimana rasa empati mudah bertumbuh. Anak-anak itu mengingat sesamanya. Sebayanya. Mereka membayangkan kondisi sesamanya yang sedang sakit. Dan dari situlah tumbuh empati.

Untuk sembuh, anak-anak itu membutuhkan lebih dari pengobatan. Kita bisa membantu mereka dengan berbagi cinta, harapan, kebahagiaan dan senyum.

Kesehatan adalah nikmat tiada tara.

*****

Tulisan ini menjadi Juara 3 dalam Lomba Blog RMHC-IIDN Semarang.

Senin, 29 Juni 2020

Mengenal Perpustakaan Cinta Baca

26 September 2015, saya ke perpustakaan Cinta Baca di jalan Bogor Baru, Bogor. Ke sini sebenarnya dalam rangka menghadiri Kelas Bogor, acara bulanan Blogger Bogor. Daya pikat kedua adalah janjian kopdar sama teman-teman dari grup WA Asinan Blogger.

Tema Kelas Bogor kali ini adalah "Membukukan Blog", dibawakan oleh narasumber Pak Adi WKF. Beliau adalah blogger yang telah membukukan sebagian tulisannya di blog. Ehm, sama dong kita Pak...Saya juga sudah membukukan weblog dengan judul Mommylicious,hehehe..

Dalam diskusi banyak ditanyakan mengenai hak post tuliaan di blog. Sebagian penerbit tidak mau tulisan yang sudah diblog lantas dibukukan. Tapi ada juga penerbit yang menganggap hal tersebut tidak masalah. Pembaca weblog belum tentu sama dengan pembaca buku, demikian alasannya.

Btw, baru kali ini saya ke perpustakaan Cinta Baca. Padahal saya sering lewat situ. Perpustakaan Cinta Baca ada di beberapa kota, salah satunya di Bogor. Awalnya menyediakan bacaan segala usia, dalam perkembangannya difokuskan untuk bacaan anak dan remaja. Programnya salah satunya adalah gerakan berbagi buku untuk anak-anak di daerah terpencil.

Ruang baca yang nyaman
Asinan Blogger di Kelas Bogornya Blogger Bogor *panjang*
Ramai sesaat oleh kehadiran kami
Ruang baca lesehan
Dalam kesempatan ini Kelas Bogor juga mengumumkan pemenang tulisan lomba blog tentang E commerce dari kelas bulan sebelumnya. Alhamdulillah..saya menang, bersama Afifah yang menang talenan dan mba Winny yang menang buku.

Rabu, 24 Juni 2020

Internet Aman untuk Perempuan dan Anak [Sebuah Diskusi KPPPA dan Blogger]

Coba seek di youtube dengan kata kunci "Predator Online" , "Predator Social Media" maka akan terlihat banyak video bagaimana predator anak beraksi melalui media net. Syereeem.

PR bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) adalah upaya melindungi perempuan dan anak dari dampak dampak negatif internet. Sebagaimana banyak diberitakan bahwa akhir- akhir ini kejahatan terhadap perempuan dan anak melalui media net meningkat. Penyebab utamanya adalah karena rendahnya pengetahuan dan ketrampilan di bidang TIK.

Pak Indriyatno Bayumurti dari KPPA menunjukkan video dari youtube tentang riset yang menunjukkan betapa mudahnya anak-anak percaya pada kenalan di sosial media dan terperangkap.  Ironinya, para orangtua mereka tidak percaya kalau anaknya melakukan hal itu, orangtua percaya pada sikap manis anak di rumah.

Namun kita juga tidak perlu takut berlebihan. Bagaimanapun perkembangan TIK yang ditandai adanya internet telah membawa kita pada era baru, era digital. Manfaat internet telah kita rasakan sebagai komoditi dan kekuatan bagi yang mengusainya  Internet membuat seseorang mampu mengelola informasi, menangkap peluang, berbisnis, menyelesaikan pekerjaan dan lain sebagainya. Teknologi Informasi telah memberikan manfaat pada berbagai aspek kehidupan.

Kejahatan internet berkembang sesudahnya. Sasaran paling banyak adalah perempuan dan anak, karena mereka adalah golongan yang paling rendah tingkat pemahaman terhadap internet. Kasus-kasus kejahatan baru yang berkembang dan beritanya sampai ke masyarakat tanpa pemahaman yang memadai akan menjadi kepanikan semata. Perlu adanya edukasi agar net tidak ditakuti.

Dalam upaya meningkatkan pemahaman pada net aman, KPPPA tengah menyiapkan Pedoman Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Bagi Perempuan. Saat ini masih dalam bentuk draft yang butuh masukan untuk penyempurnaan isinya. Untuk itulah saya dan para blogger diundang dalam diskusi 2 hari di Hotel Salak Bogor, tanggal 7-eight Desember 2015 lalu. Saya dan belasan blogger lain diundang oleh mba Ani Berta, blogger yang sebelumnya telah bekerjasama dengan KPPA.

Acara berlangsung efektif. Kami diminta mencermati draft Pedoman TIK tersebut. Pedoman ini mencakup pengenalan internet, manfaat internet, cara berinternet aman hingga pembuatan blog. Kompetensi yang diharapkan antara lain kompetensi dasar berinternet, kompetensi  TIK dalam rumah tangga, kompetensi TIK dalam ekonomi, dan kompetensi TIK dalam sosial.

Mba Ari dari Kominfo mengemas masukannya dalam presentasi. Beliau menyoroti bahwa sebaiknya yang dikenalkan pada anak adalah memilih web aman terpercaya dan bukan sosial media.

Banyak masukan dari blogger pada draft ini. Selaku pengguna net dengan intensitas tinggi, blogger sangat tepat untuk dimintai pendapat dan berdiskusi.

Mbak Haya Aliya Zaki mengusulkan perlunya pedoman mengambil records yang bersumber dari tulisan/foto orang lain dengan memperhatikan Hak Kekayaan Intelektual. Tujuannya agar anak-anak tahu bawa copy paste gambar/tulisan tanpa ijin itu tidak diperkenankan.

Mengingat kultur perempuan di Indonesia banyak yang aktif di pengajian / majelis taklim, agar pemahaman net aman ini disisipkan dalam kegiatan tersebut, dimana pengaruh ustad/ustadzah sangat besar. Ide ini disampaikan oleh mba Nefertite Fatriyanti.

Mba Dessy Yusnita Ristianto pun menceritakan pengamatannya pada anak-anak yang banyak bergadget ria dan kemudian menderita silinder atau rabun mata. Jadi usulnya, perlu ditambahkan pedoman bergadget secara sehat.

Saya tak mau ketinggalan, mengusulkan adanya pendekatan psikologis dalam  cara penyampaian yang bersahabat pada anak sehigga antara orangtua dan anak tidak terjadi "perang" terus soal pelarangan gadget dan internet. Memang sudah ada fitur parental control, tapi petunjuk teknis saja tidak cukup, orangtua perlu belajar cara mendekati anak.

Acara diskusi 2 hari ini berkesan buat saya karena menambah banyak wawasan baru. Semoga pedomannya cepat jadi dan segera bisa diakses semua kalangan.

Internet adalah sahabat kita, asalkan tahu cara aman penggunaannya.

Rabu, 17 Juni 2020

Langkah Kecil di Hari Bumi

"Kemana kita hari ini, Ma?"

"Main yuk ke Kebun Raya Bogor"

Dan langkah kecilpun dimulai.

S ebenarnya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor ini dalam rangka survei lokasi untuk fieldtrip tamu-tamu dari Eropa dan Asia, bulan depan. Saya harus melihat rute, ketentuan masuk KBR, mau lihat apa di sana, sekaligus reservasi tempat makan siang. Hari itu, kami masuk dari pintu depan Hotel Amaris di jalan Padjajaran. Kami berjalan kaki menyusuri jalan dengan deretan bunga Heliconia dan pepohonan. Matahari cerah dan awan biru. Pemandangan yang sempurna.

Kebun Raya Bogor adalah pilihan tepat rekreasi outdoor untuk mengalihkan kebiasaan ke mall. Di samping kesempatan untuk memperkenalkan keanekaragaman tumbuhan dalam wujud "hutan kecil".  Anak-anak akan belajar pentingnya keanekaragaman hayati dan konservasi tumbuhan untuk menjaga udara tetap segar dan air tetap melimpah.

Mengenal Kebun Raya Bogor.

AdalahProf. Caspar George Carl Reinwardt, tahun1816 diangkat oleh pemerintah Belanda menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan untuk Pulau Jawa. Reinwardt melakukan riset dalam bidang ilmu tumbuh-tumbuhan, dan mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di sekitar halaman Istana Bogor. Gubernur yang menjabat saat itu adalah Letnan-GubernurThomas Stamford Raffles. Dengan bantuan seorang ahli botani William Kent, lahan yang awalnya merupakan halaman Istana Bogor dikembangkan menjadi sebuah kebun yang cantik. Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya yang sekarang.

Kebun Raya Bogor berkembang dari yang semula sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda, kemudian mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia bidang botani. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894.

Berjalan dengan visi"Menjadi salah satu Kebun Raya terbaik di dunia dalam bidang konservasi dan penelitian tumbuhan tropika, pendidikan lingkungan dan pariwisata", Kebun Raya Bogor seluas sekitar 47 hektar ini kini menjadi paru-paru kota Bogor, sekaligus tempat wisata edukatif dan konservatif. Koleksi botani di Kebun Raya Bogor saat ini adalah  sekitar 218 family, 1227 genus, 3.301 spesies dan 13.061 spesimen

Setibanya langkah kami di hamparan rumput yang luas, mulai terlihat ramainya orang berpiknik. Banyak kelompok-kelompok gathering dan reuni. Sekelompok gadis-gadis berpanas-panas di hamparan rumput. Mereka asyik berfoto dengan latar kolam teratai dan rumpunan pepohonan di kejauhan.

"Ayah, boleh ya menginjak rumput?"

"Tergantung jenis rumputnya, Nak. Yang ada di hamparan itu jenis rumput Teki, yang relatif tahan diinjak-injak"

"Oh, pantes tetap kelihatan hijau"

Yuhuu, ada air mancur dan kolam teratai di tengah Kebun Raya Bogor. Anak-anak betah berada di sekitaran kolam. Tentu saja, di sekitaran kolam udara terasa lebih sejuk.

Teratai nan cantik mekar di tengah kolam. Capung-capung beterbangan di sekitar kolam. Capung adalah simbol ekosistem air yang terjaga.

Ada beberapa perairan di wilayah Kebun Raya Bogor.

"Kamu tahu tidak manfaat air?"

"Buat minum manusia dan hewan"

"Betul, ada lagi?"

"Buat menyiram tanaman. Tanaman kan butuh minum juga"

"Pintar, ada lagi?"

"Hm, apa ya?"

Selain untuk sumber cairan makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, air sangat menunjang kehidupan di bumi ini. Air hujan yang tersimpan dalam tanah menjadi sumber air tanah, adalah inventory jangka panjang untuk kehidupan. Air membuat tumbuhan hidup, sehingga mampu menyediakan kebutuhan makanan untuk manusia dan hewan.

"Kita harus menjaga kebersihan air dan menghemat air, Nak"

"Aku tahu, caranya dengan tidak membuang sampah ke sungai kan?"

"Kalau hemat air, tahu caranya nggak?"

"Eng..Apa ya..Dengan tidak sering-sering mandi!"

Hahahaha...Celetukan yang membuat semua tertawa.

"Boleh dong mandi, agar badan bersih dan sehat. Tapi mandinya pakai bathe, agar tidak banyak menggunakan air. Air bekas mandi dan mencuci bisa dialirkan ke taman untuk menyiram tanaman"

Jika tanaman subur, dampak positif akan dirasakan.  Tumbuhan juga membuat udara sejuk karena di siang hari mampu mengubah karbon dioksida menjadi oksigen.

"Apa itu karbon dioksida dan oksigen?"

"Karbon dioksida adalah udara sisa pembakaran misalnya asap, sedangkan oksigen adalah udara segar yang dihirup manusia dan hewan"

Hm, agak susah ya menjelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak-anak.

Langkah-langkah kecil membawa kami semakin ke dalam Kebun Raya Bogor, di mana kawasan pohon besar dan tua berada.

"Waaaah, besar dan tinggi sekali pohonnya."

"Iya, itu umurnya udah ratusan tahun. Semakin tua semakin besar pohonnya"

Kami mendekati dua pohon besar yang di bawahnya ada bangku taman. Sepertinya memang disediakan untuk pengunjung Kebun Raya Berfoto.

Tapi sayang, sayaaaang banget, banyak goresan di batang pohon. Dan jika dilihat lebih dekat, banyak coretan di bangku batu itu. Aduuuh, parah banget ya. Saya tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka yang mencoret-coret. Eksis untuk kepentingan pribadi, alih-alih membawa manfaat, malah merusak keindahan dan merusak kelestarian pohon.

"Nggak boleh ya coret-coret pohon, bangku, batu atau apapun di tempat wisata," kata saya dengan nada geram, entah kepada siapa. Anak-anak pun tahu, mencorat-coret adalah perbuatan buruk yang memalukan.

Kebun Raya Bogor ini melestarikan spesies pohon yang sudah tua dan langka. Tahukah kamu, sudah banyak hutan heterogen di Indonesia yang beralih menjadi hutan homogen, misalnya hutan karet, damar, jati dll. Akibatnya apa? Ekosistem tumbuhan dan hewan terganggu. Keseimbanhan alam terusik. Akibatnya, banyak spesies tanaman dan hewan yang lambat laun punah.

Dari kawasan pepohonan, kami melangkah ke Botani shop. Di sana terdapat display aneka bibit tanaman.  Tak jauh dari situ ada museum zoologi, tempat koleksi hewan yang diawetkan. Manfaatnya agar anak-anak sekolah bisa belajar dari koleksi di sana.

Di tengah jalan terlihat sekelompok anak-anak Pamuka tengah beristirahat. Tampaknya mereka baru saja keliling Kebun Raya Bogor untuk belajar tentang tumbuhan.

"Coba tebak, Nak, nanti sampah makanan mereka dibuang pada tempatnya nggak?"

"Nggak tau deh Ma, kalau ibu-ibu yang di sana tadi nyampah. Jorok deh"

Suasana hening sejenak.

"Kalau anak sekolah pada mengerti menjaga kebersihan, kan sudah diajari di sekolah, Ma"

"Iya betul Nak, buang sampah pada tempatnya termasuk cara kita mencintai bumi."

Tuh, kan..Malu sama anak sekolah kalau masih buang sampah sembarangan.

Lelah kaki ini melangkah. Kami kembali ke Grand Garden Cafe, mendekati pintu semula kami masuk. Sambil minum Es Teh Manis, kami melanjutkan obrolan dengan anak-anak. Sambil saya ingatkan bahwa Hari Bumi pada 22 April akan segera tiba. Kepada anak-anak perlu dikenalkan cara-cara sederhana tentang mencintai bumi. Kami banyak belajar hari ini. Bersama langkah-langkah kecil anak-anak, mereka jadi tahu tentang manfaat pohon, manfaat air, manfaat udara segar, mengapa tidak boleh merusak coret-coret, mengapa tidak boleh buang sampah sembarangan.

Sebuah langkah kecil di Hari Bumi. Walaupun kecil tapi jangan surut. Dan bukan hanya pada hari ini saja Bumi harus dijaga.  Karena sesuatu yang besar bermula dari yang kecil, dilakukan secara konsisten dan terus menerus.

Menjelang sore, kami pulang. Anak-anak belum puas dan masih ingin ke Kebun Raya lagi. Bagaimana kalau minggu 24 April 2016? Akan ada peringatan Hari Bumi di sana.

Ikuti Persiapan Aksi Cinta Bumi (23-24 April 2016). Info lengkap dihttp://www.krbogor.lipi.go.id/

Facebook : Kebun Raya Bogor-LIPI

Twitter : @KR_Bogor_LIPI

Instagram : bogor_botanic_gardens

Ada beberapa rangkaian acara menarik.

1. Penanaman bersama Tarakanita

Dilaksanakan hari Sabtu, 23 April 2016

Penanaman sejumlah 300 pohon di Ecopark, CSC-Cibinong

2. Tenda Seni. Dilaksanakan hari Minggu, 24 April 2016. Kegiatan yang akan dilaksanakan disini : lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba sketsa, lomba ilustrasi botani.

Three. Lomba blog, Tema : ?Hari Bumi Kebun Raya Bogor?

Four. Selfie with tree.

Salam lestari.

#HariBumi2016

#BogorBotanicGardens

#22April

***

Tulisan ini menjadi Juara 1 Lomba Blog Hari Bumi- Kebun Raya Bogor