Tampilkan postingan dengan label on Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label on Media. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2020

[CHIPversity] Pesan Moral Game Farm Story

Tulisan ini dimuat pada CHIP online http://chip.co.id/chipversity/general/8530/pesan_moral_game_farm_story

Pesan Moral Game Farm Story

Game ibaratkan dua mata pisau, bisa mendatangkan candu, bisa juga mendatangkan manfaat. Ada game yang mengandalkan kecepatan, kejelian, ketangkasan tangan, dan kemampuan manajerial pemainnya. Saya termasuk penyuka game manajerial. Saya mengunduh game Farm Story dr Team Lava. Selain Farm Story, Team Lava banyak mengeluarkan game manajerial diantaranya Fashion Story, Bakery Story, Restaurant Story dan City story.

Diantara semua, saya paling menggemari farm story karena banyak manfaatnya sebagai berikut:

(1). Semangat menyelesaikan tantangan.

Farm Story menyajikan tantangan berupa pengumpulan poin untuk peningkatan level, penambahan uang untuk membeli bibit tanaman dan perlengkapan, serta perluasan lahan. Semakin luas lahan, semakin banyak tanah bisa ditanami dan menghasilkan profit, atau untuk keperluan dekorasi eksterior pertanian. Ada juga tantangan yang muncul pada waktu tertentu, biasanya akan mendatangkan bonus besar atau dekorasi yang bagus.

(2). Semangat bersosial.

Farm story membutuhkan online internet. Kita bisa melihat community (komunitas) sesama pemain dari berbagai belahan dunia, lalu bisa menambahkan mereka sebagai neighbour (tetangga) dengan cara bertukar kode identitas (ID code). Untuk nama pertanian, saya memilih nama yang "Indonesia banget".

Kita wajib mempunyai tentangga karena untuk memperluas lahan, selain kecukupan jumlah uang atau berlian, juga disyaratkan memiliki sejumlah tetangga. Menambah tetangga juga berguna untuk menyelesaikan tantangan tertentu. Kita diwajibkan mempunyai sejumlah peralatan yang bisa diperoleh dengan mengirimkan permintaan kepada tetangga dan menunggu persetujuannya.

Permintaan ini hanya berlaku untuk satu kali per hari per orang. Jadi, semakin banyak tentangga kita, semakin banyak yang kita bsia mengirim permintaan dan semakin banyak peluang respon cepat yang kita dapatkan. Perlu diingat, tidak semua pemain online dan memberikan respon. Sebaliknya kita pun juga akan menerima permintaan kiriman barang.

Kita bisa saling mengunjungi pertanian teman sekedar untuk melihat dekorasi pertaniannya atau untuk menyiram tanamannya. Setiap kali berkunjung kita akan diberi bonus uang dan poin yang berguna untuk meningkatkan level. Dan setelah kita menyiram tanaman kita mendapatkan bintang yang berguna untuk meningkatkan popularitas baik dalam community maupun neighbours. Popularitas ini penting agar saat pemain dari manapun berkunjung ke community bisa melihat pertanian kita di deretan atas, sehingga lebih sering dikunjungi dan mendapatkan siraman air. Saat memanen tanaman, siraman ini bisa berubah menjadi poin.

(3). Mengenal pertanian.

Proses pertanian dimulai dari membeli lahan, mencangkul lahan, menanam lalu menunggu dan panen. Kita bisa memilih jenis tanaman yang akan kita tanam dengan harga dan waktu panen berbeda-beda, serta nilai hasil panen yang berbeda pula. Dari memilih-milih tanaman ini kita mengenal berbagai jenis tanaman, yaitu buah, sayuran, biji-bijian dan bunga. Juga bisa dibeli aneka jenis pohon. Kita bisa mengenal bentuk-bentuk tanaman yang semula hanya kita dengar namanya. Seperti jellybeam, barley, kiwi, marjoram dan lain-lain.

(4). Manajemen waktu.

Dalam Farm story kemampuan manajemen kita diuji, diantaranya manajemen waktu. Bagaimana kita bisa mengejar target sesuai waktu yang ditetapkan atau target hangus dan hadiah melayang. Manajemen waktu juga penting dalam memilih jenis tanaman, apakah tanaman yang lama panen atau cepat panen. Pada saat kita aktif bermain, bisa memilih tanaman cepat panen. Namun tanaman tersebut juga akan cepat busuk apabila tempo tertentu tidak segera dipanen. Tanaman 1 jam akan busuk 1 jam setelah masak, tanaman 22 jam akan busuk 22 jam setelah masak. Jadi, saat kita tidur atau sibuk, disarankan menanam tanaman yang lama agar tanaman tidak membusuk dan tidak sia-sia uang untuk membeli bibit.

Dalam realita, manajemen waktu game ini dapat menghindarkan kita dari permainan terus menerus. Kita bisa saja hanya memainkannya sehari sekali dengan tempo bermain tidak lebih dari 30 menit untuk mengurus pertanian kita.

Main game bisa bermanfaat, asalkan tepat memilih dan bisa manajemen waktu.

***

Tulisan di atas menjadi salah satu dari pemenang hiburan

http://chip.co.id/chipversity/general/8845/pengumuman_pemenang_kontes_menulis_artikel_bertema_game_favoritku

Selasa, 01 September 2020

Perpustakaan Ramah Anak (Repost untuk Media LPMP Jawa Timur)

Tulisan asli ada di hyperlink berikut : http://asacinta.Blogspot.Com/2012/08/perpustakaan-ramah-anak-untuk-indonesia.Html

Minggu, 30 Agustus 2020

TELADAN SEORANG SUPIR BIS

Kebaikan suatu kelompok tergantung dari pemimpinnya. Kalimat ini berlaku juga pada sebuah kendaraan bernama bis karyawan. Sebuah kendaraan akan berjalan dengan baik apabila dipimpin oleh supir yang baik pula.

Adalah Pak Nanang, seorang supir bis jemputan karyawan di instansi tempat saya bekerja. Setiap hari, bis Pak Nanang menempuh rute bagian utara kota, untuk menjemput karyawan yang tinggal di sekitar jalur itu. Pak Nanang bukan satu-satunya supir bis. Selain Pak Nanang masih ada 7 supir bis lagi yang bertugas dengan rute berbeda. Tapi Pak Nanang terdengar begitu istimewa di telinga penumpang, bahkan penumpang bis lain. Ini karena beliau terkenal dengan citra sebagai supir bis yang sangat baik.

Mengawali perjalanannya di pagi hari, Pak Nanang selalu berdoa sebelum menjalankan kendaraannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di jalan raya yang padat dengan jarak tempuh satu jam. Banyak hal bisa terjadi mengingat di jalan kita akan menjumpai motor yang berseliweran, jalanan yang macet, atau berbagai kejadian diluar dugaan. Kekuatan doa mampu menenangkan hati dalam menghadapi berbagai situasi di jalan. Doa inilah yang menjadikan perjalanan kami sehari-hari menjadi berkah, dilindungi dan menyenangkan.

Pak Nanang sangat ramah pada semua penumpang bisnya, tidak peduli jabatan orang tersebut. Keramahannya juga diperuntukkan kepada seluruh karyawan, walaupun bukan penumpang bis nya. Kadangkala ada karyawan yang ingin ikut naik bis, Pak Nanang dengan senang hati mempersilakan pegawai tersebut naik. Atau di lain kesempatan ada karyawan perempuan yang membawa anak balitanya, dengan senyum ramah Pak Nanang menerimanya. Karena kebaikannya, tak heran jika bisa Pak Nanang selalu penuh penumpang. Penumpang rela jika harus duduk bertiga untuk bangku yang semestinya diisi dua orang.

Disela padatnya bis, Pak Nanang berbincang dengan penumpang, saling bertukar informasi dan saling menasehati. Pak Nanang juga suka menghibur kami dengan senandung dan guyonan-guyonannya. Begitu hangat dan damainya perjalanan kami menuju dan pulang kantor. Di pagi hari, suasana bis menyemangati, sedangkan di sore hari, suasana bis mampu menenangkan karyawan yang lelah. Ini tak lain dan tak bukan karena terbawa suasana tenang dan ikhlas dari supirnya.

Pak Nanang tidak enggan melayani telepon atau sms dari penumpang. Kadangkala ada penumpang yang ketinggalan bis. Jika waktu masih memungkinkan, dan dengan persetujuan penumpang lain, Pak Nanang akan menunggu penumpang yang ketinggalan tersebut.

Rasa kekeluargaan terjalin diantara sesama penumpang bis. Ini karena Pak Nanang mampu mengajak kami saling peduli dengan kesulitan sesama penumpang. Ketika ada anggota bis yang mempunyai acara pernikahan atau sunatan, Pak Nanang mengumumkan di bis dan mengajak kami untuk hadir. Begitupun jika ada berita duka dari anggota bis, Pak Nanang mengajak kami untuk menyumbangkan dana sebagai bukti ikut berbelasungkawa.

Sikap Pak Nanang tak hanya baik kepada penumpang bis, tapi juga baik kepada pengguna jalan yang lain. Toleransinya sangat tinggi. Pak Nanang menghadapi motor dan mobil yang kadang-kadang kurang bersahabat dengan hati lapang. Bahkan Pak Nanang bersikap ramah kepada ?Polisi gopek? Yang melakukan pungli di setiap tikungan. ?Mereka pasti tidak ingin menjadi ?Polisi gopek?, keadaanlah yang memaksanya. Niat saya membantu, saya ikhlas, jika bisa membantu mereka kenapa tidak ?? Demikian kata Pak Nanang bijak.

Adalah benar bahwa rejeki diatur oleh Allah, dan berbanding lurus dengan usaha dan kebaikan yang kita tanam. Rejeki tak hanya berupa materi, namun juga kesehatan dan kebahagiaan. Pada setiap awal bulan setelah gajian, sudah menjadi kebiasaan penumpang untuk menyisihkan uang sekedarnya sebagai tanda terimakasih kepada supir bis yang dinaikinya masing-masing. Tanpa bermaksud menghitung materi, kebaikan Pak Nanang ternyata menjadikan uang yang terkumpul untuknya lebih banyak dibanding pada supir bis yang lain. Namun begitu Pak Nanang tidak pernah merasa sombong. Hatinya tulus menjalankan tugas sebagai supir. Beliau menyadari betul bahwa bis yang dikendarainya adalah milik instansi, bukan miliknya, dan bukanlah alat untuk meminta hormat atau alat untuk bersombong. Sebenarnya kenyataan ini sudah jelas, namun ternyata tidak semua supir bis menyadari hal tersebut. Sebagian diantara mereka ada yang pilih-pilih penumpang, bersikap angkuh pada penumpang, dan kurang melayani.

Sebuah kebaikan dan jiwa kepemimpinan bisa berasal dari siapa saja. Termasuk dari seorang supir bis. Kami sebagai penumpang bis selalu berdoa, semoga Pak Nanang diberi kesehatan dan panjang umur agar dapat lebih lama bersama-sama menikmati perjalanan dengan bis karyawan.

Tulisan ini dimuat di majalah Paras edisi Februari 2014



Kamis, 27 Agustus 2020

STOP MELAJU DALAM MALL !!

Seiring perkembangan jumlah mal yang meningkat pesat di kota-kota besar, gaya hidup masyarakat pun berubah. Mal tak hanya menjadi kebutuhan belanja, melainkan juga untuk hiburan dan bermain.

Sayangnya, beberapa permainan di mal saya rasa tidak aman dan tidak selayaknya dilakukan di dalam gedung mal.

Lihat saja saat kita jalan-jalan di mal, tiba-tiba melintas anak-anak main mobil-mobilan, sepatu roda, atau otoped. Sering kali tanpa pengawasan orangtua. Bahkan anak di bawah umur (1-2 tahun) juga terlihat naik mobil-mobilan yang dikendalikan dari jauh oleh petugas atau orangtuanya. Saya meragukan, naik mobil-mobilan ini apakah keinginan si anak itu sendiri atau keinginan orangtuanya?

Anak-anak itu cenderung ingin melaju tanpa memikirkan keramaian di mal. Akibatnya terjadilah serempet sana sini, atau menabrak orang dan benda di sekitarnya. Saya sudah pernah mengalaminya. Sedang mengantre membeli donat di salah satu outlet, tiba-tiba diseruduk mobil-mobilan dari belakang. Rupanya si anak yang mengemudi ini tengah melihat ke kanan kiri karena ada couter mainan. Kaget pastinya, kesal juga, tapi mau marah tapi menahan diri, masa iya marah sama anak kecil? Mana mengerti dimarahi? Tak lama orangtua si anak datang, bukan untuk meminta maaf pada saya, tapi untuk memarahi anaknya. Hmmm… hanya bisa mengelus dada. Dalam hati saya bilang “Pilihkan permainan yang aman buat anaknya dong Pak!”

Jika sudah demikian, permainan bukan hanya membahayakan keselamatan pengguna, tapi juga keselamatan orang-orang di sekitarnya. Seringkali saya paranoid sendiri membayangkan seandainya itu mobil-mobilan atau otoped menabrak kaca etalase ponsel atau kompor milik outlet makanan ya?  Siapa yang bertanggung jawab?

Anak-anak butuh permainan, pemilik persewaan butuh penghasilan, pihak mal butuh pemasukan. Jika semua mengutamakan egonya, kebiasaan membahayakan ini akan berlanjut. Orangtua harusnya bijak memilih permainan untuk anak. Jika konsumen berkurang, otomatis bisnis sewa ini akan mencari bentuk lain.

Pihak mal juga harusnya tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri. Keselamatan dan kenyamanan pengunjung mal menjadi tanggung jawab Pengelola Mall. Solusinya, sediakan lokasi yang cukup luas untuk arena permainan anak ini. Jika langkah ini dirasa kurang menguntungkan, lebih baik ditiadakan sekalian, daripada lebih banyak lagi korban senggolan otoped dan mobil-mobilan. Walaupun tidak fatal, tapi juga tidak nyaman. Tidak ada kan, yang mau tertabrak mainan saat sedang enak-enaknya jalan di mal?

http://theurbanmama.com/articles/memilih-permainan-aman-di-mal.html

Rabu, 26 Agustus 2020

Pengalaman Live Talkshow Indonesia Morning Show NET TV

Surprise ketika Senin siang, 7 April 2014, saya mendapatkan telepon dari Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger. Intinya saya diminta hadir esok hari dalam acara stay Indonesian Morning Show, sebuah acara talkshow di NET TV. Wow, mendadak sekali.

Tanpa bersiapan berarti, Selasa (eight April 2014) saya berangkat subuh-subuh ke NET TV di kawasan Lingkar Mega Kuningan Jakarta. Semula saya kira hanya akan menjadi "penggembira" menemani Mira Sahid. Ternyata, dari KEB hanya ada bertiga, Mira Sahid, Indah Juli dan saya selaku Srikandi Blogger. Waduh, serius nih ? Saya tampil dong...???

Bismillah, setelah briefing sesaat dengan kru NET TV, mas Cahyo, kemudian kami di- touch up rias wajah sedikit biar secantik dan sekeren presenternya, dan kami diminta menuju studio. Saat itu acara Indonesia Morning Show tengah berlangsung. Acara ini mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Sesi talkshow ada di pertengahan acara. Sekitar pukul 08.00

Mau tau rasanya? Grogiiiiii.

Saya pikir saya sendiri yang grogi karena memang minim pengalaman berbicara di depan umum. Mak Mira Sahid dan Indah Juli saya yakin sudah lebih pengalaman. Ternyata, mereka berdua mengaku juga deg-degan. Baru kali ini menghadapi kamera dan stay. Sekali lagi, stay !

Tibalah giliran kami. Kru NET TV menghitung mundur, 10, 9, 8 , .....1 !

Adrian Maulana dan Shahnaz menyapa kami. Lalu mengobrol seperti biasa. Tanya jawab spontan seputar weblog, KEB dan Srikandi Blogger. Saya pun pasrah, menyerahkan diri untuk berani. Meniatkan tampil apa adanya saya. Toh saya bukan artis, hehehe...

Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Obrolan hanya berlangsung selama 14 menit.

Di luar studio kami disambut kembali dengan mas Cahyo "Wah, bagus bu, nggak kelihatan groginya seperti waktu briefing tadi. Semua mengalir lancar dan obrolan seru. Menarik sekali. Terimakasih untuk tampilan yang menarik tadi" demikian kata mas Cahyo pada kami.

Hggh...Legaaa sekali. Serasa ringan kaki ini melangkah. Saya pulang sambil senyum-senyum sendiri.

Sesaat saya buka fb, twitter dan bbm, ramai ucapan selamat dan konfirmasi dari para sahabat dan keluarga.

Sampai sehari sesudahnya saya tidak berani melihat rekam ulang tayangan tersebut di Youtube. Sekarang sudah punya keberanian. Terlihat saya sedikit grogi, tapi no longer terrible, lah..Hahaha..Harap maklum, bukan artis.

Terimakasih KEB dan NET TV atas pengalaman seru luar biasa ini.

Foto koleksi Mira Sahid

Sekilas tentang NET TV.

Saya menonton NET TV belum ada setahun terakhir. Saya langsung jatuh cinta pada acara Indonesia Morning Show. Presenternya pinter membawakan acara, santai, segar, juga karena berita-beritanya dipilih yang optimis dan bagus-bagus. Ini penting, karena terusterang, saya bosan dengan berita buruk tentang korupsi, kriminalitas dan kemiskinan. Rasa-rasanya jiwa kita jadi pesimis dan apatis.

Nah, di NET ini, berita sengaja dipilih yang baik-baik. Tentang prestasi anak bangsa, tentang semangat hidup (si miskin), tentang dedikasi pendidik di pedalaman, tentang wisata lokal...Indonesia banget deh. Kemasannya cutting-edge , tapi Indonesia. Emang Indonesia nggak boleh moderen? Emang Indonesia harus tradisional dan primitif ? Enggak juga kaaaan....

Untuk acara entertain information, yang biasanya di TV lain isinya gosip artis cerai, narkoba, berantem dll yang aduhai...Di NET ini no gossip! Berita seputar artis lebih banyak tentang kegiatannya dan prestasinya. Tapi nggak ngebosenin loh. Misal gini, berita tentang pengacara artis, yang diliput bukan soal kasus artisnya, tapi soal pengalaman dan profesionalisme mereka sebagai pengacara. Jadi belajar nggak nyinyir-nyinyir. Melihat sesuatu dari kebaikannya.

Sayang, belum seluruh wilayah Indonesia menerima sinyal NET TV. Mudah-mudah segera meluas jaringannya, banyak orang yang memilih NET TV karena NET TV menyajikan tontonan yang aman untuk keluarga.

Selasa, 18 Agustus 2020

Dokter Kandungan Favorit

Sudah lama tidak mengirim testimoni ke tabloid Nakita, eh bulan Juli kemaren dimuat lagi. Serasa punya infant lagi, ingat masa senang-senangnya mejeng di media cetak ^_^.

Iseng saja saya mencoba berkomentar pada fanpagenya Nakita. Pertanyaan yang dilontarkan adalah : siapa dokter kandungan favoritmu, praktik dimana dan mengapa alasannya? Beberapa kalimat saya ketik dalam kolom komentar. Yang terbayang adalah dr. Inayatullah Rivai SPOG. Beliau menolong kelahiran Cinta dan Asa. Saya mengenal beliau dari rekomendasi teman. Kebetulan praktik di rumah sakit Azra dekat rumah.

Dokter Inayat banyak sekali pasiennya. Hebatnya, beliau terlihat mengingat satu persatu pasien yang ditanganinya. Yang membuat saya mantap memilih beliau karena karakternya yang sabar dan menyemangati. Pas banget buat calon ibu atau ibu muda yang become-turned into akan melahirkan. Apalagi saya jauh dari ibu dan keluarga. Jadi butuh banget yang namanya ketenangan. Saya dan suami mempercayakan kelahiran pada dokter Inayat.

Dari pengalaman-pengalaman ibu-ibu lain yang dimuat di Nakita, banyak alasan yang bisa menjadi pertimbangan kita. Bisa diklik gambar berikut untuk memperbesar dan membacanya.

Sabtu, 15 Agustus 2020

Rekomendasi Buku Anak untuk Majalah Parenting

Memilih buku anak gampang-gampang susah. Di saat semakin banyaknya buku anak terbit, ini sebenarnya kabar gembira. Tapi sebagai orangtua yang harus bijak (dan berhemat) memilih buku anak harus pintar. Dengan price range anda saat ini, anda harus memilih di antara puluhan bahkan ratusan buku anak yang baru.

Vania Rosa (Redaktur Parenting Indonesia) meminta saya sebagai koresponden edisi Oktober 2015. Tema bulan itu adalah tentang buku anak. Jadi saya diminta merekomendasikan five buku anak versi saya sendiri.

Pertanyaan apa judul buku favorit anak saya lemparkan di fb. Respon cepat dari teman-teman saya. Kebanyakan para penulis buku anak. Dan mereka merekomendasikan bukunya sendiri :)

Berbekal rekomendasi, saya hunting buku ke toko buku. Pastinya buku yang masih bisa diperoleh di toko buku yang akan saya rekomendasikan. Eh, di toko malah bigung lagi. Pasalnya banyak judul lain yang tak kalah menarik. Tidak semua judul yang direkomendasikan teman-teman di facebook ada. Saya lihat banyak jenis buku anak yang tebal, banyak halaman, edukatif dan berlatar agama. Soal harga, ini yang membatasi pilihan saya. Buku yang harganya di atas Rp.50.000, membuat saya berpikir ulang untuk membelinya. Bukunya bagus sih, dan tebal. Ilustrasi dan kertas juga ekslusif.  Tapi kira-kira anak anak bakal suka nggak ya kalau bukunya berat? Cepat bosan  nggak ya kalau bukunya tebal?

Saya membawa pulang beberapa judul. Selebihnya akan saya lengkapi dari koleksi anak di rumah. Dan berikut buku anak yang saya rekomendasikan. Saya menambahkannya 2 dari 5 yang diminta.

(1.) Judul : Kisah Seru Hari Penting Sedunia

Penulis : Watiek Ideo & Fitri Kurniawan

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Anak diajak mengenal hari-hari penting yang diperingati oleh penduduk dunia. Ada kisah berhikmah dan banyak pengetahuan umum yang melatari hari penting tersebut. Buku tebal 159 halaman  full colour dan ekslusif sehingga tidak mudah rusak. Ilustrasi menarik. Kalimat penyampaian mudah. Buku dwi bahasa Indonesia Inggris

(2). Judul : Hujan! Hujan! Hujaaaan!

Penulis : Agnes Bemoe

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kelebihan : Anak suka air. Dari judul dan ilustrasi menarik minat anak untuk membaca dan belajar tentang air. Buku ini menyajikan 6 cerita dan dongeng yang berkaitan tentang hujan. Satu halaman hanya 1-2 kalimat, gambar ekspresif,  sehingga cocok untuk anak yang belum bisa membaca sekalipun. Buku 184 halaman full colour, kertas kualitas bagus dan ilustrasi menarik. Buku bahasa Indonesia.

(3) Judul : Fino Gatal Gatal

Penulis : Anies Listyowati

Penerbit : Erlangga for Kids

Kelebihan : Buku bercerita tentang sebab Fino gatal-gatal. Cerita ringan disajikan dengan kalimat pendek namun ekspresif. Ilustasinya juga ekspresif sehingga memudahkan orang tua membacakan untuk anaknya. Anakpun tahu ceritanya walau belum bisa membaca. Tebal  24 halaman full colour.

(4) Judul : Dinosaurus

Penulis : John Woodward

Penerbit : Erlangga for Kids

Kelebihan : Dinosaurus menarik perhatian siapapun, apalagi anak-anak. Buku dinosaurus sudah banyak, tapi yang ini bisa disaksikan dalam bentuk pop-up digital 3D ya g dapat bergerak. Arahkan bagian buku yang ada tanda khusus ke arah kamera laptop. Sesaat kemudian akan muncul animasi dinosaurus bergerak mirip hologram di layar laptop. Buku berisi 67 halaman full colour dengan ilustrasi sangat mirip foto, ukuran besar dan terkesan hidup.

(5) Belajar Memasak Bersama Bella

Penulis : Fita Chakra

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Buku ini asyik dibaca oleh anak perempuan  kelas 2-6 SD. Minat anak untuk memasak dibangun melalui cerita Bella saat memasak di dapur.  Selain cerita ada resep dan panduan memasak 5 resep mudah: Mie Panjang Umur, Panekuk Persahabatan, Coklat Bella dan Bunda, Puding Stroberi untuk Tiana dan Donat Kentang. Ilustrasi menarik, tebal 124 halaman full colour. Buku dwi bahasa Indonesia Inggris.

(6) Judul : Peternakan, seri Ensiklopedia Favoritku

Penulis : Jacqques Beamount

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Buku ini adalah ensiklopedoa ringan dan mudah untuk anak TK-SD. Gambar menarik dan materi yang diangkat juga ringan dan menarik. Menambah wawasan tentang peternakan di luar negeri. tebal 45 halaman.

(7) Judul : Rumah Ajaib

Penulis Keisya 7 tahun

Penerbit : Pastel book

Kelebihan : Buku yang ditulis oleh anak dengan sudut pandang anak. Menceritakan imajinasi Kayla menemukan rumah ajaib yang ditempati peri. Buku ini berisi 11 cerita pendek. Tebal 100 halaman, separuh gambar, separuh tulisan. Cocok menjadi novel pertama anak usia SD.

Rekomendasi tersebut di muat di majalah Parenting Indonesia bulan Oktober 2015. Yang bikin seneng, nama saya ditulis dengan predikat sebagai "penulis".

Artinya?? ya..saya penulis. Yess!!!

Butuh pengakuan :p

Itulah tadi 7 rekomendasi saya. Silakan rekomendasikan pilihan anda :)

Kirim keterangan dan cover buku ke surat.pembaca@parenting.co.id

Kamis, 13 Agustus 2020

Mommylicious on Media

Saya mau replace tentang jurnal buku Mommylicious.

Terhitung 2 bulan dari awal peredaran, buku Mommylicious mulai tampil di beberapa media nasional. Bangga pastinya, soalnya media-media nasional gitu loh...

Ini sesuai harapan saya, tapi tetap surprise. Kok secepat ini?

Ini dia tampilannya:

Majalah Living Indonesia Oktober 2014
Majalah Living Indonesia Oktober 2014
Event diatas bergandengan dengan Modena Cooking Clinic. Btw, majalah Living Indonesia sendiri sudah tidak terbit lagi. Jadi pemuatan itu pada beberapa edisi sebelum terakhir terbit.

Koran Republika, 14 Oktober 2014
Tabloid Mom & Kiddy, 16 Oktober 2014
Majalah mom dad i, Oktober 2014

Majalah Working Mothwr , Nov 2014

Majalah Ayahbunda no 22 / 2014

Yang terakhir ini di muat di Ayahbunda. Senangnya minta ampun :)

Selain karena sang endorser (Tenik Hartono) sebagai pimred Ayahbunda, majalah ini juga raksasa media parentig nasional. Mba Tenik Hartono kabarnya mau "pindahan" ke majalah Grazia. Konon berkat keberhasilannya membesarkan Ayahbunda. Sukses ya mbak Tenik.

Majalah Ayahbunda sendiri akan dipimpin oleh mba Prameshwari Sugiri, sekaligus Pemred Parenting Indonesia.

Sabtu, 08 Agustus 2020

Mommylicious On Media (Again)

Sudah berlalu 6 bulan sejak Mommylicious terbit, rupanya masih ada beberapa media yang memuat reviewnya. Alhamdulillah...

Walaupun agak telat, tapi saya maklum , karena media yang memuat Mommylicious terbit mingguan dan bulanan, sementara daftar antri banyak, jadi baru tayang 6 bulan setelah terbit.

Berikut tambahan dari put up sebelumnya, Mommylicious on Media. Sejauh yang saya ketahui, total sudah dimuat di 10 media (lokal-nasional).

Januari 2015, Mommylicious tampil di majalah Nakita. Sebenarnya sudah sejak September 2014, redaktur Nakita mengabarkan akan memuat reviewnya. Tapi baru tayang Januari 2015. Lama ya masa tunggunya? Maklum, tabloid nasional.

Masih januari 2015, saya kembali mengisi buletin sekolah-nya Cinta. Sudah dua kali mengisi buletin ini, saya kemudian "nego" boleh nggak pasang iklan Mommylicious? Dan ternyata boleh :)

Oh iya, 21 Desember 2014, jelang peringatan Hari Ibu, resensi Mommylicious dimuat di Harian Singgalang, Padang. Resensi ditulis oleh Kania Ningsih. Sedangkan foto ini saya dapatkan dari Yervi Hesna.

Saya hanya punya foto pinjaman, beberapa kali kontak bagian distributor Harian Singgalang tapi nggak direspon. Padahal niatnya mau beli beberapa eksemplar koran hari itu.

Kemudian awal Februari, Mommylicious dimuat di majalah Pregnancy. Majalah ini berada dalam naungan MRA Group, yang juga menerbitkan Mother and Baby dan Cosmopolitan.

Selasa, 04 Agustus 2020

Yang Berubah Di Prasekolah (Responden Majalah Ayahbunda)

Sudah cukup lama saya tidak menulis artikel untuk media cetak. Kangen, pakai banget! Tapi aktivitas  blogging dan kantor sangat menyita waktu, jadi ide-ide untuk media masih diperam. Apalagi sekarang lagi siap-siap lahiran buku kedua yang ditulis keroyokan.

Wawancara pun lewat whatsapp. Jadi kayak chatting sehar hari aja. Tema kali ini tentang perbedaan aturan di prasekolah. Saya punya pengalaman dari anak-anak saya, Cinta dan Asa. Mereka prasekolah di tempat yang sama. Hanya saja selisih wakti five tahun. Kepala sekolahnya pun sudah ganti.

Perbedaan masa five tahun membawa banyak perbedaan. Menurut saya, perubahan-perubahan tersebut baik-baik saja, karena menyesuaikan kebutuhan jaman. Memang sebagian orangtua pada awalnya merasa enggan mengikuti perubahan. Tapi jika sekolah tegas dan memberikan sosialisasi yang jelas, semua pihak akan mengikuti aturan barunya.

Opini saya 'nyempil' di kotak kiri bawah itu. Selebihnya tulisan mba Rina Susanti dari responden lain.

Soal aturan baru.

Beberapa perubahan aturan prasekolah yang saya rasakan antara lain adalah:

  1. Dulu : Anak batuk pilek masih boleh sekolah, kecuali demam dan diare. Sekarang: Batuk, pilek, gatal sudah tidak boleh ke sekolah. Alasan, agar sakit tidak bertambah parah dan karena takut menulari teman-temannya.
  2. Dulu : saat kegiatan outing siswa boleh diantar orangtua. Sekarang : hanya perwakilan orangtua yang boleh mendampingi. Alasan, agar anak lebih mandiri. Hadirnya orangtua membuat anak memisahkan diri dari kelas dan memilih nempel dengan orangtua.
  3. Dulu: ulangtahun pada jam sekolah menjelang pulang. Sekarang : ulangtahun seusai pulang sekolah. Alasan, agar waktu belajar tidak berkurang. Bayangkan jika dalam satu bulan ada 3-4 anak yang ulang tahun? Btw, soal ulangtahun ini secara pribadi saya tidak rayakan lagi untuk si adik. Dulu si kakak sempat 2 kali ultah di sekolah. Sekarang si adik belum pernah ultah. Alasan pribadi: agar tidak membebani orangtua lain menyiapkan kado. Saat Asa ultah saya hanya membagikan godiebag tanpa acara khusus. Pilihan snacknya adalah buah, telur dan susu. Saya nggak mau membagikan makanan ringan yang mengandung MSG. Setidaknya, meminimalkan MSG ya.

Itulah sebagian perbedan aturan di prasekolah Cinta dan Asa. Selama untuk kebaikan bersama, saya setuju.

Minggu, 02 Agustus 2020

Liburan Seru Dalam Kota (Leisure, Republika)

Liburan sekolah Cinta berlangsung selama 3 minggu sejak pertengahan Juni hingga awal Juli 2012. Kami tidak berencana pergi kemana-mana, pasalnya saya dan suami bekerja.

Menjadi Asisten Mama

Liburan adalah kesempatan Cinta belajar tentang pekerjaan rumah, yaitu bagaimana membantu mama dan mengasuh adik. Untuk pekerjaan-pekerjaan mudah saya berikan kesempatan agar dikerjakan oleh Cinta . Selain melatihnya agar rajin membantu, berempati pada orang sekitar, bantuan Cinta juga cukup meringankan kesibukan saya, misalnya melepas diapers dan baju adik, mengambilkan dan membentang sesuatu untuk adik, merapikan mainan, dan yang menjadi favoritnya adalah menyisir rambut adik Asa yang hitam tebal.

Sortir, sortir, sortir

Di minggu kedua saya berencana mengajak Cinta untuk membereskan barang-barang di rumah seperti yang pernah kami lakukan sebelumnya. Keluarga kami pecinta buku dan majalah. Memang setiap 6 bulan, saya menyempatkan diri menyortir buku dan majalah, yang sudah tidak saya simpan saya berikan pada teman. Begitupun barang-barang Cinta, selain mainan, aksesoris rambut, buku dan majalah adalah koleksinya. Bedanya, saking sayangnya pada koleksinya, Cinta tetap mempertahankan barang-barang itu. Saya membiasakannya untuk rapi menempatkan barang sesuai jenisnya, jadi sewaktu-waktu dia perlukan tidak kesulitan mencari. Saya sediakan laci-laci plastik sebagai tempat penyimpanan. Laci-laci plastik ini cukup praktis, mudah dibersihkan dan mudah bagi Cinta untuk membuka tutupnya.

Baju-baju adalah barang kami yang juga perlu disortir . Apalagi baju Cinta dan Asa yang sedang pada masa pertumbuhan. Celana dan rok Cinta yang sudah menggantung saya pindahkan dari lemari Cinta ke tempat khusus baju yang akan disumbangkan. Lagipula, mumpung kondisinya masih bagus dan layak pakai.

Rekreasi dalam kota

Kesempatan rekreasi bagi keluarga bisa dilakukan pada hari sabtu dan minggu. Dengan keterbatasan waktu, rekreasi hanya bisa dilakukan di dalam kota. Lokasi tujuan yang paling sering adalah lapangan rumput atau kolam renang. Anak-anak suka bermain di luar ruangan. Di Bogor, banyak lokasi hijau yang bisa dikunjungi, misalnya kebun raya bogor, melihat rusa di halaman istana, ikut olahraga misalnya di lapangan, atau mengunjungi lapangan rumput di kampus IPB. Anak-anak bisa berlarian dan naik sepeda. Sementara anak-anak bermain, saya dan suami bisa menikmati asinan bogor atau tauge goreng.

Persiapan masuk sekolah

Pada minggu terakhir libur, saya harus cek kembali daftar tugas yang harus diselesaikan dan dibawa ketika Cinta sekolah kembali. Saya meminta Cinta menyiapkan buku-buku, PR, baju yang diperlukan dan perlengkapan sekolah lainnya. Sebagai hadiah kenaikan kelas saya belikan Cinta tas dan sepatu baru. Tiga minggu liburan akan berlalu tanpa terasa. Waktu memang terasa cepat ketika kita menjalaninya dengan gembira. Liburan sekolah tak harus bepergian jauh, kita bisa mengajak anak memanfaatkan waktu untuk kegiatan berguna. Sama serunya kok !

Perkedel Cinta (Rubrik Eating Well @ Majalah Parents Indonesia)

Boleh dong, merambah menulis resep makanan hehe..

Nggak bakal banyak, hanya resep-resep gampang yang aku kuasai. Salah satunya resep perkedel Cinta. Standar sih, pasti udah pada bisa kan..??

Yang seru adalah proses memasak dan foto-fotonya. Ternyata hasil jepretannku kurang bernilai seni, perlu belajar food fotografi deh kayaknya. Dan yang tampil di majalah adalah foto hasil jepretan redaksi. Sip...

Usia Enam ( Majalah Parenting Indonesia)

Angka enam dalam usia seseorang tidak sepopuler angka tiga belas tanda memasuki usia remaja atau angka tujuh belas tanda memasuki usia dewasa, serta tak mudah diingat seperti sepuluh, dua puluh lima dan lima puluh yang menjadi penanda pada ulang tahun pernikahan. Pada anak - anak, tonggak usia yang populer adalah satu, tiga, lima atau tujuh tahun, dan bukan enam tahun. Siapa menyangka ketika kemudian angka enam menjadi istimewa bagi saya dan Cinta. Pada angka enam di usia Cinta terjadi banyak hal dan peristiwa yang menuliskan titik-titik sejarah perjalanan hidupnya. Saya beberapa kali terkaget karena banyak tonggak tumbuh kembang yang semula saya kira akan terjadi beberapa tahun lagi justru terjadi tahun ini. Bagaimanapun kami harus siap, dan senangnya...Ternyata momen-momen berharga itu begitu menyenangkan meskipun awalnya cukup sulit.

Tahun lalu, kelahiran sang adik terjadi saat Cinta berusia 5 tahun, adalah jarak yang perfect menurut saya. Cinta terlihat cukup dewasa untuk memahami kehadiran sang adik dengan segala konsekuensinya. Cinta tidak merasa cemburu, bahkan sangat perhatian dan protektif pada adiknya. Hmmm..Kakak yang baik, begitu saya selalu menyebutnya.

Namun kesibukan saya dengan bayi baru agaknya menyita perhatian cukup banyak, sehingga saya melewatkan momen dimana Cinta mulai meninggalkan usia balitanya. Yang ada sekarang saya begitu terkagum-kagum dengan kemandirian Cinta. Dia sudah bisa mandi, memakai baju, makan, atau menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri. Dan wow....Saya tidak tau kapan itu mulai terjadi, Cinta sudah bisa membersihkan diri saat pipis dan buang air besar. Sifatnya yang lembut begitu telaten menjaga adik dan mengajaknya bermain, terutama saat saya perlu ke kamar mandi. Dan ketika saya tidur kelelahan, dengan sabar Cinta menunggu saya bangun sebelum minta dibuatkan susu atau makan malam. Jadi, walaupun saya melewatkan momen "selamat tinggal usia balita", saya mendapatkan gantinya dengan menyaksikan titik tonggak kemandirian Cinta pada usia 6 tahun.

Tahun ini juga menjadi tahun perpisahan Cinta dengan daycare, tempat dia dititipkan sejak usianya masih three bulan. Sesuai peraturan daycare bahwa anak yang dititipkan maksimal berusia 6 tahun. Perpisahan juga terjadi antara Cinta dengan taman kanak-kanaknya (kebetulan satu lingkungan dengan daycare) dan tahun ajaran mendatang sudah saatnya masuk SD. Saya sudah menduga Cinta akan mengalami perasaan sedih atas perpisahannya tersebut. Dan yang paling memberatkan adalah perpisahan dengan Bu Ita, gurunya sejak bayi. Bu Ita sudah menjadi mama kedua bagi Cinta.

Pada acara perpisahan, Cinta dan teman-teman kelasnya tampil ke panggung untuk penerimaan ijazah. Tak terbendung air mata Cinta tumpah saat guru kelas menyalaminya. Cinta merangkul erat seakan tak mau lepas. Hadirin terbawa suasana haru. Si bibi dan si mbak, para asisten daycare tersebut ikut berkaca-kaca. Saya yang semula mondar-mandir memotret akhirnya juga ikut menangis. Sementara itu, teman-temannya hanya tercenung memandang. Oh, sayangku...Kamu begitu perasa bagai orang dewasa. Kamu baru berusia 6 tahun dan sudah sangat mengerti arti perpisahan ini.

Dibalik panggung tangisnya masih berlanjut, dan sayapun menyusul membesarkan hatinya. Saya memahami Cinta begitu sensitif perasaannya. Cinta mengerti bahwa setelah acara pentas seni pelepasan TK B, maka dia tidak akan belajar lagi dengan bu guru dan teman-teman. Dia akan sangat terpukul dengan perpisahan ini. Meski begitu, saya berusaha tenang, serta menyampaikan bahwa perpisahan ini bukan berarti tidak akan ketemu lagi, hanya saja Cinta harus pindah sekolah. Sewaktu-waktu mau menemui guru - gurunya tentu saja diperbolehkan.

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum perpisahan yang mengharukan itu, Cinta sangat senang mengetahui dirinya akan segera menjadi anak SD. Satu jenjang untuk menjadi ?Orang besar? Akan segera sampai padanya. Cinta terlibat dalam proses pemilihan sekolah. Saya membawanya berkeliling ke lingkungan calon-calon sekolah. Pemilihan lingkungan yang aman dan nyaman menjadi penentu utama. Berbagai pertimbangan saya sampaikan kepada Cinta hingga akhirnya kami berhasil memilih salah satu sekolah yang sesuai. Selanjutnya Cinta juga saya libatkan secara aktif dalam persiapan observasi (tes masuk) sekolah, persiapan perlengkapan sekolah, dan persiapan intellectual terutama mengenai peraturan-peraturan Sekolah Dasar yang berbeda dengan Taman Kanak-Kanak.

Memang tren saat ini mulai bergeser, usia masuk SD tak lagi 7 tahun, banyak anak usia 6 tahun yang telah siap masuk SD. Dan Cinta bangga sekali akan menjadi anak SD. Baginya itu pencapaian yang hebat. Juga bagi saya tentunya...Tak terasa, saya sudah mempunyai putri usia sekolah. Saya sadari, dalam tahun-tahun ke depan akan ada romantika baru dalam mendampingi Cinta, si anak sekolah.

Jadi, usia enam bagi Cinta berarti menjadi kakak yang baik, menjadi anak mandiri, berpisah dengan daycare, dan menjadi anak sekolah. Saya pasti akan merindukan masa-masa mengandung, menyusui, dan mengurus balita. But the show ought to pass on, hidup terus berlanjut. Setiap jenjang usia anak-anak saya akan menjadi periode-periode indah dalam hidup saya.

Angka-angka hanyalah penanda usia. Angka enam memang istimewa bagi saya dan Cinta, mungkin angka lain yang menjadi istimewa bagi anda. Berapapun angkanya, keistimewaannya tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya ingin menjadikan setiap tahun memiliki kesan. Kesan indah kalau bisa, dan di atas itu, ada pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk anak-anak saya kelak. Tentang bagaimana mensyukuri tahun demi tahun, dan menggunakan waktu dengan berharga.

?Semoga mama bisa menyaksikan sebanyak mungkin momen bersejarah dalam hidupmu, Cintaku.., semoga kamu mampu membuat pilihan-pilihan tepat dalam hidupmu?

Jumat, 31 Juli 2020

MEMBANGUN BUDAYA PRODUKTIF ( Opini Republika )

Oleh : Murtiyarini

Koran Republika, 26 Juli 2012

Bangsa ini sedang kebanjiran produk impor. Merebaknya pusat perbelanjaan berbagai stage seharusnya menjadi etalase produk dalam negeri justru dibanjiri oleh produk-produk impor. Selain impor produk siap pakai, ada juga impor bahan baku (pengolahan di dalam negeri), atau bahkan impor nama saja. Yang terakhir ini terjadi pada produk yang 100% produk dalam negeri, namun tidak cukup percaya diri dengan nama lokal, maka dinamai dengan nama impor. Konsumen berhak memilih produk berkualitas. Ketika sebuah produk lokal berkualitas ditawarkan, dan tidak serta merta konsumen memilihnya maka tim marketing merasa perlu memberi merk asing pada produk lokal tersebut. Dalam kasus ini menunjukkan bahwa gengsi ikut berperan dan adanya krisis kepercayaan pada produk lokal.

Masyarakat membeli produk impor bukan berarti karena mereka membutuhkan produk impor. Masalahnya, manakala produk impor didampingkan dengan produk lokal di pasar, yang terjadi kemudian adalah masyarakat lebih memilih produk impor. Membanjirnya produk impor diperjelas dengan banyaknya bisnis distribusi seperti multi degree marketing dan franchise, bukan pada sektor produksi. Disini tampaknya perlu ditinjau ulang masalah regulasi masuknya produk-produk impor ke Indonesia. Kemudian perlu dilakukan kampanye terstruktur agar masyarakat lebih mencintai produk dalam negeri.

Sesungguhnya, Indonesia memiliki potensi alam agraris yang sangat potensial dan membanggakan. Namun kenyataan saat ini, negara sedang mengalami degradasi produktivitas dan kualitas pertanian. Di tahun 70-an, produktivitas pertanian mencapai 2,four% setiap tahun, namun sejak tahun ninety-an hingga kini produktivitas justru anjlok menjadi 0,6% padahal anggaran pertanian terus meningkat. Tahun 2011, produksi gabah kering giling hanya mencapai 65,39 juta ton dan lebih rendah 1,sixty three% dibandingkan tahun 2010. Hal serupa juga terjadi pada jagung dan kedelai. Sebaliknya, impor pangan selalu meningkat. Berdasarkan facts BPS selama Januari-Juni 2011, nilai impor 28 komoditi pangan Indonesia menembus 5,36 miliar dolar atau setara dengan Rp 45 triliun.

Turunnya produktivitas pertanian ditengarai akibat faktor iklim, degradasi kesuburan tanah, pemakaian zat agrokimia dalam waktu panjang, kurangnya riset di bidang pertanian, kurangnya sarana dan prasarana, kurangnya ketersediaan bibit bersertifikasi, alih fungsi lahan, dan kurangnya penyuluh. Padahal, sebenarnya faktor penting dan krusial penurunan produktivitas pertanian justru pada mental konsumtif yang semakin meningkat, diiringi dengan keputus-asaan petani dan turunnya budaya produktif masyarakat.

Mengembalikan orientasi

Walaupun tidak semua pihak bisa turun tangan pada titik produksi dalam arti yang sebenarnya, diperlukan dukungan banyak pihak untuk mengurangi watak konsumtif dan mendorong bangsa ini kearah budaya produktif dengan memegang prinsip dasar produktivitas, yaitu efesiensi, efektifitas, kualitas dan inovasi dari proses produksi.

Kita banyak berharap pada jalur pendidikan, terutama pendidikan tinggi sebagai motor kebangkitan budaya produktif. Di bidang pertanian, application-program pendidikan seharusnya mampu membekali jiwa mahasiswa sehingga orientasi pendidikan mengarah pada kekaryaan.

Fenomena yang terjadi saat ini sarjana pertanian lebih banyak bekerja pada sektor sosial sehingga menimbulkan pencitraan yang kurang baik. Menurut asumsi dikti, sarjana atau ahli madya pertanian, perikanan dan peternakan, 85% justru bekerja menjadi income, guru, financial institution atau advertising and marketing perusahaan. Disini terjadi disorientasi pendidikan, bahwa pendidikan tinggi pertanian hanya sebagai batu loncatan untuk meraih jenjang karir. Penting untuk ditumbuhkan kesadaran pada setiap mahasiswa bahwa pertanian merupakan sektor yang menjanjikan bagi masa depan diri sendiri maupun bangsa, bukan sekedar brandimage bahwa pertanian adalah sebatas aktivitas menanam padi.

Perguruan tinggi sesungguhnya mempunyai potensi riset yang dapat diandalkan. Pertanyaannya, seberapa banyak sarjana pertanian bisa mengoptimalkan fungsi riset untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Dikti telah merangsang mahasiswa kearah yang kreatif dan produktif, melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Program ini diharapkan mampu membangkitkan jiwa wirausaha dengan potensi riset yang telah ada. Produktifitas yang didukung kebijakan perguruan tinggi dan pemerintah yang visioner akan menempatkan sarjana sebagai sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing secara worldwide.

Pembangunan pertanian akan terwujud secara komprehensif jika semua aset intelektual berkontribusi di bidangnya masing-masing. Bidang politik dan pemerintahan berperan sebagai pengambil keputusan yang dapat menentukan prioritas kebijakan pertanian, bidang hukum mengatur ketentuan-ketentuan hukum pertanian, bidang pendidikan bertugas memacu semangat produktif peserta didik, bidang pekerjaan umum menyediakan infrastruktur yang memadai untuk proses produksi dan distribusi pertanian, bidang kesehatan melakukan inovasi pangan dan kaitannya dengan kesehatan, serta bidang-bidang yang lain.

Kata kunci pembangunan pertanian adalah produktivitas. Posisi negara produsen adalah yang terkuat dalam menguasai perhelatan dunia, lebih kuat daripada hanya sebagai negara penjual jasa distribusi, apalagi hanya sebagai negara konsumen. Oleh karena itu sudah selayaknya, produktivitas dijadikan sebagai budaya bangsa dan dikampanyekan dalam bentuk gerakan nasional, yang dapat dimulai dari lingkungan pendidikan tinggi. Kita berharap, sarjana pertanian yang produktif akan membawa semangat produktif pada masyarakat. Jika optimisme ini dapat dibangkitkan, maka budaya produktif akan tumbuh kembali. Dengan demikian, tidak ada ironisme bangsa agraris yang menggantungkan kebutuhan pangan pada pangan impor.

Puasa Selang Seling

( Ini adalah tulisan saya, yang menggambarkan perasaan Cinta, pada ramadhan 1433 H ini. )

Tahun ini menjadi aku bisa puasa Ramadhan sampai magrib. Tapi tidak setiap hari. Kadang-kadang aku puasa sampai jam 2 siang, kadang-kadang sampai maghrib.

Pada hari pertama dan kedua, aku hanya puasa sampai jam 2 siang. Aku tidak tahan haus dan lapar. Kata Mama, aku boleh berbuka lebih awal karena perutku belum terbiasa. Baru kuingat, siang harinya aku bermain sepeda saat panas terik. Pantas saja aku merasa haus dan lapar.

Saat sahur mama menyuruhku makan dan minum yang cukup agar bisa tahan sampai sore. Ternyata makan disaat mata mengantuk itu tidak enak. Tapi aku harus makan. Siang harinya aku juga tidak boleh berlari-larian agar hemat energi. Akhirnya, aku bisa puasa penuh sampai magrib pada hari ketiga.

Saat sudah masuk sekolah, puasa terasa lebih berat. Teman-temanku mengajakku berlarian di halaman sekolah. Terpaksa pulang sekolah aku langsung minum.

Pada hari sabtu dan minggu, sekolahku libur. Di rumah aku hanya membaca buku dan nonton video, sehingga tidak merasa kelelahan. Siang hari aku tidur biar waktu berjalan tanpa terasa. Sore harinya, mama mengajakku jalan-jalan membeli jajanan.

Di dekat rumahku banyak bazaar Ramadhan. Kami menyebut jalan-jalan sore dengan istilah ngabuburit. Alhamdulillah, aku bisa puasa sampai sore lagi. Semoga tahun depan aku bisa puasa penuh sampai magrib sepanjang Ramadhan.

Kamis, 30 Juli 2020

TEKNIK AGAR NASKAH DITERIMA PENERBIT (RESENSI / PERADA, KORAN JAKARTA)

Judul Buku : When Author Meet Editor

Penulis : Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : Mei, 2012 / Cetakan ke 1

ISBN : 978-979-22-8322-8

Tebal : 236 halaman

Harga : Rp. Fifty five.000

Sejak tahun 2005, terjadi ledakan jumlah pengarang buku-buku fiksi di Indonesia. Banyak penulis yang melejit namanya secara mendadak, namun tidak sedikit yang frustasi karena naskahnya ditolak dari penerbit satu ke penerbit yang lain. Karena itu buku-buku tentang teknik menembus penerbit dapat menjadi rujukan bagi para penulis.

Buku When Author Meets Editor merupakan karya kolaborasi antara Luna Torashyngu, pengarang novel teenlit bestseller dengan Donna Widjajanto, editor dari penerbit. Mereka menyajikan rahasia dan fakta dibalik lahirnya buku fiksi dan novel laris. Kolaborasi dari dapur penerbitan ini mengungkap secara terbuka seluk beluk cara menembus penerbit dan hal-hal apa saja yang membuat sebuah naskah ditolak.

Ketidaktahuan pengarang seperti cara mengirimkan naskah ke penerbit, pra syarat yang harus dipenuhi agar naskah diterbitkan, dan berbagai kesalahan sederhana yang membuat naskah langsung ditolak. Dalam buku ini juga dijelaskan tema tulisan yang disukai editor dan pembaca, kunci menjalin hubungan baik dengan editor serta jurus rahasia untuk tetap konsisten berkarya.

Dalam karya fiksi, diperlukan ide ? Ide liar dari pengarang yang melahirkan rangkaian cerita yang tak biasa dengan finishing yang sulit ditebak. Sebuah cerita akan terasa hidup apabila memperhatikan tiga hal penting dalam proses kreatifnya yaitu pemilihan karakter tokoh, placing cerita, dan alur cerita yang tepat. Karakter memegang peranan penting dalam cerita karena membuat cerita lebih hidup. Bahkan karakter yang kuat bisa mengangkat suatu cerita yang tema dan jalan ceritanya biasa saja menjadi menarik. Pengarang yang baik membuat pembacanya mampu membayangkan karakter ? Karakter dalam ceritanya dengan sangat jelas. Begitu juga dalam penentuan putting waktu dan putting lokasi, diperlukan ide liar agar tidak monoton bagi pembaca. Sedangkan untuk alur cerita, ditentukan oleh kalimat pembuka, alur yang berbeda, finishing yang tidak mudah ditebak dan kalimat yang tidak bertele-tele. Langkah-langkah dalam membangun three komponen utama ini dijelaskan oleh Luna Torashyngu pada bab 3.

Apa yang terjadi di balik meja redaksi masih menjadi rasa penasaran para pengarang. Pada bab five, sang editor mulai menceritakan tentang apa saja yang terjadi di balik meja redaksi dan bagaimana editor memperlakukan naskah demi naskah yang jumlahnya bertumpuk-tumpuk. Selain bentuk dan tampilan naskah, tema yang diajukan pengarang sangat menentukan apakah naskah akan dilanjutkan untuk dibaca oleh editor atau tidak. Hal-hal pertama, seperti kalimat pertama, adegan pertama, paragraph pertama, halaman pertama adalah poin krusial yang menyangkut hidup-mati sebuah novel. Kalau yang pertama-pertama ini sukses merebut perhatian editor, maka berita baik untuk pengarang, dalam beberapa bulan novelnya akan berada di toko buku.

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku cantik ternyata tidak mudah. Editor sangat berkuasa memberikan kritik di sana-sini dan meminta pengarang untuk melakukan revisi. Pada bab 6-8 buku ini menjelaskan secara detil apa saja yang perlu direvisi dan bagaimana proses revisi itu berlangsung. Pada babak revisi seringkali terjadi permasalahan antara pengarang dan editor. Permasalahan bisa datang dari pihak editor, misalnya editor sok tahu, kurang cermat, atau terlalu kaku, maupun dari pihak pengarang misalnya penulis yang keras kepala tidak mau merevisi naskah, tidak sabar dan sok tahu. Karena itu, keharmonisan antara pengarang dengan editor ini perlu dijaga karena menentukan kerjasama dan produktivitas pada karya-karya selanjutnya.

Pada akhir buku dilampirkan bonus bab-bab asli dari novel high-quality dealer : ?Mawar Merah : Matahari? Yang dihilangkan dari buku jadinya (halaman 143 -232). Bagi yang sudah membaca novel tersebut, bonus ini dapat menghapus rasa penasaran. Disebutkan bahwa pemotongan bagian tersebut karena dirasa tidak perlu berada dalam alur cerita. Namun bagi yang belum membaca novel tersebut, bonus ini hanya akan menjadi penggalan cerita tanpa awal dan akhir.

Dari riset pasar sederhana menunjukkan ternyata banyak sekali buku tentang cara menulis, namun belum ada atau sedikit sekali buku yang menyinggung hubungan pengarang dengan penerbit dan editor. Ternyata, para pengarang dan editor masih punya rasa takut atau enggan satu sama lain. Diantaranya takut naskah yang sedang dikerjakan ternyata tidak berguna, tidak bermakna dan akhirnya tidak laku di pasaran. Tetapi, riset, sesederhana apapun, bisa membantu membukakan sudut pandang baru pada naskah yang sedang kita kerjakan dan membantu mengatasi rasa takut itu.