Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Agustus 2020

Smart Mommy VS The Geek Athaya

Sebuah weekend, antara makan siang di luar bareng keluarga, dan keinginan menuntaskan novel kece : Geek in High Heels.

Membaca sosok Athaya, tokoh utama dalam novel chicklit itu membuat saya membandingkan dengan diri sendiri. Saya dan Athaya adalah sama sama blogger. Yeesss!! Bedanya , Athaya jago dalam desain web sedangkan saya baru pada tahap pengguna template gratisan. Hihihihi...

Tapi saya juga geek dalam soal ilmu parenting. Dari majalah , buku ebook, seminar, sampai situs parenting semua saya lalap habis. Menjadi orangtua adalah proses belajar seumur hidup. Selain berbekal pengalaman yang membuat saya jadi smart beradaptasi, perlu juga untuk selalu up date dengan pengetahuan-pengetahuan baru seputar parenting.

Tidak jarang urusan mengasuh anak bikin pusing. Tapi saya nggak memilih highheels sebagai mood booster. Malah, bisa dibilang saya anti highheels. Alas kaki selalu tipis biar lincah bergerak. Teman sehari-hari saya adalah sebuah smartphone sejuta umat produk Korea. Smartphone ini membantu dalam berbagai urusan.

Saya dan smartphone ini  BFF banget deh! Best friend forever. Saat buntu bingung menentukan menu masakan, tinggal googling resep praktis dan lezat untuk anak. Saat panik si kecil sakit, googling dulu cara pengobatan alami sebelum ke dokter.

Smartphoneku juga asisten sekaligus guru private. Urusan bayar sekolah, asuransi, listrik, air dan pulsa semua beres dari ngenggaman. Anak bertanya soal pelajaran sekolah yang susah, ya tinggal googling aja.

Ia juga pintar menghibur.  Kalau lagi pengen rileks, satu persatu saya mainkan game farming, bakery, restaurant dan pet shop story. Terasa punya perusahaan sendiri, menghibur sekaligus melatih manajemen.  Nah, kalau lagi pengen baca buku, tinggal download saja dari penyedia e book dan tadaaa, smartphone menjadi perpustakaan pribadi. Semoga buku-buku Stiletto segera ada e book nya, nanti saya borong deh!

Buat mengatasi pegal-pegal juga bisa dengan smartphone. Hah? Gimana caranya? Dipake mijat? Enggaklah....caranya googling titik "refleksi untuk mengilangkan pegal" trus pijat sendiri dooong, hihihi

Oiya, aneka curhat selama menjadi mama saya tuliskan dalam blog pribadi. Tentunya dari cellphone juga ngeblognya.

Smart mommy kan? Tentu, smartphone + mommy = smart mommy, hahahaha.

Saya berterimakasih banget  sama BFF ku ini. Dari bangun pagi langsung mencari-cari smartphone di bawah bantal. Sampai mau bobok yang dilihat terakhir adalah layar smartphone. Addict sih, tapi kenyataannya memang butuh dan sangat membantu.

Untungnya, saya cukup dengan satu gadget saja, tidak perlu ganti-ganti. Walaupun ngiler dengan gadget seri terbaru, ya pikir-pikir juga kalau mau beli. Beda dengan Athaya yang suka beli highheels baru.

Membaca buku karangan Octa NH ini bikin nagih, gak mau berhenti sampai akhir. Namanya emak-emak, susah nyari waktu untuk bisa baca dengan tenang. Untungnya, saya sudah teradaptasi untuk membaca sambil momong hehehe.

Sambil jalan-jalan akhir pekan dan makan siang di luar saya sempatkan nyicil membaca. Dekat kolam, dekat perosotan, dekat sepasang patung bangau. Yuhuuu....so sweet sepasang bangau ini. Sama manisnya dengan kisah Athaya menemukan cintanya, Kelana.

......Di sebuah acara e-book signing, Kelana berbicara lewat microphone,

"Gue sulit mengungkapkan apa yang ada di hati gue. Gue ingin lo memahaminya sendiri. Are you k with that?"

Semua semakin bingung. Dia melakukan itu tanpa pikir panjang. Dia hanya ingin mendekat ke arah Kelana. Athaya berhenti tepat di hadapan Kelana. Dia menatap Kelana dalam-dalam........

Penasaran kan? Segera cari bukunya dan baca :)

Dan spesial buat Octa NH, teman saya sesama emak blogger, sukses terus ya. Toss!!

Senin, 17 Agustus 2020

Mommylicious Promo Event

Finally, jadi penulis betulan :)

Buku berjudul Mommylicious, karangan saya dan soulmate Rina Susanti telah diterbitkan Bhuana Ilmu Populer pada tanggal eleven Agustus 2014. *satisfied*

Saking senengnya, belum sempat nulis ini itu, malah terlibat dalam kegiatan-kegiatan promo.

Dalam beberapa minggu ke depan, blog ini akan saya isi dengan catatan penulisan Mommylicious dan Catatan Promo Mommylicious. Semoga nggak bakal bosan dan bisa diambil manfaatnya. Pengalaman penulis pemula, untuk pemula.

Sementara ini saya cantumkan disini timeline promo hingga desember 2014.

Sabtu, 15 Agustus 2020

Rekomendasi Buku Anak untuk Majalah Parenting

Memilih buku anak gampang-gampang susah. Di saat semakin banyaknya buku anak terbit, ini sebenarnya kabar gembira. Tapi sebagai orangtua yang harus bijak (dan berhemat) memilih buku anak harus pintar. Dengan price range anda saat ini, anda harus memilih di antara puluhan bahkan ratusan buku anak yang baru.

Vania Rosa (Redaktur Parenting Indonesia) meminta saya sebagai koresponden edisi Oktober 2015. Tema bulan itu adalah tentang buku anak. Jadi saya diminta merekomendasikan five buku anak versi saya sendiri.

Pertanyaan apa judul buku favorit anak saya lemparkan di fb. Respon cepat dari teman-teman saya. Kebanyakan para penulis buku anak. Dan mereka merekomendasikan bukunya sendiri :)

Berbekal rekomendasi, saya hunting buku ke toko buku. Pastinya buku yang masih bisa diperoleh di toko buku yang akan saya rekomendasikan. Eh, di toko malah bigung lagi. Pasalnya banyak judul lain yang tak kalah menarik. Tidak semua judul yang direkomendasikan teman-teman di facebook ada. Saya lihat banyak jenis buku anak yang tebal, banyak halaman, edukatif dan berlatar agama. Soal harga, ini yang membatasi pilihan saya. Buku yang harganya di atas Rp.50.000, membuat saya berpikir ulang untuk membelinya. Bukunya bagus sih, dan tebal. Ilustrasi dan kertas juga ekslusif.  Tapi kira-kira anak anak bakal suka nggak ya kalau bukunya berat? Cepat bosan  nggak ya kalau bukunya tebal?

Saya membawa pulang beberapa judul. Selebihnya akan saya lengkapi dari koleksi anak di rumah. Dan berikut buku anak yang saya rekomendasikan. Saya menambahkannya 2 dari 5 yang diminta.

(1.) Judul : Kisah Seru Hari Penting Sedunia

Penulis : Watiek Ideo & Fitri Kurniawan

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Anak diajak mengenal hari-hari penting yang diperingati oleh penduduk dunia. Ada kisah berhikmah dan banyak pengetahuan umum yang melatari hari penting tersebut. Buku tebal 159 halaman  full colour dan ekslusif sehingga tidak mudah rusak. Ilustrasi menarik. Kalimat penyampaian mudah. Buku dwi bahasa Indonesia Inggris

(2). Judul : Hujan! Hujan! Hujaaaan!

Penulis : Agnes Bemoe

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kelebihan : Anak suka air. Dari judul dan ilustrasi menarik minat anak untuk membaca dan belajar tentang air. Buku ini menyajikan 6 cerita dan dongeng yang berkaitan tentang hujan. Satu halaman hanya 1-2 kalimat, gambar ekspresif,  sehingga cocok untuk anak yang belum bisa membaca sekalipun. Buku 184 halaman full colour, kertas kualitas bagus dan ilustrasi menarik. Buku bahasa Indonesia.

(3) Judul : Fino Gatal Gatal

Penulis : Anies Listyowati

Penerbit : Erlangga for Kids

Kelebihan : Buku bercerita tentang sebab Fino gatal-gatal. Cerita ringan disajikan dengan kalimat pendek namun ekspresif. Ilustasinya juga ekspresif sehingga memudahkan orang tua membacakan untuk anaknya. Anakpun tahu ceritanya walau belum bisa membaca. Tebal  24 halaman full colour.

(4) Judul : Dinosaurus

Penulis : John Woodward

Penerbit : Erlangga for Kids

Kelebihan : Dinosaurus menarik perhatian siapapun, apalagi anak-anak. Buku dinosaurus sudah banyak, tapi yang ini bisa disaksikan dalam bentuk pop-up digital 3D ya g dapat bergerak. Arahkan bagian buku yang ada tanda khusus ke arah kamera laptop. Sesaat kemudian akan muncul animasi dinosaurus bergerak mirip hologram di layar laptop. Buku berisi 67 halaman full colour dengan ilustrasi sangat mirip foto, ukuran besar dan terkesan hidup.

(5) Belajar Memasak Bersama Bella

Penulis : Fita Chakra

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Buku ini asyik dibaca oleh anak perempuan  kelas 2-6 SD. Minat anak untuk memasak dibangun melalui cerita Bella saat memasak di dapur.  Selain cerita ada resep dan panduan memasak 5 resep mudah: Mie Panjang Umur, Panekuk Persahabatan, Coklat Bella dan Bunda, Puding Stroberi untuk Tiana dan Donat Kentang. Ilustrasi menarik, tebal 124 halaman full colour. Buku dwi bahasa Indonesia Inggris.

(6) Judul : Peternakan, seri Ensiklopedia Favoritku

Penulis : Jacqques Beamount

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Kelebihan : Buku ini adalah ensiklopedoa ringan dan mudah untuk anak TK-SD. Gambar menarik dan materi yang diangkat juga ringan dan menarik. Menambah wawasan tentang peternakan di luar negeri. tebal 45 halaman.

(7) Judul : Rumah Ajaib

Penulis Keisya 7 tahun

Penerbit : Pastel book

Kelebihan : Buku yang ditulis oleh anak dengan sudut pandang anak. Menceritakan imajinasi Kayla menemukan rumah ajaib yang ditempati peri. Buku ini berisi 11 cerita pendek. Tebal 100 halaman, separuh gambar, separuh tulisan. Cocok menjadi novel pertama anak usia SD.

Rekomendasi tersebut di muat di majalah Parenting Indonesia bulan Oktober 2015. Yang bikin seneng, nama saya ditulis dengan predikat sebagai "penulis".

Artinya?? ya..saya penulis. Yess!!!

Butuh pengakuan :p

Itulah tadi 7 rekomendasi saya. Silakan rekomendasikan pilihan anda :)

Kirim keterangan dan cover buku ke surat.pembaca@parenting.co.id

Kamis, 13 Agustus 2020

Mommylicious on Media

Saya mau replace tentang jurnal buku Mommylicious.

Terhitung 2 bulan dari awal peredaran, buku Mommylicious mulai tampil di beberapa media nasional. Bangga pastinya, soalnya media-media nasional gitu loh...

Ini sesuai harapan saya, tapi tetap surprise. Kok secepat ini?

Ini dia tampilannya:

Majalah Living Indonesia Oktober 2014
Majalah Living Indonesia Oktober 2014
Event diatas bergandengan dengan Modena Cooking Clinic. Btw, majalah Living Indonesia sendiri sudah tidak terbit lagi. Jadi pemuatan itu pada beberapa edisi sebelum terakhir terbit.

Koran Republika, 14 Oktober 2014
Tabloid Mom & Kiddy, 16 Oktober 2014
Majalah mom dad i, Oktober 2014

Majalah Working Mothwr , Nov 2014

Majalah Ayahbunda no 22 / 2014

Yang terakhir ini di muat di Ayahbunda. Senangnya minta ampun :)

Selain karena sang endorser (Tenik Hartono) sebagai pimred Ayahbunda, majalah ini juga raksasa media parentig nasional. Mba Tenik Hartono kabarnya mau "pindahan" ke majalah Grazia. Konon berkat keberhasilannya membesarkan Ayahbunda. Sukses ya mbak Tenik.

Majalah Ayahbunda sendiri akan dipimpin oleh mba Prameshwari Sugiri, sekaligus Pemred Parenting Indonesia.

Rabu, 12 Agustus 2020

Bersama Khadijah di Orchard rd.

Ini adalah sebuah "overdue put up".

Bulan september lalu saat saya ke SG, ada 2 buku yang saya bawa serta. Pertama, buku Mommylicious. Niatnya jelas, buat dokumentasi foto-foto si buku di lokasi yang belum tentu dalam waktu dekat saya kunjungi lagi. Buku berikutnya yang saya bawa adalah "Agar Dicintai Suami Layaknya Sayyida Khadijah"  Buat mengisi waktu luang sambil baca-baca. Bukunya tipis, mudah dibawa kemana-mana.

Tak salah pilih saya mengajak "Khadijah". Siang itu saya menyusuri Orchad road bersama Cinta. Sedianya mau berengan teman-teman rombongan ke Garden By the Bay. Teman-teman lagi makan siang sedangkan saya memilih menunggu di tepi Orchard road. Sambil menunggu saya melanjutkan membaca kisah "Khadijah".

Lembar-lembar pertama sudah membuat saya menghela napas. Terceritakan sejarah Khadijah menikah dengan Rasulullah dan bagaimana keduanya dalam berumah tangga. Hmm, pantaslah kalau Sayyida Khadijah sangat dicintai Rasulullah. Sifat Khadijah yang menonjol adalah budi pekerti dan kerendahan hatinya. Ditengah peradaban jahiliyah saat itu, Khadijah mampu menjaga kesucian dirinya. Dengan kerendahan hatinya beliau melamar Muhammad menjadi suaminya, padahal jika dilihat dari status sosial tidaklah sepadan. Itu karena Khadijah mencintai dan menikahi Muhammad karena dia melihat akhlaknya yang baik.

Khadijah sang pekerja nan kaya,  bisa menempatkan dirinya sebagai istri yang sangat menghargai suami.  Khadijah mampu mendukung dan memotivasi Muhammad pada saat semua orang tak lagi mempercayainya. Yaitu saat Allah SWT, mengangkatnya menjadi Rasulullah.

Bagian yang menarik dari buku ini adalah contoh-contoh kasus rumah tangga yang sering terjadi saat ini. Misalnya kecurigaan istri pada suami yang berujung pertengkaran dan kedudukan ekonomi istri yang lebih tinggi sehingga meremehkan suami. Hadis-hadis terkait Khadijah dan istri banyak dicantumkan dalam buku ini. Mengingatkan kembali kita sebagai istri bagaimana harus menempatkan diri.

Saya menutup lembar terakhir buku dengan banyak sesal pada diri sendiri. Dibandingkan Khadijah, apa yang sudah saya lakukan sebagai istri tak ada seujung kuku. Sedikitttt banget.

Apalagi pas berjauhan seperti kala itu. Terlintas satu persatu kebaikan suami. Dia yang ringan tangan membantu kegiatan domestik. Dia yang pengertian pada kesulitan, kelelahan dan kemanjaan saya. Dia yang tidak pernah menyuruh, melainkan meminta.

Dia selalu menepati janjinya lebih awal dari waktu yang direncanakan. Misalnya janji pulang meeting hari selasa, eh, hari senin tau-tau sudah tiba di Indonesia, plus menjemput saya di kantor pula. Padahal saya tahu dia lelah usai perjalanan jauh. Dan dia selalu menolak ajakan teman-temannya untuk hang out atau olahraga bersama, baginya pulang ke rumah jauh lebih menyenangkan.

Saat jauh, saat bersama Khadijah, saya menguatkan diri, untuk lebih mempercayai suami. Tak pantas menukar jerih payahnya untuk keluarga dengan kecurigaan. Tak pantas merasa hebat karena saya bekerja. Saya bisa bekerja atas rasa cinta suami memahami keinginan saya.

Siang itu, Khadijah banyak mengingatkan saya. Dan saya ingin segera pulang dengan kerinduan.

***

Late submit, on our 11 th anniversary.

.

Selasa, 11 Agustus 2020

Catatan Penulisan Mommylicious, Dari Blog Jadi Buku

Januari 2011, adalah pertemuan saya dengan Rina Susanti. Kami sama-sama hadir dalam acara penyerahan hadiah pemenang lomba menulis dari 2 media yang berbeda. Hari itu kami tidak bertegur sapa. Hingga beberapa minggu berselang, saya iseng mencari nama-nama pemenang di facebook dan menemukan akun Rina Susanti.  Ternyata kami sama-sama tinggal di Bogor. Lantas kami janjian untuk ketemu, mencuri waktu saat makan siang pada hari kerja.

Pas acara ini belum tegur sapa :)
Dalam obrolan makan siang yang hanya sebentar itu, Rina mencetuskan ide.

"Nulis buku bareng yuk," katanya.

"Buku apa ya, udah banyak buku keroyokan," kata saya.

"Ya tulisan-tulisan seperti yang selama ini kita kirim dan  dimuat di media. Nggak sembarangan loh bisa menembus media, kualitasnya beda," kata Rina.

Hm, iya ya..benar juga. Selama ini kami "main"nya di media. Trus saya biasanya dari media saya tulis ulang di blog untuk dokumentasi. Ada juga tulisan lomba yang memang langsung ditulis di blog. Campur-campur.  Kalau Rina menulis di media lebih banyak dapat orderan dari Majalah Ayahbunda, selain juga menulis di blog.

Konsep buku.

Berangkat dari menulis di media dan blog, saya dan Rina menyusun buku ini. Kopdar pertama disusul kopdar-kopdar berikutnya. Bertukar buku favorit yang menjadi contoh "do and don't" untuk calon buku.

Gini nih suasana meja kopdar (foto dari rinasusanti.Com)

Lalu apa dong yang nantinya bakal membedakan buku ini dengan kumpulan cerita yang sudah ada sebelumnya?

Konsep yang ingin kami tonjolkan adalah perbedaan pola asuh dua mama dalam ruang-ruang yang sama. Ruang tersebut adalah relasi antara ibu-anak, istri-suami, menantu-mertua, ibu-sosialita. Kami mengangkat perbedaan tujuannya untuk mengkampanyekan Stop Mom War. Mom war adalah perang opini antara para mama merasa pola asuhnya paling baik dan benar. Konsep buku ini adalah sedikit bentuk usaha menyuarakan damai, walau kami tidak yakin mom war yang sudah berlangsung lama akan bisa benar-benar berhenti.

Kami berangkat menyusun buku dari kumpulan cerita-cerita pendek yang telah kami buat sebelumnya, baik yang sudah dimuat di media dan weblog serta sebagian masih disimpan di komputer. Cerita-cerita itu kita susun mengikuti konsep yang kami sepakati.

Sengaja kami memilih cerita-cerita ringan, berani jujur menceritakan ketidaksempurnaan kami sebagai mama, namun secara implisit selalu ada nilai parenthood yang kami yakini baik. Kebetulan kami berangkat dari gaya penulisan yang hampir sama, gaya menulis untuk media dan blog.

Karena inventory tulisan sudah ada, maka proses menulis relatif cepat. Hm, kira-kira 6 bulan sampai buku selesai ditulis. Apaaa??? 6 bulan dibilang cepat?? Belum terhitung proses kirim ke penerbit dan editing. *tutup muka*

Iya sih, dibandingkan para penulis yang kami kenal dalam lingkaran kami, tidak bisa dibilang cepat. Ada penulis jauh lebih produktif dan cepat menerbitkan buku. Untungnya kami menikmati proses penulisan ini, banyak kopdarnya, banyak curhatnya. BBM an sepanjang hari disela aktivitas harian, hehehe.

Akhirnya buku 90 % jadi baru kami berani mengirimkan ke penerbit. Beberapa bagian belum ditulis, tapi telah kami beri judul dan ringkasan.  Karena awalnya kurang percaya diri merasa newbie, draft kami kirimkan ke penerbit kecil. Dan, langsung ditolak dalam waktu singkat :)

Atas saran Fita Chakra (penulis), saya mengirimkan draft ke Penerbit Bhuana Ilmu Populer.  Saya mengirimkan dalam dua versi, email dan hardcopy.  Sebulan kemudian, kami mendapatkan email pemberitahuan bahwa buku akan diterbitkan. Antara senang dan setengah tidak percaya. Ciyus nih? Kesimpulan saya pribadi, penerbit kecil menolak bukan berarti buku kita "jelek" loh ya, tapi karena penerbit tidak berani mengambil resiko lebih jauh. Nah, penerbit mayor tentunya punya keberanian lebih untuk menerbitkan dan memasarkan sebuah buku, termasuk dari penulis baru.

Berkenalan dengan Penerbit dan Editor.

Editor yang bertugas "menggarap" buku kami adalah mba Vassilisa (Lisa). Ternyata mba Lisa tinggal di Bogor juga. Jadi kami langsung bertemu dan ngobrol konsep buku di Taman Koleksi, IPB.

Pertama kali, kami membicarakan judul. Awalnya kami memberi judul yang tidak menggambarkan isi buku. Memang niatnya pengen beda, gitu. Rupanya editor berpendapat lain. Judul sebaiknya menggambarkan isi buku. Lalu kami sodorkan judul Mommylicious. Pengennya sih bisa menggambarkan keceriaan, kerenyahan, agar berbeda dengan buku-buku motherhood yang biasanya mengharu biru. Editor dan timnya setuju.

Dalam pertemuan dengan mba Lisa, kami ngobrol banyak seputar parenting stylemasing-masing. Padahal mba Lisa belum berkeluarga loh, tapi tetap seru. Saya merasa mba Lisa ingin menyelami karakter kami berdua.  Saya tidak tahu apakah semua editor - penulis melalui proses  pendekatan seperti ini. Sebagai penulis kami dilibatkan dalam pemilihan desain buku, dari karakter ilustrasi, warna cover. ukuran buku, bahkan spasi dan font tulisan.  Terimakasih buat tim Bhuana Ilmu Populer, kami merasa dihargai.

Saya bertanya pada editor, apakah tidak masalah tulisan yang sudah pernah publish di media dan blog akan dibukukan? Tidak takut tidak laku?

Menurut kebijakan BIP, hal itu tidak masalah karena pembaca media dan blog belum tentu sama dengan pembaca buku. Ada orang yang lebih suka membaca buku. Lagipula dalam buku Mommylicious, persentase tulisan yang belum publish lebih banyak kok. Dan tulisan yang sudah dimuat di media justru memberi nilai tambah buku.

Momnylicious mengantarkan pada pengalaman pertama berurusan dengan penerbit dan editor yang menyenangkan. Kayaknya, buku-buku berikutnya jadi prioritas ditawarkan ke Bhuana Ilmu Populer lagi, nih :)

Proses Penerbitan.

Editor meminta kami segera melengkapi tulisan yang belum dibuat (10%) nya.  Saya bertanya, kapan deadlinenya? (gini nih biasa kerja mepet deadline). Editor tidak menentukan kapan harus selesai karena tidak ingin merusak "nyawa" dari buku ini kalau ditulis secara tergesa-gesa, namun kami sangat bersemangat dan berpikir tentunya makin cepat makin baik.

Beberapa sub judul diminta Editor untuk direvisi dan diperpanjang agar lebih terasa emosinya. Baik saya dan Rina Susanti merevisi masing-masing 3 sub judul. Dari total 6 sub judul yang kami revisi, sebagian menjadi lebih "bercerita", tapi 3 diantaranya tetap nggak dapat "feel" nya. Terpaksa dipangkas pada 3 sub judul tadi. Pemangkasan ini tidak membuat kami kecewa, justru kami senang karena editor demikian detil memilih cerita yang benar-benar mengena.  Bukan asal banyak-banyakin isi agar buku tebal, tapi lebih memikirkan bagaimana keseluruhan isi buku agar nyaman dibaca. Total jumlah halaman akhirnya 174 halaman, ini tergolong tipis. But it's okay.

Diskusi dengan tim editor dan marketing.
Diundang ke kantor BIP

Setelah modifying, tiba giliran desain cowl. Tim desain BIP menyodorkan beberapa opsi. Saya dan Rina tidak hanya memilih A atau B, tapi kami berkesempatan memberi masukan warna judul, warna cowl dan pewarnaan ilistrasi. Kami berusaha menjelaskan karakter cover yang kami harapkan. Kami merasa spesial dengan dilibatkan dalam desain cover.

Sambil menunggu desain cover, saya dan Rina bergerilya mencari endorser. Maklum, newbie, masih sangat butuh endorser untuk memantapkan pembaca memilih buku ini kelak. Tentang endorser akan saya tulis terpisah ya.

Dan Alhamdulillah,12 Agustus 2014 Mommylicious terbit. Saatnya memasuki proses promosi. Lagi-lagi penerbit melibatkan kami. Maka kami beraksi memanfaatkan kemampuan sebagai blogger dan kemampuan sebagai penulis media untuk membantu jalannya promosi. Bhuana Ilmu Populer memberikan dukungan pada ide-ide promosi yang kami ajukan.

MOMMYLICIOUS, pengalaman pertama saya dan Rina berurusan dengan penerbit. So excited to have this first experience! Lebih dari menerbitkan buku, Mommylicious adalah rekam jejak persahabatan saya dan Rina. Dalam hal ini kami tidak menghitung angka-angka penjualan, selain menyadari masih baru di dunia penerbitan buku, kami sudah sangat berbahagia atas lahirnya Mommylicious.

Mommylicious, jadi mama itu scrumptious !

#StopMomWar

Sabtu, 08 Agustus 2020

Mommylicious On Media (Again)

Sudah berlalu 6 bulan sejak Mommylicious terbit, rupanya masih ada beberapa media yang memuat reviewnya. Alhamdulillah...

Walaupun agak telat, tapi saya maklum , karena media yang memuat Mommylicious terbit mingguan dan bulanan, sementara daftar antri banyak, jadi baru tayang 6 bulan setelah terbit.

Berikut tambahan dari put up sebelumnya, Mommylicious on Media. Sejauh yang saya ketahui, total sudah dimuat di 10 media (lokal-nasional).

Januari 2015, Mommylicious tampil di majalah Nakita. Sebenarnya sudah sejak September 2014, redaktur Nakita mengabarkan akan memuat reviewnya. Tapi baru tayang Januari 2015. Lama ya masa tunggunya? Maklum, tabloid nasional.

Masih januari 2015, saya kembali mengisi buletin sekolah-nya Cinta. Sudah dua kali mengisi buletin ini, saya kemudian "nego" boleh nggak pasang iklan Mommylicious? Dan ternyata boleh :)

Oh iya, 21 Desember 2014, jelang peringatan Hari Ibu, resensi Mommylicious dimuat di Harian Singgalang, Padang. Resensi ditulis oleh Kania Ningsih. Sedangkan foto ini saya dapatkan dari Yervi Hesna.

Saya hanya punya foto pinjaman, beberapa kali kontak bagian distributor Harian Singgalang tapi nggak direspon. Padahal niatnya mau beli beberapa eksemplar koran hari itu.

Kemudian awal Februari, Mommylicious dimuat di majalah Pregnancy. Majalah ini berada dalam naungan MRA Group, yang juga menerbitkan Mother and Baby dan Cosmopolitan.

Rabu, 05 Agustus 2020

Pengalaman Endorser Buku "Menjadi Ibu Yang Menyenangkan"

Seperti yang sudah-sudah, sekecil apapun capaian bidang menulis, akan saya tulis di blog.  Satu lagi pengalaman saya bertambah. Sebuah buku karya Afry Ramadhany berjudul "Menjadi Ibu yang Menyenangkan" mengawali pengalaman saya sebagai endorser buku. Buku ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer.

3 Cerita.

Cerita berbeda saya temui soal endorsment buku.

Pertama, kejadianya kira-kira setahun lalu. Seorang penulis produktif yang tinggal di kawasan Bogor meminta saya mengendors bukunya. Saat itu saya belum menerbitkan buku. Dugaan saya, beliau meminta karena pengalaman saya sebagai penulis lepas dan blogger. Kebetulan kami sudah berteman cukup lama di facebook. Saya mengenalnya baik.

"Mbak Arin, mau nggak menjadi endorser buku saya, temanya tentang pernikahan," tanya sang penulis by phone.

Saya senang mendengarnya. Plus GR, hehehe. Iyalah, dilamar jadi endorser gitu lho. Berarti dianggap mampu meningkatkan nilai jual buku.

"Wah, terimakasih atas kepercayaannya, Mbak Penulis. Kirim saja draftnya ke e-mail. Btw, kapan diminta endorsnya?" Sambut saya.

"Bisa nggak sore ini?" tanya penulis.

"Kebetulan saya lagi rapat sampai sore. Nggak bisa baca cepat-cepat," kata saya. "Tiga hari ya?" Janji saya.

"Duh, butuhnya sore ini mbak. Sudah didesak sama editor. Kalau nggak usah baca gimana? Mbak Arin bikin quote tentang pernikahan, nanti dimuat di cover buku," kata sang Penulis.

Hm...Kalau hanya memberi quote tanpa membaca buku, apa namanya masih endorser? Ada ya yang seperti itu? Hehehe..Saya baru tahu. Dalam bayangan saya, sebagai endorser ya harus membaca buku baru kemudian bisa menilai. Akhirnya, saya menolak kesempatan tersebut, ya sayang sekali memang. Tapi karena keterbatasan waktu, saya tidak bisa. Saya ingin memberikan endorsment atas buku yang sudah saya baca.

Kedua, adalah pengalaman 'berburu" endorser untuk buku Mommylicious. Cerita ini sudah saya tulis di link http://asacinta.blogspot.com/2015/03/berburu-endorser-buku-mommylicious.html. Saya mendekati beliau-beliau secara personal. Saya pribadi yang "melamar" mereka menjadi endorser.

Setelah buku terbit, saya dan Rina Susanti berusaha mengantarkan bukti terbit kepada endorser. Tapi karena nyari kesempatan sangat susah, akhirnya buku kami kirimkan. Tapi ada komunikasi through socmed. Dokter Meta dalam salah satu twitnya menuliskan :

Dan mba Tenik Hartono menuliskan di facebooknya :

Ketiga, adalah pengalaman pertama saya mengendors buku "Menjadi Ibu yang Menyenangkan". Yang unik dari pengalaman ini bahwa saya belum berkenalan langsung dengan penulisnya, baik via email ataupun sosial media.

Jadi ceritanya, yang menghubungi saya adalah editor dari penerbit Bhuana Ilmu Populer. Saya dikirimi draft PDF bukunya sebelum naik cetak. Saya perlu waktu kira-kira sebulan untuk membaca. Kemudian saya berikan satu kalimat yang mewakili isi buku. Semua komunikasi dengan editor BIP.

Dan ketika buku tersebut terbit, saya tidak mendapatkan pemberitahuan baik dari sang penulis atau editor. Saya tahu secara tidak sengaja pas ke toko buku. Di cowl tidak ada kalimat endorser dari saya.

So saya harap-harap cemas, beli bukunya nggak ya? Secara kalau isinya sih saya sudah pernah baca dari draft. Kebetulan ada satu buku di rak Gramedia yang terbuka sampul plastiknya. Dari situ saya bisa tahu, ternyata endorsment saya ada di bagian dalam buku, pada halaman -halaman depan. Alhamdulillah.

Saya membeli satu eksemplar bukunya buat arsip. Dan buat narsis di weblog ini tentunya hehehe...

Siapa tau juga, setelah menulis weblog publish ini bisa berkenalan dengan sang penulis :)

Itulah three cerita soal endorser-endorsment buku.

Kamis, 30 Juli 2020

TEKNIK AGAR NASKAH DITERIMA PENERBIT (RESENSI / PERADA, KORAN JAKARTA)

Judul Buku : When Author Meet Editor

Penulis : Luna Torashyngu dan Donna Widjajanto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : Mei, 2012 / Cetakan ke 1

ISBN : 978-979-22-8322-8

Tebal : 236 halaman

Harga : Rp. Fifty five.000

Sejak tahun 2005, terjadi ledakan jumlah pengarang buku-buku fiksi di Indonesia. Banyak penulis yang melejit namanya secara mendadak, namun tidak sedikit yang frustasi karena naskahnya ditolak dari penerbit satu ke penerbit yang lain. Karena itu buku-buku tentang teknik menembus penerbit dapat menjadi rujukan bagi para penulis.

Buku When Author Meets Editor merupakan karya kolaborasi antara Luna Torashyngu, pengarang novel teenlit bestseller dengan Donna Widjajanto, editor dari penerbit. Mereka menyajikan rahasia dan fakta dibalik lahirnya buku fiksi dan novel laris. Kolaborasi dari dapur penerbitan ini mengungkap secara terbuka seluk beluk cara menembus penerbit dan hal-hal apa saja yang membuat sebuah naskah ditolak.

Ketidaktahuan pengarang seperti cara mengirimkan naskah ke penerbit, pra syarat yang harus dipenuhi agar naskah diterbitkan, dan berbagai kesalahan sederhana yang membuat naskah langsung ditolak. Dalam buku ini juga dijelaskan tema tulisan yang disukai editor dan pembaca, kunci menjalin hubungan baik dengan editor serta jurus rahasia untuk tetap konsisten berkarya.

Dalam karya fiksi, diperlukan ide ? Ide liar dari pengarang yang melahirkan rangkaian cerita yang tak biasa dengan finishing yang sulit ditebak. Sebuah cerita akan terasa hidup apabila memperhatikan tiga hal penting dalam proses kreatifnya yaitu pemilihan karakter tokoh, placing cerita, dan alur cerita yang tepat. Karakter memegang peranan penting dalam cerita karena membuat cerita lebih hidup. Bahkan karakter yang kuat bisa mengangkat suatu cerita yang tema dan jalan ceritanya biasa saja menjadi menarik. Pengarang yang baik membuat pembacanya mampu membayangkan karakter ? Karakter dalam ceritanya dengan sangat jelas. Begitu juga dalam penentuan putting waktu dan putting lokasi, diperlukan ide liar agar tidak monoton bagi pembaca. Sedangkan untuk alur cerita, ditentukan oleh kalimat pembuka, alur yang berbeda, finishing yang tidak mudah ditebak dan kalimat yang tidak bertele-tele. Langkah-langkah dalam membangun three komponen utama ini dijelaskan oleh Luna Torashyngu pada bab 3.

Apa yang terjadi di balik meja redaksi masih menjadi rasa penasaran para pengarang. Pada bab five, sang editor mulai menceritakan tentang apa saja yang terjadi di balik meja redaksi dan bagaimana editor memperlakukan naskah demi naskah yang jumlahnya bertumpuk-tumpuk. Selain bentuk dan tampilan naskah, tema yang diajukan pengarang sangat menentukan apakah naskah akan dilanjutkan untuk dibaca oleh editor atau tidak. Hal-hal pertama, seperti kalimat pertama, adegan pertama, paragraph pertama, halaman pertama adalah poin krusial yang menyangkut hidup-mati sebuah novel. Kalau yang pertama-pertama ini sukses merebut perhatian editor, maka berita baik untuk pengarang, dalam beberapa bulan novelnya akan berada di toko buku.

Perjalanan sebuah naskah menjadi buku cantik ternyata tidak mudah. Editor sangat berkuasa memberikan kritik di sana-sini dan meminta pengarang untuk melakukan revisi. Pada bab 6-8 buku ini menjelaskan secara detil apa saja yang perlu direvisi dan bagaimana proses revisi itu berlangsung. Pada babak revisi seringkali terjadi permasalahan antara pengarang dan editor. Permasalahan bisa datang dari pihak editor, misalnya editor sok tahu, kurang cermat, atau terlalu kaku, maupun dari pihak pengarang misalnya penulis yang keras kepala tidak mau merevisi naskah, tidak sabar dan sok tahu. Karena itu, keharmonisan antara pengarang dengan editor ini perlu dijaga karena menentukan kerjasama dan produktivitas pada karya-karya selanjutnya.

Pada akhir buku dilampirkan bonus bab-bab asli dari novel high-quality dealer : ?Mawar Merah : Matahari? Yang dihilangkan dari buku jadinya (halaman 143 -232). Bagi yang sudah membaca novel tersebut, bonus ini dapat menghapus rasa penasaran. Disebutkan bahwa pemotongan bagian tersebut karena dirasa tidak perlu berada dalam alur cerita. Namun bagi yang belum membaca novel tersebut, bonus ini hanya akan menjadi penggalan cerita tanpa awal dan akhir.

Dari riset pasar sederhana menunjukkan ternyata banyak sekali buku tentang cara menulis, namun belum ada atau sedikit sekali buku yang menyinggung hubungan pengarang dengan penerbit dan editor. Ternyata, para pengarang dan editor masih punya rasa takut atau enggan satu sama lain. Diantaranya takut naskah yang sedang dikerjakan ternyata tidak berguna, tidak bermakna dan akhirnya tidak laku di pasaran. Tetapi, riset, sesederhana apapun, bisa membantu membukakan sudut pandang baru pada naskah yang sedang kita kerjakan dan membantu mengatasi rasa takut itu.

Selasa, 28 Juli 2020

Review buku di Mommiesdaily.com

Review Ketika Buah Hati Sakit, bisa dilihat di http://mommiesdaily.Com/2012/09/07/diary-bunda-ketika-buah-hati-sakit/

Senin, 27 Juli 2020

Resensi Happy Working Mom di Theurbanmama.com

Resensi ini dimuat di theurbanmama.Com

Judul : Happy Working Mom

Penulis : Aprilina Prastari Gaib

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Desember 2011

Tebal : 178 halaman

ISBN : 978-979-22-7711-1

Harga : Rp40.000,-

Sudah tidak asing lagi bahwa pilihan seorang ibu untuk bekerja di luar rumah akan menimbulkan konflik peran, antara menjadi ibu dan istri serta menjadi pekerja. Memang bekerja akan meningkatkan kepercayaan diri dan rasa bangga, tapi perhatian pada anak-anak dan keluarga mungkin akan berkurang.

Sebisa mungkin setiap ibu yang bekerja berusaha agar tidak ada yang dikorbankan. Penulis buku ini, Aprilina Prastari Gaib sering melihat terjadinya dilema semacam ini dalam diri para ibu bekerja. Karena itu, ia menulis sebuah buku panduan agar para ibu bekerja dapat menjalankan peran sebagai ibu dan pekerja dengan baik. Buku ini ditujukan kepada para ibu yang bekerja kantoran, serta para suami yang mendukung istrinya untuk bekerja.

Dalam buku ini dijelaskan semua hal yang terkait pengasuhan anak dari mulai bayi hingga SD. Dengan cover merah muda yang menampilkan ilustrasi ibu bekerja, seorang anak dan mainan yang berserakan, kita sudah bisa menebak apa yang akan dibahas di dalamnya.

Pada bab 1 sampai three, ada persiapan-persiapan yang semestinya dilakukan oleh seorang ibu pra dan pasca persalinan. Bagi yang masih memiliki bayi, Aprilina membuatkan pointers khusus seputar penyimpanan ASI perah sehingga ibu-ibu pekerja masih dapat memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan kepada bayinya.

Ibu bekerja pasti membutuhkan pengasuh anak sebagai pengganti kehadirannya, maka sangat penting mencari pengasuh yang sesuai, baik dengan ibu maupun dengan anak. Dalam buku ini dibahas cukup panjang dan mendetail tentang bagaimana merekrut pengasuh atau asisten rumah tangga, tentang asal usul, usia, repute pernikahan, dan aturan yang akan diterapkan pada pengasuh/asisten.

Lebih lanjut, juga dibahas tentang bagaimana mendelegasikan pengasuhan anak sebisa mungkin sama seperti yang dilakukan oleh ibu. Mengasuh anak usia bayi hingga SD membutuhkan disiplin yang tinggi, maka diperlukan komunikasi dan kerja sama antara ibu dan pengasuh agar pola pengasuhan buah hati berjalan sesuai harapan. Penulis buku ini membahas setiap kasus secara element, di antaranya bagaimana mendekatkan buah hati dengan pengasuh dan bagaimana jika justru sang anak sangat dekat dengan pengasuhnya.

Setengah akhir bagian buku ini membahas tentang permasalahan yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak. Usia bayi dan batita tidak jauh dari permasalahan sulit makan, sering jajan makanan tak sehat, banyak menonton TV dengan pilihan acara yang kurang sesuai, dan terlalu lengket dengan ibu sehingga adegan pamitan menjadi dramatis setiap hari. Memasuki usia prasekolah, ibu akan menjumpai persoalan anak tak mau ditinggal dan mogok sekolah. Sedangkan pada usia sekolah dasar anak biasanya sudah mulai mandiri, namun tetap perlu mendapatkan perhatian khusus karena ini adalah usia peralihan, banyaknya tugas sekolah, ujian semester, cara mengajar yang berbeda dan bagaimana menjaga peralatan sekolah menjadi hal baru yang dihadapi anak usia sekolah dasar. Partner komunikasi ibu tak hanya dengan suami dan asisten di rumah, tapi juga dengan guru di sekolah.

Sebenarnya, apa yang paling dikhawatirkan para ibu saat meninggalkan anaknya? Terjadinya kecelakaan atau sakit pada anak. Pada Bab nine, pembaca dapat mempelajari solusi terkait pengobatan anak sakit dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Selain mengajari pengasuh tentang pengobatan dasar dan menyiapkan obat, ibu harus teliti dan rajin mengecek dari kantor tentang perawatan anak oleh pengasuh.

Menjadi ibu memang tidak mudah. Banyak ibu melupakan kebutuhan dasar dirinya, salah satunya adalah waktu untuk sendiri. Saat lelah dan stres menjalani berbagai peran, tibalah saatnya ibu mengambil waktu sejenak untuk beristirahat. Para ibu bisa menyisihkan waktu ke salon, bertemu teman-teman, melakukan olah tubuh, melakukan hobi, memperkaya diri dan pergi berduaan dengan suami. Sesudahnya, ibu akan segar kembali menemui anak-anak dengan segala masalah yang ada.

Menurut saya, buku ini dapat membantu para ibu bekerja agar dapat sukses mengelola rumah sementara dirinya berada di kantor. Konsentrasi seorang wanita pekerja, tidak akan 100% untuk urusan kantor lagi saat dia sudah memiliki buah hati. Setelah membaca buku ini, diharapkan ibu bekerja dapat menerapkan solusi dan bisa lebih berkonsentrasi dan saat berada di kantor.

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga ( The Urban Mama)

Resensi buku dimuat di situs  theurbanmama.com

Judul : Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga

Penulis : Ayah Edy

Penerbit : Tangga Pustaka

Tebal : 260 halaman

Cetakan : 1, Agustus 2012

ISBN : 979-083-057-2

Harga : Rp69.000

Iya, bener juga sih..

Ayah Edy (Penggagas Gerakan ?Indonesia Strong From Home?) mengajak kita merenung, sudahkan sebagai guru sudah mengajar dengan cara yang tepat, sebagai orangtua sudah melakukan cara mendidik yang tepat dan sebagai pribadi sudah menjadi manusia yang berkarakter baik? Apakah selama ini kita menjadi ?Sekrup?, walaupun kecil tapi menguatkan negeri besar bernama Indonesia? Atau justru menjadi ?Rayap? Yang menggerogoti dan merapuhkan?

Buku berjudul ?Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga? Karangan Ayah Edy berisi 80 renungan kejadian sehari-hari yang terjadi dalam keluarga. 4 Bab nya bertema tentang bagaimana membesarkan calon manusia hebat, pendidikan, permasalahan candu dunia, kasih sayang orangtua dan kebahagiaan anak, dan bab terakhir adalah tentang interospeksi sebagai orangtua. Ternyata hal-hal kecil yang terjadi di keluarga sangat menentukan bagaimana pembentukan anak-anak kita, yang kelak akan turut andil dalam menentukan ke arah mana Indonesia akan dibawa. Renungan-renungan dalam buku ini sebelumnya telah dipublikasikan pada fb Komunitas Ayah Edy, dan disertakan juga komentar-komentar pembaca. Nggak bosen deh, bacanya?Malah nggak mau berhenti sampai lembar terakhir.

Satu judul tulisan yang mampu mencubit kita sebagai orang tua adalah ?Toko Penjual Anak? (Halaman 181) . Diumpakan ada sebuah toko yang menjual anak, terdiri dari 6 lantai. Setiap pembeli hanya boleh memilih satu anak, dan hanya bisa melalui setiap lantai tanpa kembali.

Sepasang suami istri hendak membeli seorang anak. Maka mereka memasuki toko dan berdiri di lantai pertama. Lantai pertama berisi anak yang sehat, sempurna.

Suami istri itu berharap akan menemukan anak yang lebih baik lagi di lantai kedua. Lantai kedua berisi anak sehat, sempurna, penurut.

Mereka semakin senang, pasti di lantai berikutnya tersedia anak yang lebih baik lagi. Lalu mereka naik ke lantai ketiga yang berisi anak sehat, sempurna, penurut dan cerdas.

Benar kan, semakin ke atas anak yang tersedia lebih baik. Bagaimana jika lanjut ke lantai keempat? Di lantai keempat berisi anak sehat, sempurna, penurut, cerdas dan cakep.

Belum puas, pasangan itu naik ke lantai kelima yang ternyata berisi anak sehat, sempurna, penurut, cerdas, cakep dan perempuan. Wah, perempuan semua? Tak ada laki-laki? Padahal mereka menginginkan anak laki-laki.

Lalu mereka mencoba naik ke lantai keenam, dan mereka mendapati tulisan : maaf, anda pengunjung ke 7.363.713, tidak tersedia satu anakpun baik laki-laki maupun perempuan. Pasangan itu tidak mendapatkan satu anakpun.

Tulisan ini menyadarkan kita bahwa kita harus bersyukur apapun kondisi anak kita dan tidak harus menuntuk yang sempurna, karena anak mampu menghiasi keluarga.

Itu baru satu renungan dari 80 renungan menarik lainnya.

Penasaran? Saya rekomendasikan anda untuk membaca buku ini.

Minggu, 26 Juli 2020

CATATAN AYAH ASI ( mommiesdaily.com)

Book Review ini dimuat di www.Mommiesdaily.Com

Judul buku: Catatan Ayah ASI

Penulis: @ID_AyahAsi

(Pandu Gunawan, Dipa Andika, Shafiq Pontoh, A.Rahmat Hidayat, Aditia Sudarto, Syarie Hidayatullah, Ernest Prakasa, Sogi Indra Dhuaja)

Penerbit: Buah Hati

Cetakan: Pertama, Juli 2012

ISBN: 978 602 8663 92 2

Tebal: 188 halaman

Harga: Rp.50.000,- (via Buah Hati Rp.42.500)

Di Indonesia, bapak-bapak masih dianggap tabu kalau berbicara tentang ASI. Padahal, jika kembali pada hakekat menumbuhkan generasi penerus berkualitas, maka keberhasilan pemberian ASI menjadi langkah pertama dan penentu, sudah sepantasnya menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Dari kesadaran itu, kemudian muncul gagasan gerakan Ayah ASI Indonesia. Gerakan yang diawali oleh eight orang @ID_AyahAsi ini, menempatkan ASI sebagai hal penting yang wajib dipersiapkan dan direncanakan oleh para Ayah, tak kalah penting dari masalah pendidikan dan masa depan anak

Karena anak milik berdua, maka ASI juga tanggung jawab bersama. Kapan sebaiknya seorang suami belajar mengenai ASI? Saat masih lajang, Dipa Andika Nurprasetyo, satu dari 8 admin @ID_AyahAsi secara tidak direncana menghadiri seminar ASI. Dipa kemudian tergugah dan menyadari bahwa informasi seputar ASI sebaiknya dipelajari oleh calon ayah dan ibu sedini mungkin, bahkan sejak sebelum menikah agar persiapan menjadi lebih matang dan panjang (halaman 27 -41).

Peran ayah sebagai pelindung dan pendukung diperlukan pada hal-hal yang berpotensi menyebabkan kegagalan pemberian ASI, misalnya dalam menghadapi tekanan keluarga, mitos ASI, promosi susu formula, pihak medis yang tidak pro ASI, atau stres yang dialami sang ibu. Lingkungan keluarga seperti kakek, nenek, baby sitter, pembantu, dan semua pihak yang berada di sekitar ibu berperan penting dalam kesuksesan ASI eksklusif. Tidak mudah mengubah keyakinan orang lain. Orangtua generasi terdahulu banyak meyakini bahwa seorang anak tidak cukup hanya diberikan ASI, ia tetap harus diberi tambahan susu formula. Maka perjuangan ibu dan ayah pada titik kritis terutama pada 6 bulan pertama untuk meluluskan ASI eksklusif.

Tentang bagaimana menemukan rumah sakit ramah ASI dituturkan Pandu Gunawan pada halaman 55-69. Rumah sakit dan seluruh tim medis yang membantu kelahiran juga menjadi penentu keberhasilan ASI. Ciri rumah sakit seasoned ASI adalah mengajarkan ibu cara menyusui, menyediakan kelas ASI, mendukung ibu memberi ASI sesuai kemauan bayi, tidak memberi makanan selain ASI kecuali ada indikasi medis, tidak memberi dot atau empeng pada bayi, memahami aturan ASI ekslusif, melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD),memiliki tenaga kesehatan yang memahami manajemen laktasi, dan bisa rawat gabung ibu dan bayi.

Praktik produsen atau distributor yang bekerja sama dengan bidan atau rumah sakit dalam melakukan promosi susu components selama ini adalah hal yang umum terjadi. Pemerintah telah membatasi aktivitas promosi susu components melalui Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif. Perlu digaris bawahi, pemberian susu method harus dengan resep dokter. A.Rahmat Hidayat menuturkan pengalamannya pada halaman eighty five-a hundred and one. Saat bayi prematurnya kesulitan menyusu dan sang ibu sulit mengeluarkan ASI, saat itulah dokter meresepkan susu components.Namun akhirnya Rahmat tidak jadi memberikan susu system karena kemudian ASI sang istri dapat keluar ketika istri sudah merasa tenang.

Gaya penuturan para ayah ini sangat spontan dan khas pria. Mereka menulisnya dengan jujur. Contohnya, disebutkan salah satu keuntungan memberi ASI adalah pengurangan budget untuk membeli susu formula, dan itu artinya bisa digunakan untuk membeli gadget.

Data dan fakta penting seputar ASI, juga informasi dari para pakar ASI, dokter anak, dokter kandungan dan beberapa rumah sakit ramah ASI, disisipkan dalam buku ini sehingga menjadi sangat menghibur dan berbobot. Harapan @ID_AyahASI, semoga buku ini memberi kontribusi meningkatnya angka menyusui ASI di Indonesia dan semakin banyak bayi Indonesia yang mendapatkan ASI.

Para calon ayah dan ayah wajib baca buku ini, seru banget!!