Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thoughts. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Pilih, Pikir, Publish !

[Catatan Contestmania]

Lomba-lomba weblog kian marak. Apalagi kuis di sosial media.

Hadiahnya menggiurkan, pesertanya bejibun, tantangannya beraneka.

Menang-kalah, senang-kecewa menjadi kalimat-kalimat yang berseliweran di facebook para pemburu lomba.

Anda suka mengikuti kuis dan lomba?

Saya sampaikan "SELAMAT ! "

Baru menjadi peserta saja, berarti anda sudah tergolong orang yang percaya diri dan mempunyai kreativitas. Keren kan? Apalagi kalau bisa menang, wuih...Bukan hanya dielu-elukan oleh pesaing maupun penggemar, anda juga akan mendapatkan hadiah. (Hm, masih jujur kan bahwa motivasi utama mengikuti lomba adalah mengharapkan hadiah? Kenapa tidak? Sah kok!)

Jadi, jangan surut oleh apapun komentar orang tentang pemburu lomba.

Orang mengira, saya nggak bakal membagi tips atau apapun terkait gaya berlomba karena takut saingan saya tambah banyak.  Tidak seperti itu.  Bagi saya lomba hanyalah hobi, bukan profesi.  Ketagihan iya, tapi sadar suatu saat akan tiba masa harus pensiun.  Jadi, buat apa menyimpan ilmu. Saya meyakini, berbagi ilmu itu seperti berbagi rejeki. Semakin dibagikan semakin banyak kita mendapatkan "kembalian" nya.

Setiap orang mempunyai style lomba yang belum tentu sama.  Sebagai pemula, saya dulu banyak belajar dari lingkungan dan sahabat.  Sekarang, setelah merasakan beberapa kali menang, saya sudah dianggap ratu kontes oleh teman-teman dekat. Alamaak...sebenarnya merasa belum pantas. Tapi ya sudahlah, daripada jadi Ratu sejagad, tambah nggak pantas kan?

Baiklah, berikut sedikit cerita tentang karakter saya dalam berlomba.  Bukan tips memenangkan lomba loh ya. Saya belum dapat merumuskan tips memenangkan lomba, kalau sudah dapat tentunya saya bakal menang terus. Nyatanya tidak. Saya pernah kalah, sering malah.

(1). PERHATIKAN TEMA

Pertama kali membaca informasi lomba, mata saya akan tertumpu pada 3 hal penting: Tema, Deadline dan Hadiahnya. Mengapa tema penting? Buat saya, tidak akan mengikuti lomba yang tema nya tidak sesuai dengan karakter saya.

Soal tema ini lebih saya pertimbangkan daripada besaran hadiah.  Hadiah kecilpun, asalkan visi misi sponsor masih bisa saya terima dan tema lomba saya sukai dan kuasai, ayo saja digarap.

Hadiah besar, kalau yang mengadakan produsen rokok, atau produsen minuman keras, jelas saya tidak akan mengikutinya.

Bagaimana dengan susu formula? Saya mau mengikuti lomba yang disponsori susu components asalkan tema tidak bertentangan dengan kampanye ASI, bahwa susu system untuk konsumsi anak setelah periode ASI ekslusif.

(2). PERHATIKAN SYARAT DAN KETENTUAN

Ada loh lomba yang hadiahnya tidak seberapa, tapi syaratnya banyak. Harus comply with twitter beberapa akun, registrasi berulang kali, beli produk ini itu, pakai struk pembelian dengan periode tertentu dan syarat lain yang aduhai.

Nah, kalau saya lebih memilih lomba yang syaratnya tidak ribet, syukur-syukur kalau hadiahnya besar :)

Intinya: dalam memilih lomba saya pikir ulang, ini lomba memberatkan tidak? Merugikan tidak? Peluang menang seberapa? Seberapa banyak tenaga harus dikeluarkan? Dan seberapa tebal muka harus disiapkan? Hihihi

(three). CARI IDE UNIK.

Dari tema,kemudian saya mencari ide yg unik. Cerita satu hal, cakupan sempit tapi dalam ulasannya. Tapi kadang-kadang saya tergoda menulis juga secara komperhensif, panjang dan lebar, saya tandai justru sering kalah.

(4) MATANGKAN KONSEP

Karena kesempatan menulis saya sangat terbatas, saya tidak menulis setiap hari atau terus-terusan. Proses menulisnya begini, sejak tahu soal tema dan merencanakan  mengikuti sebuah lomba, maka sepanjang ada kesempatan saya berpikir dan berpikir. Yaitu memikirkan konsep atau rancangan seperti apa tulisan nanti saya sajikan. Ide yang unik tertuang dalam pembukaan yang menarik, alur yang unik, sudut pandang yang unik,  dan penyajian yang menarik. Karena proses berpikir sudah lama, konsep semakin matang, pas ada kesempatan menulis biasanya hanya butuh waktu 1-2 jam mengetik. Bahkan bisa sambil bepergian saat weekend bersama keluarga, anak-anak bermain sementara saya nge-blog.  Jadi lebih panjang waktu yang dibutuhkan untuk memikirkan konsep daripada menulisnya.

(five). LENGKAPI INFO DAN FOTO

Oiya, sambil memikirkan konsep, saya juga menyiapkan foto-foto yang menunjang. Saya berusaha mengurangi pinjam foto dari internet.  Bagusnya, setiap ada kesempatan berfoto karena tidak mudah mendapatkan foto yang bagus secara mendadak. Misalnya, saat jalan-jalan secara tidak sengaja menemukan obyek bagus untuk difoto. Foto pun butuh konsep juga loh agar pesan yang disampaikan efektif.

Saat saya mngikuti lomba weblog jamu (lihat di sini) saya sengaja membuat listnya, yaitu foto jamu, foto mba jamu, foto toko cutting-edge, foto jamu di acara resmi, foto jamu di mal dll. Atau untuk lomba Acer, walaupun ingin tampil lucu, tapi foto-fotonya saya konsep juga. Blog Acer bisa dilihat di sini. Semua masuk dalam proses berpikir tadi.

(6) BACA ULANG DAN EDITING.

Begitu sudah selesai menulis, saya membaca ulang tulisan saya berkali-kali. Sambil mengedit EYD yang masih ada saja salahnya (maklum, ngetik dengan touchscreen sering salah pencet huruf).  Saya juga merasa-rasakan tulisan sendiri, kita-kira terkesan lebay nggak? Sok tau nggak? Sok idealis nggak? Masuk akal nggak? Dan sebagainya.

Editing EYD seperlunya dan sebisanya. Hehe.. Dan yg penting editing konten, artinya materi yang kita ragu bisa mempertanggungjawabkan sebaiknya dihilangkan saja.  Saya juga menghindari kalimat curhat berkepanjangan. Jadi to the point biar juri tidak capek bacanya.

Setiap juri beda selera.  Kadang keputusan juri belum mutlak, masih ada juri dari pihak sponsor yang sangat menentukan. Seleranya mungkin beda dengan selera kita-kita.  Nah, tentang tips memikat juri kompasiana pernah saya ulas di sini.

Demikian, sekian dulu. Saya mau menulis untuk lomba-lomba berikutnya.

Kamis, 27 Agustus 2020

STOP MELAJU DALAM MALL !!

Seiring perkembangan jumlah mal yang meningkat pesat di kota-kota besar, gaya hidup masyarakat pun berubah. Mal tak hanya menjadi kebutuhan belanja, melainkan juga untuk hiburan dan bermain.

Sayangnya, beberapa permainan di mal saya rasa tidak aman dan tidak selayaknya dilakukan di dalam gedung mal.

Lihat saja saat kita jalan-jalan di mal, tiba-tiba melintas anak-anak main mobil-mobilan, sepatu roda, atau otoped. Sering kali tanpa pengawasan orangtua. Bahkan anak di bawah umur (1-2 tahun) juga terlihat naik mobil-mobilan yang dikendalikan dari jauh oleh petugas atau orangtuanya. Saya meragukan, naik mobil-mobilan ini apakah keinginan si anak itu sendiri atau keinginan orangtuanya?

Anak-anak itu cenderung ingin melaju tanpa memikirkan keramaian di mal. Akibatnya terjadilah serempet sana sini, atau menabrak orang dan benda di sekitarnya. Saya sudah pernah mengalaminya. Sedang mengantre membeli donat di salah satu outlet, tiba-tiba diseruduk mobil-mobilan dari belakang. Rupanya si anak yang mengemudi ini tengah melihat ke kanan kiri karena ada couter mainan. Kaget pastinya, kesal juga, tapi mau marah tapi menahan diri, masa iya marah sama anak kecil? Mana mengerti dimarahi? Tak lama orangtua si anak datang, bukan untuk meminta maaf pada saya, tapi untuk memarahi anaknya. Hmmm… hanya bisa mengelus dada. Dalam hati saya bilang “Pilihkan permainan yang aman buat anaknya dong Pak!”

Jika sudah demikian, permainan bukan hanya membahayakan keselamatan pengguna, tapi juga keselamatan orang-orang di sekitarnya. Seringkali saya paranoid sendiri membayangkan seandainya itu mobil-mobilan atau otoped menabrak kaca etalase ponsel atau kompor milik outlet makanan ya?  Siapa yang bertanggung jawab?

Anak-anak butuh permainan, pemilik persewaan butuh penghasilan, pihak mal butuh pemasukan. Jika semua mengutamakan egonya, kebiasaan membahayakan ini akan berlanjut. Orangtua harusnya bijak memilih permainan untuk anak. Jika konsumen berkurang, otomatis bisnis sewa ini akan mencari bentuk lain.

Pihak mal juga harusnya tidak hanya memikirkan keuntungan sendiri. Keselamatan dan kenyamanan pengunjung mal menjadi tanggung jawab Pengelola Mall. Solusinya, sediakan lokasi yang cukup luas untuk arena permainan anak ini. Jika langkah ini dirasa kurang menguntungkan, lebih baik ditiadakan sekalian, daripada lebih banyak lagi korban senggolan otoped dan mobil-mobilan. Walaupun tidak fatal, tapi juga tidak nyaman. Tidak ada kan, yang mau tertabrak mainan saat sedang enak-enaknya jalan di mal?

http://theurbanmama.com/articles/memilih-permainan-aman-di-mal.html

Senin, 24 Agustus 2020

Membahagiakan Anak-anak Yang Sibuk

Betapa sibuknya anak-anak yang tergambar dalam video di atas. Seperti itulah kesibukan anak-anak masa kini, terutama di perkotaan.  Mereka terlihat tergopoh-gopoh, makan terburu-buru, kurangnya waktu bermain, sibuk dengan PR, mengantuk dan kelelahan.

Apakah sibuk itu keinginan mereka?

Anak-anak paling disibukkan oleh urusan sekolah dan mengerjakan PR. Persaingan akademik mengharuskan mereka lebih giat belajar sehingga diperlukan les.  Sebagian lagi anak-anak mendalami bakat dengan kegiatan ekstrakurikuler. Jika mereka menjadi juara maka orangtua akan bangga.

Ada juga orangtua yang ingin anaknya les tambahan agar orangtua lebih punya banyak waktu untuk produktif. Ini dikarenakan bersama anak bisa mengganggu konsentrasi bekerja. Sebuah alasan yang masuk akal bagi orangtua. Tapi bagaimana bagi anak?

Anak saya, Cinta (kelas 3 SD) pun mempunyai kesibukan rutin. Bedanya, Cinta tidak mengikuti les sore hari. Sepulang sekolah dia bersepeda atau bermain di halaman dengan adiknya. Cinta mengerjakan PR hanya akhir pekan dan saya tidak memintanya belajar lagi di malam hari. Saya rasa cukup waktunya belajar 5 jam di sekolah. Malam adalah waktu bebas. Biasanya Cinta membuat prakarya, melukis atau menulis diary.

Memahami Perspektif Anak.

Saya menyadari bahwa antara anak dan orangtua mempunyai pandangan berbeda terhadap waktu, kebutuhan, dan cara untuk berbahagia.

Dalam perspektif waktu, menurut saya adalah wajar jika anak bergerak lebih lambat dalam menyelesaikan tugasnya dan tentunya butuh waktu lebih lama. Hal yang dikerjakan anak bisa jadi adalah pengalaman pertama baginya. Selain itu, anak butuh waktu untuk mempelajari dan eksplorasi. Jadi, sebaiknya tidak meminta anak terburu-buru. Solusinya, dengan keterbatasan waktu harian, lebih baik mengurangi jumlah kegiatan anak.

Dalam hal kebutuhan, apakah memang kesibukan harian anak adalah hal yang benar-benar dibutuhkannya? Apakah anak yang inisiatif meminta les ini-itu? Ataukah les merupakan tawaran dari orangtua yang kemudian di-iya-kan oleh anak? Pernahkah kita bertanya, kegiatan apa yang paling diinginkan anak? Jika sekolah adalah kebutuhan anak yang kita wajibkan untuknya, tak ada salahnya sore hari menyerahkan pilihan pada anak hal apa yang disukainya. Jawabnya bisa ditebak, anak suka bermain !

Cara anak berbahagia mungkin berbeda dengan orangtua. Orangtua bahagia jika anak berprestasi di sekolah. Sedangkan anak berbahagia dengan danau dan perahu yang dibuatnya dalam kubangan lumpur.

Membahagiakan anak-anak yang sibuk.

Pada dasarnya anak-anak memang sudah sibuk bertumbuh, mengenali lingkungan, belajar dan eksplorasi. Di tengah sibuknya anak, perlu ada waktu luang agar mereka bisa menata kegiatannya, caranya adalah :

  1. Kurangi 1-2 kegiatan les. Pilih prioritas kegiatan yang disepakati antara orangtua dan anak sehingga ada tambahan waktu untuk bermain.
  2. Ajarkan anak menggunakan waktu lebih efisien sehingga bisa menyisihkan waktu untuk bermain.
  3. Manfaatkan setiap waktu luang untuk bermain. Kurangi penggunaan ponsel dan televisi, saatnya beralih untuk aktivitas fisik di dalam maupun di luar ruangan.
  4. Mengingat waktu siang hari anak lebih banyak di sekolah bersama teman-temannya, maka himbauan untuk sekolah adalah memperpanjang waktu istirahat. Sekolah juga diharapkan bisa mendorong agar anak-anak lebih banyak beraktivitas fisik di halaman sekolah.
Saatnya kita merenungkan hal-hal yang menyibukkan anak-anak dan menjadikan mereka lebih bahagia dengan memperbanyak waktu bermain. Mari bahagiakan anak-anak kita.

Ruang Bermain untuk Anak-anak Perkotaan

Diprediksi pada tahun 2020 separuh dari anak-anak di dunia akan dilahirkan di kota besar.

Keluarga saya tinggal di Bogor, sebuah kota besar, berdekatan dengan ibu kota Jakarta. Anak-anak saya, Cinta dan Asa tak asing lagi berada pada lingkungan perumahan yang padat, lalu lintas ramai dan macet, asap kendaraan, dan gedung-gedung pencakar langit.  Inilah realita anak-anak perkotaan. Serba sempit, serba cepat dan terbiasa waspada.

Adaptasi Bermain Anak Perkotaan.

Satu-persatu ruang bermain terbuka terenggut dari anak-anak perkotaan. Sebagai bentuk adaptasi mereka bermain di gang-gang sempit, tanah kosong milik orang, tempat parkir, trotoar bahkan di tepi jalan raya sekalipun.  Berbahaya memang, namun seiring waktu anak-anak beradaptasi dan mengantisipasi bahaya di sekitarnya. Tentu saja hanya sebatas kemampuan anak-anak.

Sebagai bentuk adaptasi lainnya, sebagian anak lebih suka bermain di dalam rumah. Orangtua juga melarang mereka ke luar rumah mengingat bahaya yang mungkin ditemui apabila mereka pergi tanpa pendampingan. Kemudian muncul kebiasaan yang merebak akhir-akhir ini yaitu menjadikan mal sebagai tujuan bermain keluarga yang adem. Bahkan di dalam kepadatan mal, anak-anak pun bermain.

Tapi saya sama sekali tidak mengijinkan Cinta dan Asa memilih permainan bergerak di dalam mal seperti ini, karena membahayakan diri sendiri san orang-orang di sekitarnya.

Mencari dan Memberi Ruang.

Anak-anak butuh ruang untuk bermain. Karena dalam kegiatan bermain terdapat aktivitas fisik seperti berlari, melompat, bergerak, atau menjelajah. Bermain penting untuk pertumbuhan fisik dan intellectual anak. Tampak sekali bahwa Cinta dan Asa menikmati suasana bermain di luar daripada di dalam ruangan. Alhamdulillah kami masih memiliki halaman yang cukup untuk berlari-lari atau bermain tenda. Lihat juga betapa bahagianya saat mereka bermain pasir di halaman rumah kakeknya.

Realitanya, orangtua perkotaan kesulitan menyediakan ruang bermain karena keterbatasan lahan. Sebagai solusi orangtua bisa mencarikan ruang bermain dengan membawa anak-anak ke ruang terbuka yang merupakan fasilitas umum. Di Bogor ada Kebun Raya Bogor, Taman Matahari, Taman Buah Mekarsari dan banyak lagi. Sayangnya, tidak bisa berkunjung ke sana setiap hari karena lokasi cukup jauh dan berbayar. Kalau mau yang gratis, pilihannya adalah di halaman kampus IPB,  halaman masjid atau lapangan.

Harapan-harapan.

Seandainya Pemerintah Kota bisa memberi ruang untuk anak-anak bermain dengan membangun taman-taman bermain gratis yang di setiap kelurahan. Anak-anak tentu akan senang sekali mendapatkan ruang untuk bermain bebas bersama teman-temannya. Taman dibuat rindang dan herbal sehingga udara sejuk.

Seandainya setiap sekolah mempunyai ruang terbuka untuk siswanya bermain. Pembangunan gedung sekolah diarahkan bertingkat agar tidak mengurangi luasan lapangan sekolah.

Seandainya para pengusaha merelakan sebagian kecil luasan usahanya untuk dirombak dijadikan taman kota. Tentu kami sangat berterimakasih.

Seadainya pemerintah daerah tidak menambah ijin pembuatan mal baru dan menggantinya dengan taman kota.

Seandainya setiap masyarakat sadar menjaga kebersihan pemukimannya sehingga anak-anak bermain dengan nyaman.

Seandainya perindustrian diletakkan jauh dari pemukiman sehingga asap pabrik tidak mengganggu pernapasan.

Seandainya saya dan keluarga bisa libur lebih panjang, saya akan membawa anak-anak ke pantai atau persawahan.

Anak-anak perkotaan memerlukan ruang yang aman dan nyaman untuk bermain. Hanya saja, tidak semuanya bisa mengungkapkan. Mari kita suarakan bersama.

Memahami Sudut Pandang Anak Kecil

Video diatas sangat menggelitik. Kepolosan anak-anak itu mengajak kita, orang dewasa, untuk melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.

Anak-anak mendeskripsikan dirinya sebagai sosok yang manis, disayang, penting dan sibuk. Ego anak-anak menempatkan kebutuhan mereka menjadi hal utama.  Menurut anak-anak, bermain adalah hal yang paling penting dalam usia anak-anak. Bermain dapat mengembangkan kemampuan sosial, emosional, intelektual dan fisik.

Seringkali timbul perbedaan sudut pandang antara orangtua dan anak-anak soal bermain. Menurut orangtua ada "bahaya" mengintai dibalik bermain seperti cedera fisik dan kotor.  Sedangkan menurut anak, kotor itu berarti beraktivitas, mencoba hal baru, kebebasan, berani gagal, belajat dan bukan merupakan masalah yang mengkhawatirkan. Berani kotor itu baik.

Bagi anak, bermain adalah hal yang mereka lakukan dengan menuruti ide-ide, kepentingan dan dengan cara mereka sendiri tanpa didikte oleh orang dewasa bagaimana harus melakukannya.

Bermain adalah cara anak belajar sendiri selain hal-hal yang dipelajari di sekolah. Bedanya, cara belajar dengan bermain jauh lebih menyenangkan, seru dan menantang.

Baiklah, mari kita menggunakan sudut pandang anak dan mencoba memahami kebutuhannya.

Tampaknya saya harus rela ketika mendapati rumah berantakan, mainan  dan potongan kertas berserakan. Itulah ulah anak-anak saya Cinta dan Asa di rumah.  Tak ada kesempatan rumah bisa rapi. Menurut mereka itulah cara mereka bermain dan berbahagia.

Tak heran juga mengapa anak-anak suka bermain kotor-kotoran dan basah di halaman. Buat orang dewasa itu kotor, tapi bagi anak itulah cara mereka mencoba sesuatu.

Atau ketika saya berteriak histeris melihat Cinta memanjat palang besi di playground, "Awas jatuh, Nak!" sambil membayangkan diri sendiri gemetaran saat berada di ketinggian. Padahal itu cara anak melatih ketangkasannya dan mereka tidak takut ketinggian!

Tak jarang saya mengomel mendapati Asa dan Cinta berkeringat hingga bajunya basah dan bau. Padahal mereka baru selesai mandi sore. Tapi saya tidak jadi melarang mereka berlari-larian. Siapa yang sanggup menghentikan derai tawa ceria mereka?

Biarkan Anak Berani Kotor.

Ya, ya, ya... Saya harus menahan diri lebih kuat agar tidak melarang ini itu pada anak-anak. Rasa khawatir ini harus dikelola. Daripada paranoid sendiri, lebih baik menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif agar anak bisa bermain.

Saya memilih bersikap sebagai pendamping daripada pengawas. Pendampingan pun hanya saat anak sangat kecil. Di atas three tahun sebaiknya menjauh dalam radius minimal five meter dan berpura-pura tidak melihatnya. Saat anak bermain petak umpet di halaman, saya pun asyik sendiri menyiram bunga. Padahal maksud saya sambil sesekali melihat anak-anak.

Dalam bermain harus siap berkotor-kotor. Menyadari bahwa berani kotor itu berdampak baik, saya mengubah cara pandang saya terhadap kotor.  Daripada saya melarang anak-anak membuat proyek "waduk" untuk kura-kura peliharaannya di halaman, lebih baik saya siapkan ditergen Rinso Antinoda untuk mencuci baju kotor mereka. Beres kan?

Sebagai orangtua tak diragukan lagi kita sangat mencintai mereka.  Bagaimanapun mereka bertumbuh dan suatu saat melepaskan diri dari pelukan kita. Tak ada cara lain selain membiarkan mereka memiliki kemampuan menjelajah dan menaklukkan lingkungan. Dan cara yang mereka tempuh adalah bermain.

Rinso Kids Today Project adalah kampanye yang bertujuan mengajak orangtua memahami cara pandang anak terhadap sesuatu. Dengan memahami cara pandang anak, diharapkan orangtua memenuhi kebutuhan anak akan bermain.

Minggu, 23 Agustus 2020

Ciptakan Lebih Sering Wajah Bermain

Anak-anak adalah sosok dengan ekspresi spontan dan jujur. Ketika mereka gembira mereka tertawa, sebaliknya ketika bersedih mereka diam.

Kembali membahas kebutuhan penting anak-anak adalah bermain. Ternyata bermain mendatangkan berbagai perasaan dalam diri anak dan keluar melalui ekpresi wajahnya. Dengan bermain anak-anak mengenal kreativitas, kegigihan, organisasi, kontrol diri, keterampilan sosial, ketekunan jiwa, mandiri, dan percaya diri. Seperti saat mereka mencoba sesuatu yang baru, mengambil resiko, bergerak untuk maju dan saat mereka menikmati dunianya.

Saya suka meng-capture ekspresi Cinta dan Asa saat bermain. Ternyata tidak selalu tertawa.  Tergantung aktivitas apa yang mereka lakukan.  Aktivitas fisik di luar rumah lebih banyak menunjukkan wajah bermain.

Sejak kayuhan pertama pada pedal sepedanya, terlihat wajah Cinta mengerahkan tenaga. Begitu sepeda berjalan, terlihat Cinta menikmati kecepatan yang membuat angin menerpa pipi dan rambutnya. Saat bergerak lurus, berbelok, atau menghindari lubang di jalan menimbulkan ekspresi yang berbeda-beda.

Berbeda lagi dengan Asa. Dia lebih ekspresif lagi, ditambah dengan suara jeritan dan tawa yang lepas.  Saat mengaduk-aduk lumpur, ekspresi Asa cukup serius dan fokus. Setelah puas dan dia memporak-porandakan danau buatannya dengan menyemprot air, ekspresi wajahnya berganti tertawa dan ceria.

Jika kita cermat mengamati, saat bermain ada wajah siap menjalani tantangan, ada wajah tengah berusaha, wajah tegang mencoba hal baru, wajah kaget, wajah penuh keingintahuan dan wajah bangga karena berhasil.

Menyenangkan sekali melihat ekspresi wajah bermain Cinta dan Asa. Wajah mereka tampak bersinar. Kelihatan sekali bahwa bermain adalah hal yang sangat disukainya.

Seberapa sering?

Video diatas adalah bagian dari Rinso Kids Today Project yang bertujuan mengajak kita merenung.  Sekarang yang menjadi pertanyaan buat saya selaku orangtua, seberapa sering anak-anak memiliki wajah bermain?  Dan pertanyaan kedua, seberapa sering saya menyaksikannya langsung?

Wajah bermain tentu saja sesering anak-anak melakukan aktivitas bermain. Terkait dengan kesibukan rutinitas sekolah anak, semakin sedikit tercipta wajah bermain, dan dipenuhi dengam wajah berpikir. Anak yang jarang bermain cenderung kurang bahagia, sedih, muram, pesimis, mudah marah, dan anti-sosial.  Betapa seriusnya dunia tanpa wajah-wajah bermain.

Dari keseluruhan aktivitas bermain anak baik di sekolah maupun di rumah, tidak bisa one hundred% saya saksikan. Walaupun hampir bisa dijadwalkan sehari hanya pada sore hari, saya tetap ingin melihatnya. Barang satu atau setengah jam saya melihatnya dari kejauhan.

Dan ternyata, sesekali anak-anak melirik ke arah saya saat bermain. Ooo, mereka juga ingin dilihat. Dengan bangga mereka ingin Mama-nya tahu hasil karya "ajaibnya" dan ketangkasan barunya.  Mereka berharap ekspresi balasan saya sama gembiranya seperti mereka. Mau belepotan terkena lumpur, atau baju terkena cat, atau badan basa keringatan, rasa kaget dan marah saya pun terurungkan.  Mengapa marah kalau saya melihat wajah mereka bergembira ?

Melihat betapa bahagianya mereka bermain, semakin besar tekat saya menciptakan waktu luang bagi anak-anak terutama, dan bagi kami orangtuanya, agar mereka bisa bermain lebih sering.

Kamis, 16 Juli 2020

SRIKANDI BLOGGER 2013 : BLOGGING AS WOMEN'S POWER

"Laksana Srikandi, kan kulepaskan anak panah ke angkasa.

Anak panah yang mengobarkan semangat,

pertanda saatnya pergerakan dimulai.

Srikandi itu bernama blogger, dan anak panahnya berupa blog "

Sinergisme Perempuan dan Blog

Siapalah saya, seorang perempuan biasa, terbawa rutinitas sebagai ibu, istri dan karyawan. Orang dekat mengenal saya sebagai sosok pendiam. Namun dalam diam saya berpikir, berangan dan bercerita. Ada banyak ide, opini dan kisah yang tertuliskan.

September 2008 saya mulai mengenal blog. Saya membangun sebuah rumah maya www.asacinta.blogspot.com secara autodidak. Sejak itu pula, telah terjadi perubahan besar bagi kegiatan online saya. Blogging membuat aktivitas online lebih dari sekedar kirim-kiriman email. Perlahan namun pasti, blog membangun eksistensi saya di dunia digital. Saya bergerak di dunia maya, namun karya saya aktual.  Blog juga membangun pertemanan dengan teman-teman di dunia maya, namun interaksi yang kita bangun adalah nyata.

Ada metamorfosa karakter  kiriman (post) dalam blog saya. Awalnya blog menjadi sarana berbagi pengalaman seputar pengasuhan anak. Kini  fungsi blog menjadi ganda. Selain untuk berbagi tulisan, saya juga mencatatkan portofolio karya-karya yang telah dimuat di media cetak, media online maupun lomba.

Kian kesini kian banyak pengunjung blog. Saya pun terpacu untuk menyajikan tulisan dan tampilan terbaik. Dari kata kunci pencarian saya tahu tema apa yang dicari pembaca dari blog saya.  Dari semua tulisan yang saya buat, rasanya hampir tidak ada yang tanpa tujuan berbagi informasi, semangat dan inspirasi. Pada akhirnya saya merasa, blogging memberikan kekuatan baru. Blogging membuat saya menjadi lebih percaya diri, lebih kreatif, lebih produktif, dan lebih berdaya.

Saya tidak sendiri. Jutaan perempuan di Indonesia,  siapapun dia, baik ibu rumah tangga, anak sekolah, mahasiswa, karyawan, pebisnis, politikus, seniman, penulis ataupun aktivis, juga telah memilih blog sebagai media aktualisasi diri.

Saya melihat sinergisme antara manfaat blog dengan potensi perempuan. Blog mempunyai manfaat sangat besar bagi peradaban manusia era sekarang dan akan datang. Telah banyak diketahui weblog bermanfaat untuk berbagi pengalaman, berbagi informasi, promosi produk, personal branding, sebagai catatan portofolio, sumber penghasilan, media berkreasi, media bersosialisasi, dan menyampaikan opini. Di sisi lain, potensi perempuan sangat besar. Daya pikir, ide dan kreatifitasnya tidak kalah dari pria. Perempuan punya kekuatan dalam kelembutannya, manajemen waktu, ketekunan dan kesabaran yang lebih baik dari pria, serta mempunyai kepekaan tinggi akan apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Maka sudah sangat tepat apabila perempuan memilih blog sebagai sarana juangnya di technology virtual ini.

Trend akhir-akhir ini blogger menjadi perpanjangan tangan kampanye dan promosi. Di sinilah peran blogger sebagai mass influencer memiliki kekuatan besar untuk menyampaikan suatu pesan.  Bayangkan, jika jutaan perempuan bisa menyampaikan suatu pesan yang baik, memperjuangkan haknya, menyuarakan idenya, membangun pendidikan non formal dari tulisannya , memerangi narkoba, memerangi korupsi dan banyak hal lain melalui blog. Ini akan menjadi kekuatan besar yang dilakukan oleh kaum perempuan.

Blogging Itu Mudah, Siapa Saja Bisa.

Terhitung pada tahun 2011, jumlah blogger Indonesia sebanyak 5.270.658 (i)

dan darijumlah ituhanya sepertiganya blogger perempuan (ii) .

Beberapa kendala penyebab perempuan lebih sedikit melakukan blogging daripada pria antara lain karena merasa gagap teknologi, menganggap konten blog harus sesuatu yang bernilai 'berat', merasa bukan penulis sehingga tidak pantas menulis blog, koneksi internet yang buruk dan kesibukannya dalam berbagai multiperan perempuan.  Banyak ibu-ibu yang baru bisa membuka laptop pada tengah malam, saat buah hatinya nyenyak.

Berita baiknya, sebanyak 33% dari total blogger perempuan telah dikaruniai anak(iii).  Ini artinya, walaupun repot dengan urusan keluarga, perempuan tetap menyempatkan diri untuk blogging, dengan kata lain, mereka merasakan manfaat blog sehingga masih berusaha blogging.

Seorang kawan pernah datang kepada saya minta diajari membuat blog. Dia mengakui geraknya untuk mengikuti berbagi lomba menulis terhambat karena menulis di weblog sebagai persyaratannya. Padahal saya tahu kualitas tulisannya bagus. Menurut pengakuan kawan saya tersebut, dia enggan berurusan dengan template, device, hyperlink, banner, html dan perangkat blog lainnya.

Lain lagi cerita kawan saya yang mempunyai blog, namun vakum mengisinya. Permasalahannya adalah krisis percaya diri. Menurutnya, tulisannya tidak bagus. Dia juga merasa untuk apa berbagi pengalamannya yang biasa-biasa saja.

Dari pandangan dua kawan saya tersebut mengenai weblog, saya menuliskan popularity di fb seperti yang terlihat pada print screen berikut:

Saya ingin meyakinkan bahwa tidak perlu menjadi penulis atau fotografer untuk bisa menjadi blogger.  Seperti yang kita temui dalam dunia maya, ada banyak genre blog, sesuai bidang keahlian masing-masing blogger.  Ada blog fashion, kerajinan tangan, cooking, menjahit, toko online, pertanian, pendidikan, fotografi, motivasi, teknik dan lain sebagainya.  Seorang blogger tidak perlu terhambat oleh ejaan yang disempurnakan, kalimat bahasa baku atau desain yang cantik, juga tidak diwajibkan menayangkan foto dari kamera DSLR.  Blogging adalah bentuk aktualisasi dunia digital yang paling merakyat. Pengalaman biasa kita, bisa jadi menjadi berharga bagi orang lain yang membacanya.

Terlepas dari desain blog saya yang pas-pasan, juga kemampuan teknis yang bisa dibilang masih jauh dari sebutan 'jagoan ngeblog' saya beranikan diri untuk menyemangati teman-teman disekitar saya (teman kantor) untuk membuat blog.  Apalagi institusi telah menyediakan blog untuk staff yang berinduk pada blog institusi. Kenapa tidak fasilitas ini digunakan?

"Blogging itu mudah, blogging itu boleh untuk siapa saja. Nggak percaya? Sini deh kuajari. Sebentar saja pasti bisa." kata saya pada mereka yang datang "berguru"

KEB dan Srikandi  Blogger

Awal tahun 2012 saya menemukan komunitas blogger dimana saya merasa sangat nyaman tergabung di dalamnya, yaitu  Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB). Pertemanan dalam grup tidak hanya masalah blogging, namun menjadi pertemanan nyata yang menyenangkan. Dalam grup ini saya merasa leluasa untuk berbagi blog, karena cakupan perempuan sangat sesuai dengan ranah tulisan saya.   Di sini saya menulis dari pemikiran perempuan, untuk dibaca oleh para perempuan.  Walaupun tidak menutup kemungkinan tulisan bisa dibaca oleh kalangan manapun, namun setidaknya pembaca tahu kapasitas saya .

Pada tahun 2013 ini KEB menyelenggarakan ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Yang langsung terbayang dibenak saya sosok Srikandi, seorang perempuan tokoh pewayangan yang dikenal sebagai pejuang tangguh, cerdas, dan cermat membidikkan anak panah.   Jadi, Srikandi Blogger menurut saya adalah seorang blogger perempuan yang mempunyai semangat juang, berkarakter kuat,  cerdas dan berpengetahuan luas.  Srikandi blogger juga harus mampu menjadikan blognya sebagai anak panah yang dilepaskan dari kejauhan dan tepat mengenai sasaran.  Inilah yang membedakan Srikandi Blogger dengan blogger lainnya. Pemilihan Srikandi sebagai penggambaran sosok blogger perempuan menurut saya sangat tepat.

Http://kreavi.Com/data/user-kreavi/3918-zv53qsjt-srikandi.Jpg

Saya, sebagai Srikandi Blogger 2013

Blogging, bagi saya berarti menyimpan jejak karya dan berbagi inspirasi.  Blogging adalah bentuk aktualisasi saya di era digital ini.  Keberhasilan saya terukur oleh seberapa luas dan banyak menjangkau pembaca, seberapa kuat bisa menularkan semangat menulis dan blogging, serta seberapa kuat bisa mengajak pembaca dalam pesan yang saya sampaikan.

Melihat apa yang saya lakukan dalam 5 tahun terakhir di duniablogging, melihat kemajuan yang pesat baik frekuensi maupun konten tulisan terutama dalam 2 tahun terakhir ini, serta melihat respon pembaca yang antusias, maka saya memberanikan diri untuk mengikuti ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.

Saya telah melalui seleksi tahap pertama dan menjadi nominee 50 besar Srikandi Blogger 2013. Ini merupakan lonjakan pesat dalam ‘karir’ blogging yang saya tekuni.  Awalnya tujuan saya tidak muluk-muluk, pertama karena terpanggil semangat kompetisi, kedua ingin mengenal lebih dekat kegiatan KEB baikonline maupunoffline.Kemudian para nominee memasuki masa karantina online untuk memilih 10 besar.  Dalam perjalanan waktu, saya semakin menyadari bahwa peran Srikandi Blogger haruslah lebih bermanfaat dan berdampak luas.

Dalam lingkup kecil, saya telah dan akan terus menyampaikan pesan Blogging as Women’s Power.   Saya jadikan blog sebagai contoh wujud kekayaan pemikiran perempuan. Jika saya terpilih sebagai Srikandi Blogger 2013, tentu jangkauan pesan tersebut akan lebih luas.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada dua pesan utama yang akan saya usung. Pertama, mengkampanyekan bahwa blogging itu mudah.  Kedua, mengkampanyekan siapa saja boleh ‘ngeblog'.  Harapannya, akan semakin banyak perempuan Indonesia yang percaya diri untuk berekspresi melalui blogging. Ini adalah langkah pembuka untuk tahun-tahun selanjutnya guna menggerakkan kekuatan perjuangan yang lebih besar dalam berbagai bidang terkait perempuan. Kolaborasi Srikandi Blogger 2013 bersama Kumpulan Emak-emak Blogger akan membantu terwujudnya blogging as women's power.

Ini dia "busur dan panahku" ^_^

Sumber data :

*)     salingsilang.com Juli 2011 dalam http://giewahyudi.com/media-sosial-indonesia-dalam-statistik/

**)   http://asmarie.blogdetik.com/2011/11/07/3-1-perbandingan-blogger-wanita-dan-pria-di-bloggernusantara/

***) okezone.com dalam  http://sumber-informasikita.blogspot.com/2009/09/jumlah-blogger-wanita.html)

KEB

Tulisan ini diikutkan dalam seleksi tahap 2 Srikandi Blogger 2013.

Tulisan tahap 1 bisa dilihat di sini.

Rabu, 15 Juli 2020

My Blog : Jejak Karya untuk Berbagi dan Menginspirasi

Telah terjadi perubahan besar bagi kegiatan online saya akhir-akhir ini. Sejak September 2008, saya mengenal kegiatan blogging yang membuat aktivitas online lebih berwarna dari sekedar kirim-kiriman email. Saya mengenal blogspot lebih dahulu dibanding facebook. Bahkan ketika facebook akhirnya menyita sebagian kehidupan online saya, nyatanya blogging tetap mendapatkan porsi besar. Blogging tetap menjadi media terbesar dan terkomplit fiturnya sehingga saya bisa menulis baik berupa curhat, artikel maupun reportase dengan tambahan foto, video, atau hyperlink.  Facebook dan twitter kemudian menjadi sarana untuk membagikan tautan blog.

Pada awal blogging saya isi blog dengan foto dan cerita-cerita seputar anak. Lama-kelaman saya menyadari kalau tidak semua cerita dan foto keluarga pantas untuk dipasang di blog. Kemudian saya mulai beralih menulis artikel-artikel perempuan dan keluarga baik diblog maupun di media cetak sehingga bisa mengena pada lebih banyak pembaca. Fungsi blogpun menjadi ganda, pertama untuk berbagi tulisan, kedua untuk mencatatkan portofolio karya-karya yang telah dimuat di media cetak, media online maupun lomba.

Sejak saya bergabung di Klub Emak-emak Blogger (KEB) dalam setahun terakhir dan sering berbagi tautan, pembaca blog semakin meningkat dan banyak  yang merespon positif. Saya terpanggil untuk lebih banyak berbagi opini dan pengalaman. Sifatnya berbagi karena saya bukan pakar dan tidak ingin menggurui.  Dulu jumlah pengunjung blog akan banyak hanya jika saya berbagi tautan.  Saat ini, pengunjung blog selalu ada walaupun saya tidak sedang membagikan tautan. Artinya, blog saya mulai menjadi bacaan para pencari di mesin pencari Google. Setiap hari sekitar 60-100 pengunjung untuk www.asacinta.blogspot.com dan sekitar 30 untuk www.intipbuku.blogspot.com. Dari kata kunci pencarian saya tahu tema apa yang dicari pembaca dari blog saya.  Fokus blogging saya masih pada konten tulisan, belum mengarah pada design yang cantik.  Selain karena kemampuan teknis saya masih belum memadai, saya penggemar desain sederhana yang memudahkan mata untuk membacanya.

Saya mengelola beberapa blog dari satu akun gmail. Ada weblog utama yang berisi semua opini dan karya saya, ada weblog evaluate buku dan blog khusus parenting. Rencananya saya akan mengembangkan weblog tentang kota kelahiran saya, Trenggalek, dan weblog tentang kota tinggal saya, Bogor. Tujuannya untuk berbagi informasi dan opini tentang kedua kota tersebut. Dari semua tulisan saya, rasanya hampir tidak ada yang tanpa tujuan berbagi informasi, semangat dan inspirasi. Sekecil apapun, saya ingin semua tulisan saya bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Dalam perkembangan trend blogging akhir-akhir ini blogger menjadi perpanjangan tangan kampanye dan promosi  sebuah institusi.  Bentuk tulisan berupa review, kampanye dan reportase kegiatan dan biasanya dikemas dalam ajang perlombaan. Di sinilah peran blogger sebagai mass influencer memiliki kekuatan besar untuk menyampaikan suatu pesan. Saya mungkin belum sampai pada tahap itu. Saat ini bagi saya mengikuti passion menulis dan berbagi, mengikuti panggilan jiwa untuk berkompetisi dan berusaha menyebarkan semangat untuk orang- orang disekitar saya. Menyemangati anak-anak, rekan kantor, sahabat dan teman-teman dalam jaringan sosial media.

Saya menikmati ramainya berbagai lomba tersebut. Bukan sekedar semangat kompetisi yang mendorong saya ikut berbagai lomba, menurut saya ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan opini masukan dan harapan pada suatu instansi. Sebut saja tulisan saya tentang PLN yang berisi harapan untuk PLN. Atau tulisan untuk lomba KPK yang menjadi bentuk partisipasi dalam gerakan blogger antikorupsi. Saya bangga telah menggoreskan pena melalui ajang dimana memang masyarakat umum brrkesempatan menyampaikan langsung pada instansi terkait. Pada situasi biasa, tidak selalu mudah dan ada kesempatan melakukan hal itu.

Di dunia digital saya aktif blogging, di dunia fisik saya adalah pegawai negeri sipil di Insititut Pertanian Bogor.  Beruntung sekali, IPB menyediakan layanan LAN dan blog staff http://staff.ipb.ac.id/ yang terkoneksi dengan situs IPB.  Nama blog saya www.murtiyarini.staff.ipb.ac.id .  Dengan demikian, institusi tempat saya bekerja telah menyadari manfaat blogging bagi karyawannya. Blogging bukanlah kegiatan online ‘hura-hura” tanpa manfaat. Blogging menjadi tempat berbagi informasi tanpa batas waktu dan jarak, tempat menyampaikan ide dan berbagi kisah inspiratif lainnya baik dalam bidang pendidikan, keilmuan maupun umum.

Rumah digital saya yang lain adalah Kumpulan Emak Blogger. Saya bergabung sejak awal 2012. Awalnya tergerak untuk ikut lomba yang diadakan Kumpulan Emak-emak Blogger tentang Ponsel Pintar untuk Perempuan.  Saya nyaman berada di grup Kumpulan Emak-emak Blogger karena panggilan akrab sesama anggota “Maaaak!”.  Pertemanan dalam grup tidak hanya masalah blogging, namun menjadi pertemanan nyata yang menyenangkan. Selain itu, dalam grup ini saya merasa mudah untuk berbagi blog, karena cakupan perempuan sangat sesuai dengan ranah tulisan saya.   Dalam rumah KEB saya tidak perlu menyesuaikan pandangan agar bisa diterima laki-laki.  Disini saya menulis dari pemikiran perempuan, untuk dibaca perempuan.  Walaupun pada kenyataannya tulisan bisa dibaca oleh kalangan manapun, namun setidaknya pembaca tahu kapasitas saya menulis di seputar dunia perempuan dan keluarga.

Blogging, bagi saya berarti menyimpan jejak karya dan berbagi inspirasi. Blogging adalah bentuk aktualisasi saya di era digital ini.  Keberhasilan saya terukur oleh seberapa luas dan banyak menjangkau pembaca, seberapa kuat bisa menularkan semangat menulis, dan seberapa kuat bisa mengajak pembaca dalam pesan yang saya sampaikan, masih dalam rambu yang saya terapkan : jangan terkesan menggurui.

Melihat apa yang saya lakukan dalam 5 tahun terakhir di dunia blogging, melihat kemajuan yang pesat baik frekuensi maupun konten tulisan terutama dalam 2 tahun terakhir ini, serta melihat respon pembaca yang antusias, maka saya memberanikan diri untuk mengikuti ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013.  Tujuan saya tidak muluk-muluk, pertama karena terpanggil semangat kompetisi, kedua ingin mengenal lebih dekat kegiatan KEB baik online maupun offline, dan jika saya menang, tentu tulisan dalam blog akan semakin banyak dibaca. Bagi diri sendiri, ajang Srikandi Blogger ini menyemangati diri untuk semakin memperbaiki kualitas tulisan dan meningkatkan kemampuan blogging sehingga bermanfaat secara optimal.

KEB

Tulisan ini diikutkan untuk ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013 yang diselenggarakan Kumpulan Emak-emak Blogger

Selasa, 14 Juli 2020

Srikandi Blogger Around You

Pada pertengahan April 2013 dunia blogger dihebohkan oleh ajang pemilihan Srikandi Blogger 2013 yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak-emak Blogger. Kegiatan ini menghadirkan suatu gebrakan, karena belum pernah ada ajang pemilihan blogger yang dikhususkan untuk perempuan. Di satu sisi, event yang diketuai oleh Wylvera Windayana  ini mempunyai pembeda dari ajang lain untuk perempuan, yaitu tidak berdasarkan kecantikan fisik. Ajang pemilihan Srikandi Blogger murni menilai bagaimana blogger perempuan bisa aktif blogging dan beraktivitas terkait blogging secara online maupun offline, bagaimana blognya bermanfaat dan menginspirasi banyak orang sehingga menjadi bentuk aktualisasi dirinya. Tak pandang dari latar belakang sang blogger, apakah dia penulis, pebisnis, ibu rumah tangga, wanita pekerja, seniman, koki dan banyak profesi lain.

Puncak acara Srikandi Blogger dilaksanakan pada tanggal 28 April 2013 di Gedung F Kemendiknas, Jl. Sudirman Jakarta.  Acara ini juga disponsori antara lain oleh Acer Indonesia, ditergen Rinso, kosmetik Wardah dan banyak lagi. Pada acara itu dinobatkan 5 predikat penghargaan, yaitu Acer Srikandi Blogger diraih oleh Alaika Abdullah, Acer Srikandi Persahabatan diraih oleh Myra Anastasia, Acer Srikandi Favorit diraih oleh Anazkia, Blogger inspiratif oleh Haya Aliya Zaki dan Blogger Life Time Achievement oleh Yati Rachmat. Blog masing-masing pemenang dan liputan lengkapnya bisa dilihat di link pada akhir tulisan ini (agar bacanya nggak putus-putus ya).

Saya pun sebenarnya mengikuti audisi ini. Namun terseleksi dan harus bertahan di 50 unggulan, bangga nggak sih? Bangga dong. Dan sekaligus saya bangga mengantarkan teman-teman yang bisa berlanjut

ke babak final 10 besar. (Ini adalah bahasa yang halus pengganti kata : kalah, hehehe).

Jadi saya kalah? Enggak, saya tidak merasa demikian. Karena ketika masuk dalam 50 besar unggulan sudah terasa sekali keakraban sesama emak blogger, saling dukung dan siapapun yang menjadi pemenang bukan masalah. Saya dan emak-emak blogger yang lain tetaplah memegang spirit sebagai Srikandi Blogger.

Spirit itu terasa sampai sekarang. Pasca acara Srikandi Blogger 2013, saya jadi lebih sering mengamat-amati blog-blog perempuan  yang wara-wiri di dunia maya. Srikandi Blogger adalah sosok blogger perempuan yang inspiratif dan mampu mengaktualisasikan karyanya.  Saya yakin, diluar ajang itu, banyak Srikandi Blogger bertebaran. Kadang, karena keterbatasan waktu dan lingkup pergaulan menjadikan sang srikandi tidak terlihat oleh dunia blogger secara luas. Namun jika melihat hakekat Srikandi Blogger, tidak perlu diragukan lagi, ada banyak sosoknya di sekitar kita.

Saya akan sedikit bercerita tentang sosok Srikandi Blogger di lingkungan kerja kami, Institut Pertanian Bogor (IPB).  Para staf dan mahasiswa IPB telah difasilitasi blog yang menginduk pada situs IPB. Tentu, blogging bukan hal tabu yang perlu dihindari oleh staf. Blogging justru mendatangkan banyak manfaat dan meningkatkan kinerja. Bagi sebagian akademisi, blogging menjadi sarana berbagi informasi apa saja terkait proses belajar mengajar. Sebagai staf dan blogger (staff blogger) saya pun mengaktifkan akun staff blog di IPB. Kami bisa saling melihat staff blogger -staff blogger lain yang tengah aktif memperbarui blognya. Dari situ saya mengenal ibu Anita Handayani.

Anita Handayani, usia 53 tahun, adalah seorang pustakawan. Di sela waktunya bekerja, Anita mengisinya dengan update blog. Informasi-informasi dalam blognya sangat bermanfaat. Mulai dari masalah keluarga, tentang wanita dan anak-anak, kejadian sehari-hari, humor atau panduan-panduan ringan beberapa aplikasi komputer dan internet. Anita menulisnya dengan bahasa yang lugas, ringan dan mudah dipahami. Anita mengisi blognya hampir setiap hari, sesuai dengan tagline blognya "tempat saya beristirahat dan talking about with you". Anita ingin menjadikan blognya sebagai tempatnya berbicara kepada pembaca.

"Welcome, I hope you can enjoy with everything I’ve presented on this site about my hobbies (photography, computer, web design, adobe photoshop, winisis, cooking, coloring, midi music,  poem,  tibiame, otomotif, joke), archive, baby sitter, employment regulations, healthy and psychiatric. If you have any comments, suggestions, or opinion about this site, please express it just by signing my guestbook."

Demikian Anita menyapa pengunjung blognya. Kagum deh, melihat pos-pos blognya yang banyak dan bermanfaat banget.

Setiap tahunnya IPB memberikan penghargaan kepada blog teraktif berdasar webometric.  Dan sudah  3 tahun berturut-turut Anita memperoleh penghargaan tersebut (2010-2012). Anita mencapainya tanpa teknik SEO tertentu. Anita juga tidak berniat menjadikan blognya untuk lomba. Anita mendedikasiikan dirinya untuk menulis dan menulis di blog. Dari situ dapat saya simpulkan betapa bermanfaat blognya bagi para pembaca dunia maya, banyak yang membaca walaupun tanpa teknik khusus.

(Hayo, siapa tuh yang suka ngeblog untuk lomba? Hihihi, boleh kan? Kompetisi sehat berdampak positif kan mak?)

Anita mengenal blog sejak lama. Dulu bermula dari multiply dan sekarang akrab dengan paltform wordpress.

Setelah saya menuliskan sedikit ulasan tentang Srikandi Blogger 2013 di blog IPB, Anita membaca dan jadi tahu adanya Kumpulan Emak-emak Blogger

Anita langsung bergabung di grup facebook. Saat kami bertemu di bis jemputan pegawai, dengan antusias Anita bertanya banyak tentang Srikandi Blogger dan KEB.  Saya pun antusias menjelaskan tentang grup tercinta yang dibangun atas inisiatif makpon (emak founder) Mira Sahid dkk. Bersama KEB para perempuan blogger bisa belajar dan bersosial lebih banyak, sehingga semakin menambah aktualisasi diri melalui blog.

Dengan demikian, dua titik positif bertemu. Anita Handayani, Srikandi Blogger di lingkup IPB bertemu dengan KEB. Satu saja berdampak baik, apalagi jika semakin banyak Srikandi Blogger bergabung dengan KEB.

Who is Srikandi Blogger around you? Yuk, ajak gabung KEB. Semoga bisa bersinergi ya maaaak!

__________________________

Foto dari facebook Kumpulan Emak-emak Blogger dan Blog Anita Handayani

Tulisan ini memenangkan juara hiburan pada kompetisi blog Srikandi Blogger 2013

Senin, 22 Juni 2020

Selalu Ada Waktu dan Ide untuk "Passion"

Seorang teman saya yang tengah melanjutkan studi di Jepang, sering upload foto-foto masakannya. Persepsi saya, dia memang sehari-hari memasak untuk keluarga, dan cukup sering memasak dalam jumlah banyak untuk event-event organisasi yang diikutinya di Jepang. Jadi sudah mirip-mirip katering gitu. Setahu saya memang dia pintar memasak, juga pintar menata sajian, tak heran jika tampilan masakannya cantik menggoda.

Lantas saya membandingkan dengan diri sendiri, yang rasa-rasanya memasak itu beban banget.

Niat hati ingin bisa memasak enak dan dikenang dalam ingatan anak-anak bahwa masakan mama paling enak (seperti saya terkenang masakan ibu). Tapi niat tidak berjalan mulus. Kenyataannya saya paling malas memikirkan bumbu-bumbu, dan entahlah, saya lebih baik menyetrika baju daripada memasak.

Membandingkan dengan teman saya yang jago masak tadi alih-alih membuat saya semangat, enggak juga. Hanya penasaran saja.   Saking penasaran, saya tanyakan langsung ke teman saya itu, sesaat setelah dia upload foto terbaru.

"Kamu kok bisa sih, kuliah, mengurus keluarga, masak setiap hari, terima pesanan pula. Gimana mengatur waktunya?" Tanya saya.

Saya kira dia akan menjawab : karena fasilitas di Jepang serba canggih, sistem masyarakat support pada ibu sehingga punya lebih banyak waktu memasak. Jawaban yang saya harapkan, agar saya yang selalu mengeluh terjebak kemacetan, plus malas memasak ini dapat pembenaran. Hihihi...

Bukan. Ternyata jawabannya di luar dugaan saya,

"Karena passion Rin, jadi pasti ada waktu dan senang melakukannya." Jawabnya.

Sudah. Saya nggak melanjutkan percakapan.

Karena ardour, maka akan ada waktu, dan ide.

Karena passion, maka dengan rela seseorang mengerahkan energi sebisa mungkin.

Karena passion...

Baiklah, sepertinya memasak memang bukan passion saya. Memang sih, bisa dipelajari, bisa membuat masakan yang enak. Tapi moody.

*****

Passion.

Apa sih bedanya sama bakat?

Entahlah, saya malas mencari artinya dalam kamus. Contohnya mungkin begini, saya punya bakat menggambar naturalis, tetapi sekarang nggak mood melakukannya, lama-lama bakat kian terpendam dan mungkin hilang. Sedangkan passion, hm..apa ya..sesuatu yang dilakukan dengan "bergairah". Kalaupun dulunya belum bisa atau bukan bakat, tapi kemudian karena sedang seneng-senengnya lantas jadi bisa. Passion bisa berubah seiring perjalanan waktu.

Apa passion saya saat ini?

Menulis ? Blogging? Shopping? *wew*

Suka datang ke event? Eaaaaa....*nyerempet-nyerempet* hahaha

Beberapa teman saya bertanya sehubungan dengan aktifitas menulis dan blogging.

Pertanyaan teman sesama penulis/blogger :

"Gimana sih cara atur waktunya agar bisa produktif menulis dan ngeblog padahal sambil kerja kantoran juga ?"

Sementara teman kantor saya bertanya :

"Bu, kalau di malam suka begadang y a untuk menulis? Kalau pagi s ering ada postingan baru" ---yang bertanya ini nggak tahu kalau postingan itu untuk lomba yang mepet deadline, hihihi..

Ada juga yang penasaran, seberapa lama saya butuh waktu untuk menye lesaikan satu tulisan. Terutama tulisan-tulisan untuk lomba yang biasanya panjang dan terkesan "serius" itu.

Percaya nggak, kalau saya bilang saya hanya butuh waktu 30 menit duduk manis di depan leptop untuk menulis sebuah postingan ? Pasti nggak percaya.

Betul, 30 menit duduk manis di depan leptop untuk benar-benar menulis. Paling sering ba'da Isya, malam deadline akan ditutup. Menulis 30 menit saja tanpa jeda. Anak-anak sudah makan malam lebih cepat. Sejak tiba di rumah saya bergerak cepat dengan tenaga super membereskan rumah dengan ilmu sapu jagat, wus..wus..wuss rapi!  Suami pun sudah diberitahu bahwa malam tersebut saya akan mengejar deadline. Janji deh, pas anak-anak sudah tidur, menulispun beres *kode*. Biasanya saya sampaikan dengan penekanan target, "Malam ini mama mau kejar deadline untuk sebuah tulisan senilai Rp. XX.XXX.XXX, setengah jam saja tolong biarkan Mama sendiri". Sudah, setelah itu semua mengerti, anak-anak sibuk dengan aktivitas masing-masing, suami mengkondisikan agar saya fokus dalam 30 menit "berharga" itu.

30 menit? Masa sih?

Anda benar kalau tidak memercayainya.

Karena seminggu atau bahkan sebulan sebelum hari saya menulis, saya telah memikirkannya apa-apa yang mau saya tulis. Saya membuat kerangka tulisan dalam benak saya, membuat detailnya sambil beraktifitas lainnya. Ketika memasak saya memikirkan judul, saat setrika saya memikirkan poin-poin yang harus dijabarkan, saat menunggu angkot ngetem saya memikirkan sudut pandang yang berbeda. Memanfaatkan waktu luang untuk terus berpikir dan menyiapkan ancang-ancang. Maka ketika tiba waktunya menuangkan, semua ide itu seperti air yang dituangkan dari ember. Byur, selesai.

Cerita lain adalah tentang pekerjaan kantor. Ini passion juga, walau kadang-kadang di bawah tekanan. Tertekan tetapi senang dan rindu,hihihi.

Nikmat bekerja bagi saya adalah di saat mendapatkan tantangan menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan masalah. Dan d apat pujian kalau sudah kelar. Semakin lama masa kerja, semakin banyak beban kerja. Arah pekerjaan lebih bersifat manajerial. Mulai atur sana sini. Banyak rekan yang membantu saya dalam bekerja (sebut : asisten), di sisi lain tangan dan otak saya menggurita, melihat lebih banyak dan menjangkau lebih banyak.

Terkesan banyak dan sibuk bangetkah?

Sebenarnya biasa saja. Walau scope pekerjaan banyak, kan seiring waktu semakin ahli. Sesuatu yang sudah ahli, butuh waktu lebih singkat dan memilih cara lebih efisien untuk melakukannya. Nggak berat-berat juga. Nggak sampai stres segimana-gimana.

See ? Passion yang sering dilakukan, menjadi ahli, menjadi mudah melakukannya.

Itu hanya dua contoh kasus saja tentang bagaimana saya mencari waktu dan mengerahkan ide untuk passion. Kalau sudah kepengen, otomatis kok kita mencari-cari jalan mendapatkannya. Jalan aman yang tentunya agar tidak kena "semprit", baik itu dari pihak keluarga di rumah, maupun bos di kantor.

Saya percaya, ketika passion itu muncul, seseorang akan mengupayakan mendapatkannya tanpa mengorbankan mereka yang dicintainya. Kalau passionnya sudah berhubungan dengan keluarga sih, tentunya nggak terlalu banyak benturan, misalnya passion memasak, momong anak, merapikan rumah. Aman deh!

Kalau passionnya butuh keluar rumah? Misalnya travelling, fotografi, arisan, atau hiking? Lalu anak dititip ke siapa? Atau kalaupun di rumah tetapi nggak nyambung sama pekerjaan rumah tangga? Misalnya bikin craft, menyulam, menjahit, menganyam yang akhirnya tekun seharian? Apa anak-anak nggak protes dicuekin?

Seringkali memang tidak mudah membayangkan kondisi keluarga lain kok bisa, sedangkan kondisi saya tidak memungkinkan. Tetapi ya fokus ke kondisi keluarga sendiri saja, masing-masing kita harusnya tahu karakter keluarga. Selanjutnya mainkan ide, gunakan waktu, kerahkan tenaga untuk memenuhi kebutuhan keluarga (terlebih dahulu) dan setelah itu kejar passion. Gunakan insting beradaptasi. *Insting?* hahaha..

Kalau nggak bisa juga? Ikhlaskan. Percayalah, Allah punya rencana lain yang lebih indah :)

Jadi kalau untuk hadir di event-event bagaimana? Anak dititip ke siapa? Suami dititip ke siapa? #Eh

Yaelah, untuk bekerja senin - jumat saya sudah bisa melakukannya, masa occasion yang hanya sesekali saja dibahas. Hehehe...

Selasa, 16 Juni 2020

Ketika Lelah Terbayar Lunas

Hari gini, rasanya semakin langka menemukan jasa gratis. Ketika di mana-mana menolong identik dengan dibayar dan minta tolong seolah wajib membayar. Ketika penghargaan dilandaskan pada uang, yang terjadi kemudian adalah kecanggungan satu sama lain.

Pernah menemui situasi seperti ini?

  • Duh, duit lagi cekak, eh pas banyak undangan kawinan.

Lho, bukannya seharusnya ikut bahagia ada teman menikah dan ingin menyaksikan momen bahagia mereka? Sayangnya, yang diundang malah fokus pada ada tidaknya uang atau kado mahal yang harus dibawa. Apakah mindset harus bawa uang itu menghalangi langkah kita untuk hadir? Padahal, sang pengantin sebenarnya sudah merasa sangat dihargai dengan kehadiran kita.

  • Ada teman yang sakit, sayang belum bisa menjenguk karena belum gajian.
  • Hai, please deh, masa iya untuk menjenguk teman harus menunggu gajian? Menjenguk teman yang sakit cukup dengan memberi support dan doa tulus. Itulah dukungan dan penghargaan yang dibutuhkan sebagai teman. Jikapun ada "sesuatu" yang dibawa adalah sebuah keleluasaan. Bukan kewajiban.

  • Ingin minta tolong ke seseorang, tetapi nggak bawa duit, mau nggak ya dia membantu?
  • Nah, cukup beranikah kita minta tolong tanpa menyiapkan uang sebagai tip? Apakah kita kuatir dicela karena tidak memberi tip? Sebaliknya, ketika kita menolong orang, bisakah pikiran kita tidak mengharap imbalan?

    Contoh-contoh situasi di atas menunjukkan arti penghargaan masih terbatasi oleh ada tidaknya uang atau materi.

    Seberapa penting sebuah penghargaan buat saya?

    Walaupun saya seperti orang pada umumnya yang menginginkan dan membutuhkan penghargaan, saya menilai sebuah penghargaan bukan terbatas pada uang atau materi semata.

    Penghargaan adalah bukti bahwa keberadaan saya dibutuhkan dalam satu lingkungan.  Karena saya paling banyak berinteraksi sosial dengan lingkungan kantor, banyak kondisi di mana seharusnya kita lebih peka dan menghargai satu sama lain dengan teman kerja, atasan maupun bawahan. Penghargaan dalam dunia kerja adalah "nyawa" sebuah manajemen institusi. Penghargaan membuat alur kerja berjalan nyaman, komunikasi efektif dan bersemangat.

    Bentuk penghargaan dalam dunia kerja cukup banyak, di antaranya :

    • Kenaikan jabatan karena prestasi atau kinerja.
    • Sebutan hormat Pak atau Ibu di manapun level karyawan berada adalah juga bentuk penghargaan.
    • Berkomunikasi dengan baik, meredam emosi dalam perdebatan dan mendengarkan lawan bicara.
    • Menjenguk karyawan dan rekan kerja yang sakit.
    • Perhatian pada kesulitan dan memberikan bimbingan kerja.
    • Memberikan hak berpendapat kepada karyawan.
    • Memberikan kepercayaan dalam bekerja.
    • dan lain sebagainya.

    Berdedikasi untuk dihargai.

    Menurut pendapat saya, kita tidak bisa memaksa orang lain menghargai kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melakukan yang terbaik. Penghargaan akan datang dengan sendirinya ketika orang melihat pencapaian kerja kita, merasa kagum dengan prestasi kita, merasa puas akan layanan kita, atau merasa terbantu. Ya, banyak cara meraih penghargaan, namun tidak bisa dipaksakan. Saya yakin, nilai penghargaan pada seseorang seiring dengan besarnya dedikasi yang diberikan. Dengan catatan apabila manusia tidak bisa menghargai disaat kita berdedikasi, Insya Allah ada balasan dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Pemurah.

    Saya sadari ketika saya mengukur penghargaan atas diri berupa rupiah-rupiah, maka hanya sampai situlah maksimal nilai kerja saya. Puaskah? Buat saya, menempatkan uang di depan sebuah pekerjaan, justru merendahkan martabat diri sendiri. Lantas kemudian orang akan melabeli hal yang demikian itu dengan "apa-apa uang". Lambat laun, kepercayaan dan kenyamanan bekerjasama akan surut. Rejeki pun menjauh. Rugi tentunya.

    Akan tetapi, ketika kita menghargai nilai pekerjaan kita dengan sesuatu yang priceless, yaitu bekerja ikhlas dan berdedikasi, niscaya, penghargaan demi penghargaan akan kita terima. Bisa saja penghargaan termanis dalam bentuk sebuah senyuman, ucapan terimakasih, kepercayaan akan tugas-tugas berikutnya, kepuasan akan hasil kerja yang berimbas pada pujian, ataupun penghargaan yang sifatnya monumental seperti pemberian piagam Satya lancana atau gelar. Di saat saya mampu memberi manfaat dan membuat orang lain bahagia, di situlah penghargaan tertinggi saya rasakan. Dan rasa lelah pun terbayar lunas.

    Lantas kapan materi akan datang?

    Sejauh pengalaman saya menerapkan prinsip di atas, materi saya anggap sebagai bonus yang mengikuti dari rasa puas. Jumlahnya bisa saja kecil, atau sebaliknya, bisa jadi berlipat-lipat banyaknya. Berapapun besaran materi, tidak akan menyurutkan nilai penghargaan yang kita terima jika kita menempatkan diri untuk pantas dihargai.

    Give and take.

    Dari sisi lain, berpegang pada prinsip give and take, bagaimana kita bisa menghargai orang lain, seperti itu pula penghargaan akan kita terima kembali. Sebagai contoh adalah ketika saya menghargai asisten rumah tangga dengan ucapan terima kasih dan perilaku sopan, serta tambahan bonus pada waktu-waktu tertentu. Insya Allah, asisten pun akan memberikan penghargaan kepada saya dalam bentuk rasa hormat dan loyalitas.

    Begitu pula kantor sebagai pengguna jasa karyawan. Semakin besar penghargaan kantor pada karyawan, semakin semangat dan loyal karyawan pada kantornya. Dan secara tidak langsung, semakin bagus kinerja institusi sehingga semakin besar capaian yang bisa diraih.

    Penghargaan dari institusi akan membuat karyawan merasa termotivasi dan kemudian berkomitmen saling berkontribusi untuk meningkatkan profitabilitas. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat dan insentif menstimulasi keterlibatan karyawan dalam hal pekerjaan hingga 60% dan mengurangi ketidakhadiran hingga lebih dari 47% (sumber : http://sodexobenefits.Co.Identification/id/perusahaan).

    Bentuk penghargaan materi yang sesuai.

    Materi bukan hal tabu untuk dijadikan bentuk penghargaan. Materi yang diberikan dengan tulus adalah bentuk penghargaan yang menyenangkan.

    Penghargaan berupa materi sebaiknya dilakukan dengan cara berikut :

    • Memberi penghargaan materi tidak dimaksudkan "membeli" jasa atau menunjukkan "kemampuan memerintah" di kemudian hari.
    • Penghargaan materi disertai niat tulus untuk berterima kasih.
    • Penghargaan materi tidak dijanjikan atau disebutkan di awal ketika meminta tolong melakukan sebuah pekerjaan. Dimaksudkan agar tidak menumbuhkan kebiasaan mengharap imbalan.
    • Penghargaan materi diberikan tidak secara rutin, sebaiknya diacak waktunya sehingga tidak menimbulkan kebiasaan menanti-nanti pemberian.

    Saya seringkali dimintai pendapat atasan saya untuk mencari bentuk materi yang pas untuk diberikan kepada karyawan berprestasi. Atasan ingin penghargaan tersebut berupa sesuatu yang bermanfaat, bernilai materi, dan berkesan.

    Saat itu, spontan yang terlintas adalah hadiah berupa voucher belanja Sodexo . Kenapa harus voucher padahal toh untuk belanja juga? Hm, tentu sangat beda kesannya menerima hadiah berupa voucher dibandingkan dengan uang. Voucher adalah bentuk hadiah yang m e ngesankan, menunjukkan adanya perhatian dari si pemberi, fleksibel untuk segala usia dan memberikan keleluasaan pilihan belanja bagi si penerima.

    Saya beberapa kali berpengalaman menerima hadiah berupa voucher Sodexo Gift Pass dari beberapa kali memenangkan perlombaan. Dari pengalaman tersebut, saya tahu Sodexo Gift Pass bisa dibelanjakan di lebih dari 269 merchant Sodexo dan 14.170 outlets di seluruh dunia. Saya merekomendasikan Sodexo Gift Pass sebagai bentuk hadiah penghargaan untuk siapapun.

    Bentuk hadiah berupa voucher belanja bisa disesuaikan dengan maksud dan tujuan pemberi.  Selain Sodexo Gift Pass, tersedia beberapa jenis voucher Sodexo lainnya, yaitu Sodexo Food Pass untuk membeli makan siang dari beragam restoran dan perusahaan makanan, Sodexo Reward Pass untuk mengakses berbagai jenis pusat perbelanjaan dengan makan malam (shopping dining), pengalaman santai dan rekreasi, Sodexo Promo P ass adalah bentuk hadiah sekaligus media promosi yang menarik untuk kampanye pemasaran perusahaan anda, serta Sodexo Discount Pass , yaitu berupa kartu diskon sebagai bentuk hadiah yang kreatif.

    Lelah yang terbayar.

    Orang bekerja umumnya untuk mendapatkan gaji. Lumrah juga apabila karyawan ingin dihargai lebih dari gaji yang dia dapatkan setiap bulannya. Pekerjaan yang melelahkan, dedikasi yang luar biasa, selayaknya dibayar lunas dengan penghargaan. Dan penghargaan yang paling cepat dan mudah diberikan adalah rasa terimakasih.

    Sepertinya sepele, kenyataannya sering kali orang lupa berterimakasih. Melontarkan kritik, menegur dan memberi masukan memang diperkenankan dalam sebuah pekerjaan, namun tetaplah ingat untuk berterimakasih.

    Ketika saya melakukan sesuatu, rasa lelah terbayar lunas oleh rasa terimakasih. Setelah itu, energi dan semangat yang lebih besar akan datang lagi.

    Di sisi , ketika saya menerima jasa atau bantuan, ada banyak cara yang bisa menyertai rasa terimakasih. Dan saya senang jika hal itu membahagiakan penerimanya.

    Jadi, seberapa penting sebuah penghargaan bagi say a?Jawabnya, sangat penting. Karena penghargaan, baik itu dihargai, maupun menghargai, akan meningkatkan kualitas interaksi dalam bersosial, dan berdampak besar bagi peningkatan produktifitas dan kualitas hidup.

    Senin, 08 Juni 2020

    Suatu Kesempatan

    Ketika helaian rambut putih mulai tampak,

    Ketika orang lebih sering memanggilku “Bu”, ketimbang “Mbak”.

    Ketika gadis kecilku tau-tau udah menyamai tinggiku,

    Dan senyumku membentuk kerut di sudut mata,

    Kusadari suatu kesempatan telah tiba.

    Kesempatan memasuki Usia Cantik.

    usia cantik murtiyarini

    It’s mean you’re getting old, Arin!

    Lalu kenapa? Menua itu sesuatu yang pasti. Bahkan saya pun tidak mau melawan waktu dan menjadi muda terus menerus.

    L’Oreal Paris, menyebut dalam kampanyenya, bahwa wanita usia 35 ke atas sedang memasuki Usia Cantik. Konon, Golden moment seorang perempuan adalah pada usia tersebut. Benarkah?

    Saya menganggap usia cantik adalah suatu kesempatan. Waktu berlalu begitu cepat. Menyadari bahwa saya berada di usia cantik menyadarkan diri akan banyak hal di masa lalu. Bukan penyesalan semata, namun lebih menjadi rasa syukur, bahwa saya berkesempatan memasuki usia cantik ini. Dan inilah kesempatan yang tidak boleh saya sia-siakan.

    Pertama, inilah kesempatan saya menjadi perempuan yang lebih baik.

    Jika ini terdengar idealis dan klise, percayalah, bahwa fitrah manusia selalu ingin dirinya menjadi lebih baik. Hanya saja, tingkat keberhasilannya berbeda-beda. Ada yang berubah cepat, ada yang kalem saja, bahkan seolah tanpa perubahan. Apapun itu, adalah pilihan hidup masing-masing perempuan di usia cantiknya. Dimulai dengan niat menjadi perempuan lebih baik, mudah-mudahan berhasil mengafirmasi saya untuk benar-benar mewujudkannya.

    Jangankan sepuluh tahun silam, lima tahun sebelumnya saya merasa banyak perubahan dalam diri saya, baik fisik maupun perilaku. “Saya muda” belum tahu apa yang akan saya kerjakan pada bulan dan tahun mendatang. Semuanya mengalir mengikuti ritme dan arus pergaulan. Kuliah, pacaran, menikah, mencari pekerjaan. Ya seperti gadis kuliahan pada umumnya.

    Titik balik saya adalah ketika mempunyai anak dan tahu rasanya bahwa punya anak itu tidak hanya bahagia, tapi juga penuh tantangan. Baru di situ saya sadar, bahwa saya harus punya rencana-rencana. Cukup berat membuat rencana yang saya tahu tidak mudah untuk dilaksanakan. Rencana perbaikan finansial dengan gaji pas-pasan. Rencana pendidikan anak dengan bekal pengalaman sebagai ibu baru. Rencana memiliki penghasilan tambahan dengan modal nol. Rencana ingin melakukan apa setelah pensiun. Ya, kira-kira awal usia 30 tahun saya baru memikirkan rencana-rencana hidup.

    Saking sibuknya dengan kehidupan baru sebagai istri dan orangtua, ada rentang waktu yang terasa sangat cepat berjalan. Sampailah saya di usia 35 tahun. Saya tersadar bahwa saya tidak muda lagi ketika mulai menemukan helaian uban di kepala, kerutan di sudut mata, dan berangsur namun pasti, tak ada lagi yang memanggil saya “mbak”. Semua orang memanggil saya “bu”.

    Sempat merasa nggak rela memasuki usia cantik ini, kalau saja saya tidak menemukan passion baru. Passion yang menurut saya keren, yaitu menulis dan blogging. Di sisi lain, karir saya beranjak naik. Seiring masa kerja yang lama dan kinerja yang baik, institusi memberikan tanggung jawab lebih kepada saya. Dua hal, hobi dan pekerjaan yang kemudian membuat saya merasa muda kembali.

    Suatu perasaan yang aneh, mungkin Anda sulit memahaminya jika tidak merasakan sendiri berada pada usia cantik. Justru di usia ini, saya semakin bersemangat dan berani untuk belajar, mencoba hal baru, berteman, atau bepergian. Sesekali saya menyesali, kenapa saya baru berani dan bersemangat melakukan banyak hal sekarang-sekarang ini? Jadi saya ini semakin tua atau semakin muda sih sebenarnya?

    Kedua, usia cantik adalah kesempatan saya untuk mengasah kematangan diri.

    Hal ini sifatnya sangat personal dan unik. Usia tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan jiwa. Sudahkah jiwa saya matang? Sudahkah saya bisa mengendalikan hawa nafsu dan emosi? Pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri sendiri.

    Usia cantik adalah kesempatan untuk menjadi perempuan yang lebih sabar dan matang. Jika 10 tahun lalu saya mempunyai sikap pendiam namun keras kepala dan sulit menerima masukan, kesempatan saya untuk melembutkan hati adalah pada usia cantik ini. Iya, mau kapan lagi bisa mengelola emosi ?

    Ketiga, usia cantik adalah suatu kesempatan memperbanyak silaturahmi.

    Selepas sekolah, komunikasi dengan teman terputus. Bergantilah teman-teman lama dengan teman-teman baru. Mereka adalah tetangga, teman kantor dan teman-teman komunitas. Karena sudah tidak sekolah lagi, inilah kesempatan mencari teman sebanyak-banyaknya. Berangkat dari hobi yang sama, akhirnya saya menemukan teman-teman sehobi yang tersebar dalam berbagai komunitas. Senang rasanya saya bisa merasakan kesempatan menikmati indahnya silaturahmi.

    Saya menyadari, kelak kita tua tidak lagi banyak teman dari masa lalu, karena terpisah jarak dan waktu. Yang bertahan adalah teman dengan hobi dan kepentingan yang sama. Karena itu, memperbanyak teman adalah usaha saya mencegah rasa sepi di saat ini dan nanti.

    Keempat, usia cantik adalah suatu kesempatan untuk tetap cantik.

    Darimana datangnya kecantikan?

    Di saat wajah mulai berkerut, kulit mulai menua, badan tak selangsing dulu, kiranya sulit mendatangkan kecantikan dari fisik. Sesungguhnya kecantikan itu adalah soal perspektif. Kecantikan itu relatif bagaimana orang melihatnya. Niscaya tak ada yang menyangkal seorang perempuan yang tersenyum tulus dan ramah terlihat cantik. Dan kecantikan semakin kuat ketika seorang wanita semakin percaya diri. Gesturnya akan terlihat luwes dan menyenangkan.

    Soal kulit wajah mulai berkeriput, ini rupanya alasan L’Oreal Paris memahami kekuatiran tersebut dan mengajak para wanita mengapresiasi diri dengan pancaran inner beauty-nya, serta menciptakan inovasi produk Revitalift Dermalift untuk perawatan kulit wanita pada usia cantik ini. Apreasiasi terhadap diri sendiri menumbuhkan kepercayaan diri dan menjadi self healing yang dapat merangsang sel-sel melakukan regenerasi dan menghambat penuaan. Tak heran jika wanita yang bersemangat dan percaya diri akan tampak lebih muda.

    usia cantik murtiyarini

    Sejak beberapa tahun silam, saya menyadari bahwa kulit wajah butuh perawatan ekstra. Saya pun mulai menggunakan L’Oreal Paris Revitalift Dermalift. Dulu niatnya mau coba-coba, tapi nggak mau sembarangan mencoba. Akhirnya pilih L’Oreal Paris Revitalift Dermalift sebagai produk kecantikan kulit terpercaya. Yang saya rasakan adalah kulit menjadi lebih sehat, jarang berjerawat, lembab dan kenyal. Keriput masih ada, tapi banyak berkurang. Bekas jerawat masa ABG dulu perlahan memudar. Kulitpun tampak lebih cerah. Hingga sekarang saya masih menggunakan L’Oreal Paris Revitalift Dermalift.

    Ada 3 jenis produk L’Oreal Paris Revitalift Dermalift yang saya gunakan yaitu Day Cream, Night Cream dan Milky Face Foam. Produk terbaru L’Oreal Paris Revitalift Dermalift mengandung tanaman Centella asiatica, Pro retinol A dan Dermalift Technology yang dapat mengurangi kerutan sebanyak 27% serta meningkatkan kekencangan kulit sebanyak 35% di 8 zona utama wajah (dahi, di antara alis, kontur mata, kerutan, ujung luar pipi, garis senyum, rahang dan leher).

    usia cantik murtiyarini

    Usia cantik adalah suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik dengan menghargai orang lain dan diri sendiri. Yakini bahwa berada pada usia kapanpun, selalu ada cara untuk menjadi cantik. Enjoy our life. Jalani usia cantik dengan natural. Waktu memang akan berjalan cepat, karena itu ini adalah kesempatan yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.

    Masih banyak kesempatan lainnya di usia cantik ini. Itulah kesempatan yang paling besar saya rasakan. Senang sekali banyak cerita usia cantik yang saya baca dari blog-blog teman-teman. Cerita inspiratif mereka bisa ditelusuri  di linimasa twitter dan instagram dengan hastag #UsiaCantik dan #LorealDermalift

    Jika anda punya cerita tentang diri atau siapapun di usia cantik mereka, share yuk. Sekalian diikutkan dalam blog competition pada link berikut : bit.ly/usiacantik_blogcomp

    Gerakan #UsiaCantik ini sepenuhnya didukung oleh

    L'Oreal Paris Revitalift Dermalift

    Minggu, 31 Mei 2020

    #MemesonaItu seperti Mata Air

    Vitalis Body Scent

    Apa yang paling menyeramkan dari diri seseorang?

    Ketika marah, ketika berbohong, ketika kata-katanya menyakiti.

    Jangan harapkan diri tampak memesona ketika itu terjadi. Secantik apapun, sewangi apapun, semodis apapun penampilan, seseorang akan tampak seram saat tidak bisa menahan dirinya dari api dalam jiwa.

    #Memesonaitu menurut saya tidak bisa memiliki definisi terbatas bagi seorang wanita.  Bagaimana kalau kita balik alur berpikir tentang definisi memesona. Sikap seorang wanita dalam menghadapi berbagai situasi dalam hidupnya akan menunjukkan apakah dirinya mampu bersikap memesona atau tidak.

    Vitalis Body Scent

    Saya merasa memesona itu ketika berhasil meredam emosi.

    Seringkali situasi tidak bersahabat. Ketika kita berpijak pada sesuatu yang kita anggap benar, orang lain belum tentu berpikiran sama. Perdebatanpun tak terelakkan. Dari sebutir salju yang bergulir dan terus membesar. Tidak lagi terlihat indah, melainkan menyeramkan. Karenanya, ketika perdebatan tidak lagi berilmu, saling menjatuhkan, maka meninggalkan perdebatan itu sendiri akan lebih baik. Bukan soal menang atau kalah, ini soal siapa yang lebih mampu menahan diri.

    Lihat saja timeline media sosial akhir-akhir ini bikin gerah dan penuh perdebatan terbawa berbagai kasus yang terjadi di Tanah Air. Saya termasuk yang diam seribu bahasa. Saya membaca, tapi saya tidak mau terpancing debat berkepanjangan tanpa titik temu. Yang ada hanyalah saling emosi, meninggalkan sesak di dada. Tidak, saya tidak ingin terpancing hal-hal demikian.

    Rahasia saya adalah menyemprotkan Vitalis Body Scent Blossom saya arahkan ke baju dan seputaran kerudung. Satu-dua spray cukup. Aroma bunga iris, plum dan rose yang lembut dipadu dengan aroma vanilla dan musky yang elegan tercium dari butiran halus Vitalis Body Scent Blossom. Saya menarik napas dalam-dalam, dengan mata terpejam membayangkan berada pada hamparan bunga-bunga yang mekar.

    Hanya butuh 2-three menit untuk rileks. Dan emosi yang tadinya menggebu-gebu di dalam dadapun menguap. Untung belum tertuliskan kata-kata nyinyir dan sarkas yang tak hanya menyakitkan orang lain, namun juga membuat diri tidak memesona. Jadi, kali ini bisa saya katakan, memesona itu adalah menahan diri dari emosi.

    Vitalis Body Scent #MemesonaItu

    Saya merasa memesona itu ketika berhasil menyampaikan kebenaran tanpa harus menyakiti.

    Ada slogan, Mama selalu benar. Mama tahu yang terbaik buat anaknya.

    Buat saya itu belum tentu benar, namun semacam motivasi menuntut saya untuk berhati-hati dan mempertanggungjawabkan apa yang saya tanamkan pada anak.

    Oiya, satu lagi, mama itu cerewet. Itu adalah label yang saya terima dari anak-anak saya. Saya yakin bukan saya satu-satunya ibu yang dilabeli cerewet oleh anaknya.

    Dalam hubungan ibu-anak hampir sulit saya dihindarkan untuk tidak bernada tinggi ketika anak membantah, bicara bertubi-tubi ketika menasehati, dan bicara terburu-buru ketika meminta tolong sesuatu. Duh, betapa saya menjadi mama yang menyeramkan. Jauh dari kata memesona.

    Oke, fine. Sebelum menemui anak-anak, saya semprotkan dua atau lebih VitalisBody Scent Bizzare. Body Scent dengan botol berwarna ungu ini memiliki aroma unik yang membuat kita semangat. Aroma bunga violet lotus, blackcurrant, sandalwood, dan marine tercium menawan. Saya berkaca, lalu menarik sudut bibir ke samping. Saya mengubah manyun menjadi senyum.

    Ternyata, anak-anak akan lebih menurut perintah ketika saya berkata lembut. Mereka juga bisa mencerna nasehat saya ketika saya berkata pelan dan runut. Dan dengan senang hati mereka mau menolong ketika saya mengawali permintaan dengan kata ?Sayang, tolong mama ya.?

    Dan di situlah, saya merasa lebih memesona di mata anak-anak. Jadi, walaupun apa yang kita sampaikan itu adalah kata-kata yang benar, namun jika dilakukan dengan nada tinggi dan emosi, maka sikap kita jauh dari memesona. Akan lebih efektif menyampaikan kebenaran dengan sikap bersahabat nan memesona.

    Vitalis Body Scent #MemesonaItu

    Saya merasa memesona itu ketika bisa berbagi ilmu dengan kerendahan hati.

    Maaf, jujur ini yang paling berat saya lakukan. Saya sulit mengingat kembali kapan saya terhindar dari sok pintar dan tinggi hati. Karena penyakit hati ini sering ini terlakukan tanpa disadari.

    Saya cukup sering dimintai sharing tentang ilmu menulis dan blogging oleh teman-teman dalam lingkup komunitas. Bukan discussion board yang besar sih, tapi disitu memang saya menunjukkan keilmuan saya. Ketika teman-teman memuji, meminta untuk diajari dan lain sebagainya, di situ mulai rasa bangga dalam diri merasuki. Nah, jika rasa ini tidak terkendali, akan berubah menjadi sombong dan merasa pintar.

    Berbagi ilmu sangat dianjurkan, bahkan kita tidak boleh pelit ilmu. Siapa yang ingin ilmunya bertambah, maka bagilah ilmu untuk sesama. Saya memegang prinsip itu. Tidak ada rasa takut akan tersaingi kepintarannya.

    Namun jangan sampai rasa bangga ini berubah jadi kesombongan. Selalu ada langit di atas langit. Ilmu terus terbarui. Ada mereka yang lebih muda yang lebih memahami ilmu terbaru dengan disertai teknologi. Saya sadari, saya hanya punya satu kelebihan yaitu lebih tua. Tapi lebih tua bukan berarti lebih pintar. Menyadari akan hadirnya ilmu baru dan pelaku baru inilah yang Insya Allah membuat saya memiliki kerendahan hati.

    Saya bertanya-tanya, ketika aroma Vitalis Body Scent Blossom tercium oleh semilir angin yang menerpa kerudung, apakah saya merasa teralihkan dari rasa sombong, atau justru terbangkitkan dari rasa tidak percaya diri? Ya, bagaimanapun, bagian tersulit membuat diri memesona adalah menjaga hati.

    Vitalis Body Scent #MemesonaItu

    Catatan : mengenai Vitalis Body Scent yang menjadi teman memesonaku, kini tersedia dalam kemasan baru. Sebenarnya ada 6 varian Vitalis Body Scent, yaituBlossom(warna pink, campuran aroma lotus, blackcurrant, sandalwood, marine ),Bizarre(warna ungu, aroma iris, plum rose),Breeze (warna biru, campuran aroma cyclamen, lily, peach cedarwood, amber),Belle(warna hijau, perpaduan aroma rose, muguet, peach, sandalwood, melon),Blissful (warna orange, perpaduan aroma rose, peony, lemon, grapefruit, oakwood), danBless(warna merah, perpaduan aroma yasmin, dewberry, appel, freesia, gourmand). Saya memilih varian Blossom dan Bizaree sebagai favorit.

    Cerita saya di atas hanya sebagian kecil dari banyak hal-hal sederhana dan memesona yang bisa dilakukan.

    Menjadi diri yang memesona itu bisa dimulai sejak hari ini oleh siapapun.

    Kita tak harus menunggu bertahun-tahun mengumpulkan prestasi untuk bisa menjadikan diri memesona. Cukup mulai dengan berbuat baik hari ini.

    Kita tak boleh menyerah dan merasa tak memesona lagi gara-gara orang sudah mengenalmu sebagai sosok pemarah, maka mulailah hari ini untuk memesona dengan menjaga emosi.

    Kita tak harus mengumpulkan segenap pesona fisik, cantik, modis, attractive untuk tampil memesona, cukup dengan mengembangkan senyum mulai hari ini.

    Kita tak harus pandai menuliskan kata-kata inspiratif di facebook (- jika itu semua palsu), cukup dengan tidak berkomentar menyakitkan kepada orang lain.

    Kita tak perlu takut dengan usia, karena bersikap memesona itu tidak terbatas usia.

    Memesona itu ibarat menjadi mata air, yang menyejukkan, yang menebarkan kebaikan. Mulailah dari setetes air kecil, sebelum menciptakan mata air yang besar.

    Kita tak harus tahu berbagai teori tentang arti memesona itu seperti apa. Cukup lakukan.

    Vitalis Body Scent #MemesonaItu

    Sabtu, 30 Mei 2020

    Sepucuk Surat untuk Anakku, tentang menjadi Wanita dan Cita-citanya

    Dear my daughter Cinta,

    Selamat ya Nak, tahun ini kamu lulus SD. Kalau lihat tinggi badanmu, Mama sering lupa bahwa kamu baru beranjak remaja. Tinggi badanmu sudah menyamai Mama, Nak.

    Dalam secarik kertas yang kamu tuliskan pada malam perpisahan sekolah itu membuat Mama terharu. Kalimat sederhana, ucapan terimakasih untuk Mama dan Ayah. Buat Mama, secarik kertas itu adalah ?Sertifikat? Keibuan Mama. Yeay, tahun ini Mama naik kelas, dari seorang ibu dari anak-anak dan kini menjadi ibu dari seorang remaja.

    Mama deg-degan Nak, banyak yang bilang mendidik remaja itu tidak lebih mudah dari mendidik balita dan anak-anak. Walaupun remaja sudah mandiri, justru perkembangan pikirnya yang semakin mandiri menjadi tantangan bagi Mama dan Ayah untuk membimbingmu.

    Mama pada usiamu mengalami masa menjadi gadis ?Pemberontak.? Seorang remaja SMP yang mulai menyukai lawan jenis, dan mengidolakan boy band mancanegara. Banyak poster di dinding kamarnya. Penampilannya berubah drastis, menjadi tomboy dengan rambut cepak dan anting bulat besar yang sedang tren saat itu. Bersyukur gadis itu melalui masa-masa remaja dengan baik-baik saja, tidak ada kenakalan, nilai akademik nomor satu di kelas, dan akhirnya melalui jenjang-jenjang sekolah yang lebih tinggi.

    Pada masamu kini, tantangan memiliki anak remaja tampaknya lebih besar. Bukan, bukan masalah pada dirimu, bukan. Ini soal lingkungan yang semakin tanpa batas. Mama berharap bisa mendampingimu sebaik-baiknya menjalani masa remaja, hingga kelak kamu mandiri.

    Sayangku, Mama senang dengan multiperan yang bisa dijalani hingga saat ini. Bisa menjadi istri dari Ayahmu dan menjadi ibu dari kamu dan adikmu adalah anugerah yang sangat Mama syukuri. Kamu bisa membaca betapa Mama bahagia dengan keluarga kita. Kamu merasakannya juga kan?

    Begitu pula Mama menyukuri peran Mama sebagai wanita karier dan sebagai blogger. Tampaknya kamu terbiasa dengan kesibukan Mama dalam multiperan ini. Tahukah kamu, salah satu yang membuat Mama senang menjalani multi peran ini adalah untuk memberikan contoh dan motivasi kepada anak-anak Mama, bahwa menjadi wanita Indonesia sangat memungkinkan untuk berkarya sesuai keinginannya. Jadi yang kamu mau.

    Butuh waktu untuk mengenali diri ingin menjadi apa yang kamu mau. Mama dulu tidak seketika ingin menjadi seperti apa. Waktu yang kemudian menunjukkan pilihan yang harus Mama jalani. Berkarier menjadi PNS sebenarnya bukan ambisi Mama, namun berkarier di luar rumah memang menjadi cita-cita Mama. Semua itu dapat Mama jalani berkat dukungan Ayah yang one hundred% mengerti keinginan Mama.

    Mama menekuni hobi menulis sejak kamu lahir. Saking banyaknya cerita tentangmu yang ingin Mama bagi pada dunia. Dari sini Mama mulai mengembangkan diri sebagai blogger. Tak hanya tentang menulis yang mama pelajari, lebih jauh Mama belajar tentang teknik blogging, media sosial, fotografi, infografi, dan videografi sebagai penunjang tulisan Mama sebagai inti dari running a blog.

    Anakku, dari sini Mama ingin menunjukkan, bahwa untuk tahu keinginan diri ingin menjadi apa, butuh waktu dan eksplorasi, butuh belajar dan latihan, serta tempaan kritik dan masukan dari sekitarmu. Satu yang tak boleh lupa, semua usaha itu tak lepas dari doa-doa yang dipanjatkan oleh Mama dan orangtua mama. Juga atas restu Ayahmu dan guide keluarga.

    Bagaimana langkah mengenali diri ingin menjadi apa?

    Kamu boleh membuat daftar sebanyak-banyaknya dari semua hobi-hobimu. Urutkan dari yang paling kamu suka hingga yang biasa-biasa saja. Lakukan yang paling kamu suka. Lakukan terus hingga kamu bisa merasakan apakah bosan atau tidak. Sesuatu yang memang menjadi passionmu, tidak akan pernah bosan melakukannya. Bisa jeda, namun sesaat kemudian kamu akan rindu melakukannya.

    Tapi ingat, fisik dan waktumu terbatas. Kamu masih harus sekolah. Kamupun butuh istirahat dan merawat dirimu. Jadi, pilihlah satu atau dua dari yang paling ingin kamu lakukan. Sesuaikan dengan kemampuan diri dan ketersediaan waktu.

    Jangan kuatir, apabila memang sudah menjadi passionmu, kamu akan menemukan jalan dan bisa mencari waktu untuk melakukannya. Selalu ada waktu untuk passionmu.

    Sayangku, kita sama-sama wanita. Mama wanita usia matang, kamu wanita belia. Kita punya kewajiban sama, merawat tubuh untuk kesehatan diri. Merawat tubuh ini untuk kepentinganmu Nak, bukan untuk siapa-siapa. Sayangi dirimu.

    Karena apa? Untuk bisa meraih apa yang kamu cita-citakan, kamu butuh beraktifitas banyak, kamu harus sehat.

    Bagi wanita, selain tubuh secara keseluruhan, ada bagian tubuh istimewa yang harus dijaga kesehatannya, yaitu place kewanitaan atau sering disebut dengan area-V. Kamu tahu kan yang Mama maksud?

    Jika selama ini di kamar mandi selalu tersedia Lactacyd Herbal, itu bukan tanpa alasan Nak.

    Ketika kita beraktifitas sepanjang hari, misalnya Mama ke kantor, belanja, membereskan rumah atau kamu ke sekolah, les, bermain, semuanya membuat region V berkeringat. Nah, bagian tubuh yang lembab menjadi tempat yang kondusif untuk pertumbuhan jamur. Tak heran ketika kita berkeringat, bagian tubuh tertentu terasa gatal.

    Khusus vicinity V, kalau gatal tidak boleh digaruk ya, nanti bisa lecet dan terjadi infeksi. Karena itulah location V perlu dibersihkan dengan Lactacyd natural, pembersih khusus kewanitaan. Lactacyd Herbal menjaga keasaman sesuai pH alami place kewanitaan.

    Lactacyd Herbal, botol 60 ml Rp.19.800,  botol 120 ml Rp. 37.000

    Lactacyd adalah merk internasional untuk pembersih kewanitaan. Baru-baru ini ada varian baru yaitu Lactacyd Herbal. Kandungan alami Lactacyd Herbal adalah ekstrak sirih, ekstrak susu, ekstrak mawar. Bahan-bahan alami tersebut sejak lama digunakan secara tradisional oleh wanita Indonesia untuk membersihkan dan melembutkan location V. Kini, bahan-bahan alami tersebut dapat ditemukan manfaatnya dari Lactacyd Herbal.

    • Daun sirih dikenal sejak dahulu sebagai bahan pembersih area V.
    • Susu berkhasiat untuk melembutkan kulit di area V
    • Bunga Mawar memberikan keharuman tahan lama

    Tim riset Lactacyd Herbal ini telah melakukan riset konsumen pada April 2016 terhadap 162 wanita. Mereka diminta menggunakan Lactacyd Herbal sebanyak 2x sehari selama 10 hari. Hasilnya, pengguna merasakan manfaat yang lebih baik dibandingkan dengan pembersih kewanitaan lainnya. Lactacyd Herbal tidak menyebabkan iritasi walaupun digunakan setiap hari.

    Saran Mama, gunakan Lactacyd Herbal setiap mandi pagi dan sore agar region V terjaga. Dengan menggunakan Lactacyd Herbal, serta dengan usaha dan doa, kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau.

    Dear daughter,

    Kamu tidak harus seperti Mama. Kamu bisa menjadi yang kamu mau. Tak ada yang lebih Mama harapkan selain kebaikan bagi anak-anak Mama. Jangan takut menghadapi hari-harimu ke depan. Satu jenjang terlewati. Masa remaja menanti. Semoga masa remajamu indah dan bermakna.

    Jadilah yang kamu mau. Raihlah yang kamu mau.

    *****

    #HaloLactacydHerbal #JadiYangKuMau

    Kamis, 28 Mei 2020

    J . e . d . a .

    Akhir 2015,  perasaan jenuh itu mulai muncul. Saat itu saya tengah sibuk-sibuknya membereskan laporan tahunan keuangan, bertepatan dengan masa pergantian pimpinan unit, sehingga saya juga harus menyajikan pula laporan selama 5 tahun terakhir.

    Frekuensi saya dalam menulis berkurang drastis. Blogging pun sangat jarang. Apalagi ikut event-eventcomunity gathering yang seringkali diadakan di Jakarta. Rasanya energi saya tak cukup untuk melakukan hal-hal yang sesungguhnya saya sukai.

    Sampai pada titik dimana saya tidak ingin melakukan apa-apa selain JEDA. Sayangnya, jeda inipun tak bisa benar-benar saya lakukan. Rutinitas terus berjalan. Tanggung jawab pekerjaan tak tega untuk saya tinggalkan. Saya tak hanya menempatkan diri sebagai ibu di rumah, namun juga jadi "ibu" di kantor. Kalau saya tak ada, bagaimana urusan rumah tangga kantor?

    Jeda, rasanya seperti sebuah kesalahan. Lantas saya merasa tak produktif. Seringkali saya hanya menenteng leptop ke kantor, lalu membawa pulang lagi tanpa disentuh sedikitpun. Tak ayal muncul rasa iri ketika melihat foto-foto teman-teman di media sosial yang terlihat begitu aktif, traveling, seminar, workhsop, atau sekedar join up di sebuah warung kopi.

    Hingga saya menemukan quote dari Dewi "Dee" Lestari berikut ini,

    ?Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang??

    Bijak sekali Dee bisa mengartikan jeda sedemikian baik, tanpa ada buruk sangka terhadap jeda itu sendiri. Iya juga, bahkan napas pun butuh jeda. Langkah kaki pun butuh jeda. Kenapa saya enggan mengakuinya?

    Mungkin yang saya alami ini adalah fase yang wajar terjadi pada siapa pun. Ada momentum-momentum yang bisa menjadi pemicu. Yang saya rasakan kali ini, terjadi saat menjelang saya memulai hidup. Konon, hidup dimulai sejak usia forty tahun, benarkah? Banyak yang bilang begitu, berarti banyak yang mengalaminya. Satu kali saya mendengar, lupa siapa yang mengatakannya, di usia 40 tahun, jika bukan menjadi awal masa keemasan, maka akan menjadi awal kemunduran. Karena itu, berusaha sekuat tenaga mencapai goal-goal hidup di usia 40. Hm, pikiran-pikiran itu juga yang mungkin membuat saya terus merenung dan merenung, apa yang akan saya capai.

    "Awal hidup" itu terjadi bulan Juli tahun ini. Sekaligus menjawab diri sendiri, kenapa saya merasa lelah dan ingin jeda sejak dua tahun lalu. Ini adalah masa di mana saya ingin sesuatu yang berbeda.

    Saya bersyukur, saya berada dalam keramaian hati ketika melalui masa jeda tersebut. Ada suami saya yang sesekali mendengarkan curahan hati, namun seringkali sambil main game. Nggak apa-apa, saya tetap merasa didengarkan hehehe. Ada anak-anak, walaupun mereka ribut sendiri, keributannya mampu mengalihkan kekosongan pikiran saya. Ada grup chat Contestmania dan Asinan Blogger yang selalu ramai. Ada komunitas blogger yang sesekali masih mengajak saya ikut blogger accumulating, terimakasih banyak. Ada teman-teman kantor yang unik dan penuh rasa silaturahmi. Ada drama-drama unduhan yang menemani imajinasi saya. Ada berita hoax lalu lalang dan menyebalkan yang bisa saya jadikan obyek kekesalan, dibanding saya menyalahkan diri sendiri. Mereka adalah yang membuat saya beruntung bisa melalui kejenuhan dengan tidak sendiri.

    Keramaian itu membuat saya bisa melalui jeda tanpa banyak yang tahu, hanya satu dua orang sahabat yang peka yang mengetahuinya. Kalaupun kini anda tahu, karena saya telah menuliskannya. Dua tahun sesudah jeda itu sendiri dimulai.

    Tak dipungkiri, ada sejumlah nilai materi dan capaian yang terganti ketika saya jeda. Materi dan capaian yang terkira membanggakan oleh orang lain, ternyata saya mendapatkan ganti yang tak membuat saya menyesal melalui fase jeda. Sayangnya, saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.

    Jadi, sudah cukupkah saya mengambil jeda? Entahlah, karena seringkali jiwa meminta jeda tanpa kita sadari kapan waktunya. Bisa sebentar, bisa lama.

    "Jeda di antara kita adalah ruang berpikir. Untuk tetap pergi atau kembali lagi" #Katasenja - Senjamelia