Rabu, 24 Juni 2020

Kesetaraan Difabel di Institut Pertanian Bogor

Sejauh pengamatan saya 20 tahun di Institut Pertanian Bogor, di beberapa angkatan ada 1-2 orang mahasiswa difabel. Yang saya temui adalah mahasiswa difabel dengan kelainan tangan, kaki, punggung dan ada yang di kursi roda karena lumpuh. Persentase ini sangat kecil dibandingkan jumlah mahasiswa baru yang mencapai 3500 an setiap tahunnya.

Saya bekerja di Departemen Proteksi Tanaman, IPB. Di sini saya berkenalan dengan seorang mahasiswa difabel. Maaf, saya tidak boleh menyebutkan namanya karena beliau tidak berkenan disebutkan namanya.  Bukan karena tidak percaya diri, melainkan karena beliau ingin privasinya terjaga. Baiklah, sebut saja nama samarannya "Dodi".

Dodi penyandang kelainan kaki dan tangan. Kaki dan jari tangannya mengalami malformasi sejak dalam kandungan.  Dodi adalah sosok penuh percaya diri. Salut kepada orangtuanya yang memberikan support luar biasa. Dodi sudah sangat terbiasa dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan kebanyakan orang. Dodi sangat mandiri, memiliki kecerdasan yang baik. Dodi sangat pandai menggambar dan mampu mengetik di komputer. Bahkan jago programing. Dodi dulunya sekolah di sekolah reguler dan akhirnya diterima kuliah di IPB.

Seleksi IPB bagi Difabel.

Seleksi masuk IPB ada beberapa jalur yaitu Ujian Talenta Masuk (UTM), Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN), dan Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Ujian yang digunakan adalah ujian tulis.

Saya bertanya pada Dodi bagaimana dulu bisa diterima di IPB? Menurut cerita Dodi, dia mendaftar melalui jalur SNMPTN. Tidak ada yang diistimewakan dari difabilitasnya. Dalam ujian masuk IPB semua calon mahasiswa mengerjakan soal-soal yang sama, di tempat dan waktu yang sama.

Jumlah difabel yang mendaftar memang tidak banyak, karena itulah jumlah yang diterima juga tidak banyak. Padahal IPB telah menerapkan kesetaraan dalam ujian masuk. Tanpa melihat difabilitas, asalkan mampu mengerjakan soal-soal ujian, maka akan mampu bersaing dengan calon mahasiswa lainnya. Angka hasil ujianlah yang nanti akan menentukan seseorang diterima atau tidak.

Yup, kecerdasan akademik adalah parameter ujian masuk IPB dan berlaku bagi siapapun tanpa melihat fisiknya difabel atau bukan. Ini adalah wujud kesetaraan dalan seleksi.

Lalu mengapa persentase difabel sangat kecil?

Karena tidak ada statistics riset yang saya dapatkan, ijinkan saya beropini :

Jumlah persentase mahasiswa difabel sangat sedikit karena beberapa alasan berikut:

  • Masih sedikit difabel yang tahu inklusifitas dalam ujian masuk perguruan tinggi. Perlu sikap proaktif dari kedua belah pihak baik dari calon pendaftar maupun dari perguruan tinggi untuk menyosialisasikan tentang kesetaraan ini.
  • Pihak keluarga difabel berat melepaskan anaknya kuliah jauh dari keluarga karena dikuatirkan hambatan fisik akan banyak ditemui dan sulit memantau apalagi membantunya. Sebagaimana kita ketahui bahwa di Indonesia fasilitas umum kurang ramah difabel.  Dodi sendiri berasal dari Bogor, dan rumahnya tidak jauh dari kampus. Namun begitu, ada beberapa difabel lain yang berasal dari luar kota bahkan luar pulau. Nyatanya mereka mampu menjalani kuliah dan lulus sebagai sarjana.
  • Difabel yang dapat lolos ujian adalah mereka yang memiliki kecerdasan akademik, sehingga mengerucutkan kelompok difabel mana yang akan mendaftar, yaitu difabel fisik yang memiliki kecerdasan akademik. Tentu saja ini masuk akal karena untuk belajar di perguruan tinggi membutuhkan kemampuan berpikir dan intelegensia bidang ilmiah yang memadai. Seleksi akademik ini sebenarnya berlaku umum bagi siapapun, tanpa melihat difabel atau bukan.

Lingkungan IPB untuk Difabel.

Tidak ada perbedaan perlakuan bagi mahasiswa difabel. Mata kuliah yang diikuti beserta persyaratan nilai mutu kelulusan adalah sama. Difabel di IPB mengkuti perkuliahan biasa dan membaur dengan mahasiswa lainnya. Kegiatan belajar di kelas maupun fieldtrip di lapangan semua harus diikuti tanpa pengecualian.

Kampus IPB yang bertingkat dengan ruang kelas hingga level 7 adalah tantangan bagi difabel.  Untuk mencapai ruang kuliah ini tidak tersedia lift untuk orang, hanya tersedia tangga. Lift barang hanya ada di beberapa unit tertentu dan tidak diperuntukkan untuk umum.

Bagimana difabel bisa melaluinya?

Dodi bisa menaiki tangga secara mandiri. Sedangkan bagi difabel yang tidak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda, ikut di lift barang adalah solusinya. Tentunya setelah mendapatkan ijin khusus pada petugas yang berada di lift barang.  Di sini juga solidaritas teman akan diuji. Untungnya kebanyakan mahasiswa di sini mau membantu temannya yang difabel untuk dapat menuju ruang kelasnya.

Tapi dia yang difabel tidak selalu bersama-sama dengan temannya.  Dia tidak selalu ada yang mendampingi. Inilah juga yang menjadi pertanyaan saya. Sedangkan jalan-jalan di IPB tidak selalu rata, penuh kontur. Bagaimana mereka melaluinya? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhannya?

Akhrinya saya kembalikan kepercayaan pada mereka para difabel. Mereka telah sanggup bertahan hidup hingga usia kuliah. Kenapa kita mesti ragu mereka bisa melalui tantangan kampus IPB ? Bukankah di luar sana tantangan lebih banyak di temui.

Kabar gembira, saat ini IPB tengah membangun jalur untuk pejalan kaki dan sepeda agar lebih aman dan landai di sepanjang sisi jalan mobil. Pembangunan ini untuk semua warga IPB agar lebih nyaman. Dan bagi difabel pun akan mendapatkan manfaat keamanan dan kenyamanan yang sama.

Difabel itu istimewa. Keistimewaan difabel bukan pada perbedaan perlakuannya, justru pada kemampuannya menyetarakan diri pada lingkungan umum.

Seharusnya ini menjadi cermin bagi kita yang merasa "normal", kenapa tidak kita ciptakan ruang publik yang lebih ramah difabel? Seberapa kepedulian kita?

Difabel Bekerja di IPB.

Akhirnya Dodi lulus sebagai sarjana IPB beberapa tahun silam. Karena kemampuannya bidang komputer dan desain, serta sikapnya yang baik, Dodi direkrut oleh Departemen Proteksi Tanaman sebagai karyawan.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 205/1995 pasal 14 menyatakan, pengusaha wajib mempekerjakan sekurangnya satu (seorang) penyandang kecacatan (difabel) di antara one hundred karyawannya alias 1 persen. Keputusan itu pun mengacu undang-undang, hingga konvensi internasional mengenai hak asasi manusia. Di unit saya yang teridiri dari 80 karyawan, aturan ini sudah terlaksana dengn diterimanya Dodi bergabung. Namun di IPB secara keseluruhan memang belum terlaksana.

Ya, Dodi sekarang menjadi rekan kerja saya. Dalam bekerja, kesetaraanpun tetap diterapkan. Dodi mendapatkan load kerja sebagaimana karyawan umumnya. Kritik, teguran, dan masukan diterima oleh Dodi. Target-target pun dibebankan pada Dodi sesuai bidang kerjanya. Tidak ada keistimewaan perlakuan. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya menyetarakan diri (bahkan lebih berprestasi) dalam lingkungan kerja.

Ada perbedaan konseptual  antara kata difabel dan penyandang disabilitas. Difabel mengacu diri seseorang yang memiliki kemampuan berbeda dibanding orang lain pada umumnya. Sedangkan kata penyandang disabilitas mengacu pada lingkungan luar yang belum akomodatif sehingga menyebabkan seseorang disabilitas (tidak bisa). Ketika lingkungan di sekitar sudah akomodatif dan si subjek dapat berkegiatan tanpa halangan lagi, maka dia akan jadi person yang seutuhnya, tanpa embel-embel disabilitas lagi.

Akhirnya kembali lagi pada sikap kita masyarakat dalam memperlakukan difabel. Mereka juga manusia yang seutuhnya, punya berbagai potensi, kelebihan, dan kekurangan masing-masing.  Janganlah memandang mereka dari kekurangannya, mari lihat dari apa yang dapat mereka lakukan.

Harapan ke depan, agar difabel mendapatkan kesempatan yang lebih luas dan fasilitas yang memudahkan untuk menuntu ilmu setinggi-tingginya.

Referensi:

www.Ipb.Ac.Id

www.Kitasetara.Or.Identity

http://www.Kartunet.Com/difabel-atau-disabilitas-8063/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar